Kali kedua Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Pertemuan berlangsung di sebuah rumah makan di Kota Surabaya, Senin (13/2/2023) malam. Ini merupakan pertemuan kedua antara Ketua Umum DPP Partai Gerindra dengan Ketua Umum PP Muslimat NU.
Apa makna pertemuan kedua tokoh politik? Banyak tafsir. Tak mudah menentukan kira-kira tafsir politik mana yang benar dan valid. Pertemuan politik ini menandakan dinamika politik yang terus bergerak mobile di tengah menjelang hajatan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Prabowo dan Khofifah merepresentasikan komunitas sosial politik yang tak sama. Prabowo, pensiunan tentara dengan pangkat terakhir Letjen TNI (Purn) dan kini memimpin partai berhaluan Nasionalis. Basis politik Prabowo adalah kalangan komunitas Nasionalisme, terutama pensiunan TNI yang menilai Prabowo adalah tipologi pemimpin ideal di mata mereka.
Di sisi lain, Khofifah punya basis sosiologis bersifat tradisional yang kuat dan melembaga. Khofifah merepresentasikan kekuatan Islam Tradisional (NU) yang selama ini istiqomah berjuang di jalur sosial dan politik.
Khofifah terjun di ranah politik praktis sejak muda. Dia sempat bergabung di PPP, PKB, dan selanjutnya konsentrasi aktif di Muslimat NU. Di organisasi sayap NU yang mewadahi kaum ibu-ibu ini, politikus kelahiran Kota Surabaya ini dipercaya beberapa periode sebagai ketua umum.
Hajatan Pilpres 2024 bakal menjadi eksprimen politik ketiga bagi Prabowo dalam kapasitasnya sebagai calon presiden (Capres). Itu pun dengan catatan, Partai Gerindra sebagai kendaraan yang mengusung Prabowo mendapat mitra koalisi yang memenuhi syarat presidential threshold (PT) 20 persen.
Partai Gerindra telah menjalin komunikasi intensif dan kesepakatan dengan PKB, partai kaum Islam Tradisional (NU) yang dipimpin Muhaimin Iskandar. Apakah Prabowo-Muhaimin bakal menjadi pasangan capres dan cawapres? Belum ada kepastian.
Dua tokoh sentral dari kedua partai ini sama-sama ingin maju sebagai capres. Belum ada deklarasi pasangan Prabowo-Muhaimin sebagai capres dan cawapres untuk Pilpres 2024.
Letnan Jenderal TNI (Purn) H Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yang lahir pada 17 Oktober 1951, ketika terjun di Pilpres 2024 nanti boleh jadi menjadi capres tertua. Usianya menginjak 73 tahun, tepatnya menjelang 74 tahun.
Prabowo adalah seorang aging politicians. Politikus senior, politisi gaek, pemain politik tua yang masih berkiprah di ajang kontestasi politik Pilpres 2024.
Tak mudah bagi Partai Gerindra dan Prabowo untuk mencari mitra politik partai dan tokoh politik dalam satu perahu menapaki Pilpres 2024. Jika berpasangan dengan Muhaimin, ada persoalan elektabilitas politik yang mungkin tak mampu terdongkrak secara signifikan dalam tempo singkat.
Sebab, sekali pun Muhaimin beberapa kali lolos sebagai anggota DPR RI, namun politikus kelahiran Kabupaten Jombang, Jatim tersebut belum pernah terjun langsung dalam kontestasi politik seperti pemilihan gubernur (Pilgub). Kontestasi politik yang lebih mengedepankan kapasitas, akseptabilitas, dan elektabilitas individual politikus.
Dua Pasangan dengan Label Politik Berbeda
Prabowo adalah pribadi yang unik. Spirit dan langkah perjuangannya tak pernah kendor. Semangatnya luar biasa, selain tentu akses dan kapasitas ekonominya, secara pribadi, juga mumpuni.
Dia telah terjun dalam 3 kali perhelatan pilpres secara berturut-turut: 2009, 2014, dan 2019. Pilpres 2009, Prabowo sebagai cawapres berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP.
Duet ini menarik secara histori politik. Mega anak biologis dan ideologis Bung Karno. Sedang Prabowo anak Prof Sumitro dan menantu mantan Presiden Soeharto, yang diketahui pernah berseberangan dengan Bung Karno.
Sumitro, ayahanda Prabowo, secara pemikiran dan langkah politik, pernah berbeda jalan dengan Bung Karno. Sumitro dikenal sebagai pakar ekonomi yang aktif di Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan berkarib akrab dengan Sutan Syahrir: Aktivis, pemikir, tokoh, dan pimpinan PSI yang sangat dihormati.
Demikian pula Soeharto sebagai suksesor Bung Karno dinilai telah banyak mengambil langkah dan policy bersifat de-Soekarno-isme selama memegang kekuasaan selama 32 tahun rezim Orde Baru. Duet Mega-Prabowo gagal, karena dikandaskan pasangan SBY-Budiono yang diusung Partai Demokrat dan sejumlah partai lainnya.
Kontestasi politik Pilpres 2024 bisa dikatakan sebagai ajang eksperimen politik ketiga bagi Prabowo. Itu pun dengan catatan jika Prabowo masuk bursa pilpres. Terutama dalam konteks figur pasangannya sebagai cawapres.
Pada eksprimen politik pertama di Pilpres 2014, dalam posisi dan kapasitasnya sebagai capres, Prabowo berpasangan dengan Hatta Radjasa, seorang politikus Islam Modernis (Muhammadiyah) kelahiran Sumatera Selatan.

Hatta dikenal sebagai aktivis Partai Amanat Nasional (PAN), figur kepercayaan Amien Rais sebelum kedua tokoh ini pecah kongsi. Secara tak langsung, Hatta bisa dikatakan representasi kekuatan Islam Modernis dalam politik praktis Indonesia modern.
Dalam diri Hatta Radjasa juga melekat label sebagai besan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Anak kedua SBY, Ibas, menikah dengan putri sulung Hatta Radjasa, Alia. Hatta juga lama malang melintang di ranah politik nasional, baik sebagai anggota DPR RI dan beberapa kali menjabat menteri di Kabinet Mega-Hamzah, SBY-JK, dan SBY-Budiono.
Hasil Pilpres 2014 menunjukkan, pasangan Jokowi-JK leading vis a vis pasangan Prabowo-Hatta. Dari 190.307.134 suara terdaftar, dengan tingkat partisipasi pemilih sebanyak 134.953.967 suara (69,58 persen), pasangan Jokowi-JK mendapat dukungan 70.997.833 suara atau 53,15 persen. Sedang pasangan Prabowo-Hatta dengan 62.576.444 suara atau 46,85 persen suara.
Salah satu lumbung suara pasangan Jokowi-JK adalah daerah pemilihan (Dapil) Jatim. Di mana di provinsi paling ujung Timur di Pulau Jawa ini, Jokowi-JK merebut dukungan 11.669.313 suara atau 53,17 persen dibanding Prabowo-Hatta dengan 10.277.088 suara atau 46,83 persen. Perbedaan raihan suara antarkedua pasangan ini sekitar 1,5 juta untuk kemenangan Jokowi-JK.
Pilpres 2019 menjadi eksperimen politik kedua bagi Prabowo dalam konteks figur cawapres yang digandengnya. Dia berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno, seorang pengusaha muda yang sukses dan tajir.
Sandi dikenal sebagai figur profesional bisnis yang belum lama terjun di lapangan politik praktis. Pilgub DKI Jakarta menjadi test case pertama Sandi di ranah politik praktis. Dia sukses terpilih sebagai Wagub DKI Jakarta berpasangan dengan Gubernur M Anies Rasyid Baswedan.
Belum genap dua tahun menjabat Wagub DKI Jakarta, Sandi menerima pinangan Prabowo sebagai cawapres dan terjun di Pilpres 2019. Sandi merupakan pengusaha dan politikus yang memiliki jam terbang di ranah bisnis lebih lama dan dibanding di lapangan politik.
Sandi tak memiliki relasi historis, kultural, dan sosiologis dengan kekuatan ormas mana pun, baik NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan lainnya. Yang menonjol pada diri Sandi adalah figur profesional bisnis yang sukses dan tajir, kemudian terjun di ranah politik.
Duet antara Prabowo dan Sandi yang merepresentasikan banyak label: Pensiunan jenderal bintang 3 TNI dengan jabatan terakhir Pangkostrad, politikus kaum Nasionalis, pengusaha besar sukses berduet dengan businessman muda, profesional, sukses, tajir, pendidikan luar negeri (Amerika Serikat), dan tanpa relasi kuat dengan ormas mana pun. Duet ini ternyata belum mampu merebut kemenangan.
Hasil Pilpres 2019 menunjukkan, duet Jokowi-KH Ma’ruf Amin merebut dukungan 85.607.362 suara atau 55,5 persen, sedang Prabowo-Sandi dengan 68.650.239 suara atau 44,5 persen.
Ada banyak catatan politik menarik atas hasil Pilpres 2019. Di antaranya sebaran dukungan suara di Pulau Jawa, provinsi dengan jumlah konstituen terbesar.
Di provinsi Banten, duet Prabowo-Sandi menang dengan 6.597.038 (61,54 persen) dibanding Jokowi-Ma’ruf Amin dengan 4.059.514 suara (38,46). Di dapil DKI Jakarta, Jokowi-Ma’aruf Amin dengan 3.279.547 suara (51,68 persen) dibanding Prabowo-Sandi dengan 3.066.137 suara (48,32).
Selanjutnya, di dapil Jabar Jokowi-Ma’ruf Amin dengan 10.750.56 suara (40,07 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 16.077.446 suara (59,93 persen). Di dapil Jateng, Jokowi-Ma’ruf Amin dengan 16.825.511 suara (77,29 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 4.944.447 suara (22,71 persen). Dapil DI Yogyakarta, Jokowi-Ma’ruf Amin dengan 1.655.174 suara (69,03 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 742.481 suara (30,97 persen. Dan di dapil Jatim, Jokowi-Ma’ruf dengan 16.231.668 suara (65,79 persen) dan Prabowo-Sandi dengan 8.441.247 suara (34,21 persen).
Di dapil Jateng dan Jatim, tingkat perbedaan raihan suara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan Prabowo-Sandi hampir 20 juta suara. Sedangkan di tingkat nasional, tabulasi total suara perbedaan antara kedua pasangan ini sekitar 17 juta. Maknanya, dari Jateng dan Jatim raihan suara Jokowi-Ma’ruf Amin yang menghantarkan pasangan ini memenangkan Pilpres 2019 vis a vis Prabowo-Sandi.
Karena itu, menjelang Pilpres 2024 sangat logis kalau Prabowo melakukan approach politik yang intensif dengan kalangan Islam Tradisional (NU) di Jatim. Sebab, provinsi ini merupakan basis tradisional paling kuat komunitas Islam Tradisional (NU) sejak Pemilu 1955 dan sepanjang pemilu Orde Reformasi: 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019.
Sebab, komunitas Nasionalis Soekarnoisme di Jateng sepanjang pemilu demokratis menjadi kapling politik bersifat captive bagi partai berpaham Nasionalis Soekarnoisme, yakni PNI (Pemilu 1955) dan PDIP. Kekuatan politik dari komunitas Islam Modernis, Islam Tradisional, Sosialisme, dan Karya Kekaryaan kesulitan menjebol dominasi politik PNI (Pemilu 1955) dan PDIP di Jateng.
Catatan sejarah politik yang ada, pada Pemilu 1955, dapil Jateng dimenangkan PNI dengan urutan kedua PKI, posisi ketiga Partai NU, dan ranking keempat Partai Masyumi. Dari 5 kali Pemilu sepanjang Orde Reformasi (1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019), PDIP tampil leading vis a vis partai lainnya di Jateng. [air/beq]
Ainur Rohim, Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






