Lamongan (beritajatim.com) – Para eks napiter yang berada dalam binaan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan meluapkan curhatannya kepada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI)
Curhatan-curhatan itu disampaikan secara bergantian oleh sejumlah eks napiter saat Kepala BNPT RI, Komjen Ryoko Amelza Dahniel bersama Deputinya datang dan melakukan kunjungan kerja ke YLP setempat.
Agus Satrio Widodo, salah satu eks napiter asal Jombang meminta agar proses rehabilitasinya sebagai mantan teroris ditanggung atau dimulai kembali oleh Pemerintah, seperti halnya pemindahan rekan-rekan napiter lain yang masih menjalani hukuman di Nusakambangan.
Agus juga berharap, BNPT dapat membantu menghubungkannya dengan aparat pemerintah setempat, sehingga dia dan teman-temannya dapat berinteraksi kembali dengan masyarakat lainnya secara baik.
“Nasib teman-teman kita (eks napiter), yang kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah bebas banyak yang mengalami kesulitan hidup, bahkan juga mengalami kelaparan selama dua tahun. Oleh sebab itu, hal ini perlu perhatian dari BNPT,” kata Agus.

Permintaan serupa juga disampaikan oleh Joni, seorang eks napiter asal Ngawi, yang meminta agar status dirinya bisa diakui dan dilegalkan oleh negara. Dia juga meminta agar keluarga mantan teroris yang ingin bekerja sebagai pegawai atau abdi negara diperbolehkan.
“Pengakuan terhadap eks napiter secara resmi oleh negara dan pemberian kepastian hukum ini sangat penting, termasuk bagaimana masa depan kami dan keluarga nantinya,” bebernya.
Selanjutnya adalah Arvin Wibowo, seorang eks napiter asal Blitar yang memiliki usaha Bandeng Fresto. Dia meminta kepada BNPT agar membeeikan bantuan bahan baku dan modal bagi usahanya agar dapat berkembang.
Begitupun dengan Isnaini Ramdhoni, eks napiter asal Probolinggo yang menginginkan agar BNPT bisa memperbaiki perahu miliknya serta memberikan pendalaman skill dan kompetensi bidang kelautan.
Dengan begitu, perekonomian dan kesejahteraan hidup keluarganya sebagai nelayan bisa terpenuhi, termasuk akses pendidikan yang harus ditempuh oleh keluarganya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/hadiri-puncak-hkb-di-lamongan-menko-pmk-sebut-bakal-tangani-banjir-dengan-cara-ini/
Lalu Sutrisno, eks napiter asal Mojokerto yang menyebutkan ada 13 orang temannya yang ingin kembali menyatakan kesetiaan pada NKRI. Sutrisno juga menceritakan bahwa dirinya bersama temannya terus berupaya untuk menetralisir anggota lain yang masih belum tertangkap agar mau kembali ke pangkuan NKRI.
“Kami meminta bantuan soal teman-teman kami yang ingin kembali ke NKRI. Kami mohon bagaimana program deradikalisasi ini dapat dikolaborasikan dengan baik bersama BNPT RI,” tandasnya.
Menanggapi curhatan dan permintaan dari para eks napiter YLP yang berasal dari berbagai daerah ini, Kepala BNPT RI, Komjen Rycko Amelza Dahniel menjelaskan bahwa pihaknya siap membantu para eks napiter yang berkeinginan untuk membuka dan mengembangkan usahanya.
Selain itu, Komjen Rycko juga berkata, BNPT akan berkoordinasi dengan Pemkab Jombang agar memperhatikan nasib para eks napiter dan yayasan yang menaunginya, seperti yang diharapkan oleh eks napiter asal Jombang, Agus Satrio Widodo.
“Kami akan koordinasi dengan pimpinan daerah setempat terkait hal tersebut. Untuk permodalan usaha, kami juga akan kolaborasi dengan Densus di wilayah setempat dan tidak ada blacklist apabila berkeinginan menjadi TNI, Polri dan PNS. Silakan disiapkan,” jawab Komjen Rycko.
https://beritajatim.com/peristiwa/toko-di-lamongan-terbakar-nenek-lumpuh-terjebak-hingga-meninggal/
Tak cukup itu, Komjen Rycko juga menerangkan bahwa BNPT RI berencana akan memberikan pelatihan di bidang usaha dan perdagangan. Sehingga melalui pelatihan itu, nantinya bisa memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi eks napiter seluas-luasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ali Fauzi selaku pimpinan YLP mengaku bahwa yayasan yang dikelolanya itu kini telah memiliki beberapa mitra yang tersebar di beberapa daerah, seperti Surabaya, Mojokerto, Blitar dan Probolinggo.
“BNPT adalah mitra yang paling besar dalam bekerjasama mewujudkan cita-cita di Lamongan dan berupaya mewujudkan Deradikalisasi di bangsa ini,” ujar Ali Fauzi, yang juga mantan kombatan itu.
Ali Fauzi yang akrab disapa Manzi itu juga mengatakan bahwa YLP telah membuat Ma’had Tahfiz yang diperuntukkan bagi mantan kombatan dan teroris. Bahkan, biaya pendidikan di Ma’had itu pun digratiskan.
“Tahun ini kami akan membuka Tahfiz Kibar, khususnya bagi anak-anak napiter. Tidak dipungut biaya dan dananya kami ambilkan dari mitra kami, yakni para pengusaha yang ada di kawasan pantura ini,” pungkasnya. [riq/but]






