Ponorogo (beritajatim.com) – Kedatangan eks Ketua KPK Agus Rahardjo ke Kabupaten Ponorogo, untuk bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat setempat. Salah satunya adalah seniman Reog Ponorogo.
Di hadapan ketua KPK periode 2015-2019 itu, para seniman mengutarakan uneg-unegnya terkait perkembangan dan kelestarian kesenian Reog Ponorogo. Dimana perjuangan masyarakat Ponorogo untuk Reog diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ke Intangible Cultural Heritage (ICH) dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) kembali pupus.
“Ibaratnya kita berdarah-darah dalam memperjuangkan Reog untuk diakui oleh Unesco,” kata salah satu seniman Reog Ponorogo Hari Purnomo, ditulis Jumat (24/2/2023).
BACA JUGA: Mantan Ketua KPK Agus Rahardjo Maju DPD RI Wilayah Jatim
Hari atau biasa disapa Mbah Pur itu menceritakankala itu, di detik-detik terakhir pengajuan, Reog ditikung oleh jamu. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim lebih memilih mengajukan jamu untuk pengajuan warisan budaya takbenda dan didaftarkan ke Unesco. Padahal dari segi penilaian, Mbah Pur mengeklaim bahwa Reog dalam urutan pertama.
“Jadi pengajuan itu dalam satu negara hanya satu dan tidak setiap tahun. Reog harus ngatri lagi untuk didaftarkan nanti pada tahun 2025,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Ponorogo”]
Sementara itu Agus Rahardjo sangat mendukung perjuangan untuk pendaftaran itu. Sebab, setalah Ia lihat dalam pencarian internet, ternyata memang belum terdaftar. Sementara ada anglung, wayang, keris dan 2 tarian dari Bali pun sudah diakui oleh Unesco.
“Ternyata memang reog belum diakui oleh Unesco. Ini harus diperjuangkan,” kata Agus Rahardjo.
Agus bakal mencari kejelasan untuk mengurusnya seperti apa. Dia bakal mencari tahu, mungkin ke Kemendikbud Ristek. Agus ingin terkait pengajuan Reog oleh Unesco ini, memang harus diurus bersama. Sebab, kesenian Reog merupakan warisan budaya yang harus dijaga bersama.
“Mari kita urus sama-sama, karena ini memang warisan budaya kita. Salah jika Malaysia mengeklaimnya, karena Reog memang milik Indonesia,” pungkasnya. [end/beq]






