Surabaya (beritajatim.com) – Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama pernah berkata, penyandang disabilitas berhak mendapatkan kesempatan untuk membangun kehidupan mereka sendiri di komunitas yang mereka pilih untuk hidup.
Jauh sebelum itu, seorang penulis bernama Shane E. Bryan yang menderita Dystonia (kondisi medis berupa gerakan otot yang muncul secara tidak sadar) menegaskan, bahwa dirinya masih memiliki bakat, meski ada kekurangan.
“Saya tidak cacat, saya punya bakat! Orang lain mungkin melihatnya sebagai disabilitas, tetapi saya melihatnya sebagai tantangan. Tantangan ini adalah anugerah, karena saya harus menjadi lebih kuat untuk menyiasatinya, dan lebih pintar untuk memikirkan cara menggunakannya; yang lain seharusnya seberuntung itu.”
Stigma negatif terhadap para difabel masih saja muncul hingga saat ini. Hanya karena mereka berbeda, seolah kesempatan untuk berusaha seperti hilang. Banyak orang yang masih memandang disabilitas dari keterbatasan yang mereka miliki. Jika dia tunanetra, pasti yang dilihat ketidakmampuan mereka untuk melihat. Jika dia tuli, maka yang dilihat pasti ketidakmampuan mereka untuk mendengar.
Padahal di balik itu semua, mereka punya keistimewaan yang bisa memotivasi kita untuk selalu semangat bangkit menjalani hidup ini. Seperti tagline yang disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa untuk tahun 2022 ini adalah ‘Optimis Jatim Bangkit’.
Semangat bangkit itu ditangkap beritajatim.com saat mengunjungi UMKM Tiara Handicraft di Jalan Sidosermo Indah II/5 Surabaya pada pertengahan September 2022. Ini dalam rangka Lomba Karya Tulis Wartawan (LKTW) Pemprov Jatim untuk memperingati Hari Jadi ke-77 Provinsi Jatim pada 12 Oktober 2022. Tema LKTW kali ini adalah ‘Pemulihan dan Kebangkitan Sektor Pariwisata dan UMKM Jawa Timur’.
***
Selasa siang, 13 September 2022, tiga wanita dan seorang pria muda duduk di belakang mesin jahit di sebuah rumah yang dirombak menjadi workshop UMKM Tiara Handicraft. Gerakan mereka tampak cekatan. Sesekali mengambil bahan yang sudah berpola. Menjahitnya, hingga mulai terlihat bentuknya, tas jinjing.
Semua dikerjakan dengan tangan. Bantuan mesin hanya dipakai untuk menjahit. Hasilnya cukup rapi, meski para pekerja ini adalah penyandang disabilitas. Kualitasnya pun tak kalah.
Seorang perempuan paruh baya tampak mengawasi pekerjaan mereka. Sesekali, dia ambil hasil masing-masing orang. Tak jarang, dia meminta seorang pekerja untuk berhenti beraktivitas sementara. Dia butuh waktu sejenak untuk memastikan hasil kerja mereka cukup baik. Jika dirasa kurang baik, dia langsung beritahu pembuatnya untuk melakukan pembenahan. Cukup rinci, hingga si pekerja benar-benar paham apa yang perlu diperbaiki. Perempuan itu adalah Titik Winarti, pemilik Tiara Handicraft.

Titik membagi kisah bagaimana awal mula menggeluti UKM kerajinan tas kain dan produk tekstil lainnya. Semua tahapan dia jalani bukan dengan mudah. Titik juga mengalami jatuh bangun membangun usaha tersebut. Tetapi, menyerah bukanlah pilihan yang dia ambil. Bahkan kata ‘menyerah’ seolah terhapus dalam kamus hidupnya.
Semua berawal pada 1995, dari perasaan bingung mengisi waktu luang. Tak mau berlarat-larat, Titik memutuskan mengumpulkan barang bekas. Dia rajin mendatangi pasar loak untuk mencari barang-barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Setelah terkumpul, dia alihfungsikan barang-barang itu.
“Jadi, usaha saya awalnya adalah alih fungsi bahan daur ulang. Seperti tempat selai yang sudah tidak terpakai kemudian dialihfungsikan menjadi tempat permen setelah dihias terlebih dahulu,” kata Titik.
Pelan-pelan, usaha itu berjalan. Lahirlah brand Tiara Handicraft. Dengan brand itu, Titik memasarkan produk-produknya. Nyatanya, banyak yang suka. Titik jadi bersemangat melanjutkan usaha alih fungsi barang bekas jadi siap pakai tersebut.
Usaha itu ternyata mampu menarik minat warga sekitar. Setelah satu tahun memproduksi barang-barang kerajinan, Titik mulai memasukkan unsur tekstil di dalamnya. Hasil produksinya jadi makin cantik. Respon pasar pelan-pelan muncul, bahkan dari luar Surabaya.
“Di tahun pertama saya masih kerja sendiri, baru ketika pesanan sudah mulai banyak saya akhirnya dibantu oleh dua karyawan yang berasal dari ibu-ibu PKK. Saya juga mulai mencari pasar di luar Surabaya. Ketika saya ke Bali, saya mampir ke sejumlah department store dan menawarkan produk Tiara Handicraft,” jelasnya.
***
Dua tahun berjalan, usahanya goyah. Hantaman krisis moneter benar-benar membuat Tiara Handicraft hampir lumpuh. Titik pun bingung. Penyebabnya bukan karena pesanan yang anjlok namun karyawan yang tidak kembali bekerja.
Saat itu, Titik sudah mampu mempekerjakan karyawan bahkan dari luar Surabaya. Saat krisis moneter, banyak karyawan yang memilih pulang kampung dan tidak kembali.
Persoalan lain yang juga membayangi, adalah masalah finansial. Dia benar-benar kehabisan modal untuk bisa melanjutkan usahanya. Alhasil, Tiara Handicraft sempat vakum produksi. Titik pun sempat merasa dalam kondisi terpuruk.
Tetapi, Titik tak mau berlama-lama dalam keterpurukan. Setiap fakta yang pernah dijumpai dia jadikan bahan belajar. Terus mengasah diri untuk bangkit dan kembali berdiri. Rasa takut akan kembali jatuh pun telah hilang. Malah, Titik menjadikan kejatuhan sebagai bahan pelajaran. Jadi, bukan belajar bangkit namun belajar jatuh.
“Sebenarnya krismon tidak terlalu berpengaruh karena pesanan tetap ada. Karena karyawan tidak ada yang kembali, saya sempat memutuskan untuk menutup Tiara Handicraft. Ketika itulah datang sejumlah difabel yang dulu sempat ‘magang’. Mereka menawarkan diri untuk membantu,” jelasnya.
Titik sempat tak yakin dengan kemampuan mereka. Segera, perasaan itu dia tepis dan memberikan kesempatan kepada dua difabel untuk membantunya mengerjakan pesanan. Meski begitu, keraguan untuk melanjutkan usaha atau tidak masih membayangi Titik. Di sisi lain, dia tidak berani memberhentikan dua karyawan difabelnya.
“Akhirnya saya terpikir untuk memberi tugas yang berat kepada mereka, yang saya pikir tidak akan bisa mereka kerjakan. Misalnya membuat payet. Ternyata, semua tugas yang saya berikan selalu bisa dikerjakan oleh mereka. Hingga akhirnya saya sadar, bahwa mereka ini diberikan oleh Allah untuk membantu tetapi kenapa saya tidak mau menerima?” ungkapnya.
Pelan tapi pasti, Tiara Handicraft semakin maju. Pangsa pasarnya terus meluas hingga ke negeri manca. Brasil menjadi negara pertama tujuan ekspor produk Tiara Handicraft. Momentum kebangkitan dengan melibatkan pekerja disabilitas ini dirasakan Titik saat 2004, ketika menerima penghargaan dari PBB di Newyork, Amerika Serikat. Ekspos media bertubi-tubi membantu publik mengenal produk-produk Tiara Handicraft ini.
[berita-terkait number=”5″ tag=”difabel”]
“Ekspor ke Brasil itu terjadi secara tidak sengaja, ketika tengah mempromosikan produk Tiara di Bandara Ngurah Rai Bali, ada turis yang melihat barang tersebut. Dia suka dan kemudian meminta saya untuk membuat tas hari itu juga. Saya sempat panik, karena saya kan tidak pernah terlibat proses produksi. Akhirnya, saya penuhi permintaan itu dan saya bilang tas ini tidak maksimal, karena tidak pakai peralatan yang biasa saya pakai. ‘Bagaimana kalau saya pulang dulu ke Surabaya dan saya buat lalu kalau sudah jadi langsung saya kirim ke Anda’,” cerita Titik.
Turis itu setuju dan puas dengan tas buatan Titik. Dia pun memesan tas yang dibuat dari bahan tekstil tanpa lem itu. Pada 2002, produk Tiara Handicraft mulai mendunia. Setelah Brasil, tas buatan para difabel itu juga diekspor ke Spanyol.
Karena sudah mulai banyak permintaan dari luar negeri, Titik pun menambah jumlah karyawan. Dia putuskan untuk mengajak para difabel. Titik sempat mempekerjakan hingga 70 karyawan difabel dan mengontrakkan rumah bagi pekerjanya.
“Mereka sudah bisa memproduksi barang-barang handicraft seperti taplak meja, tutup botol, alas tisu, tas, dan ketika saya membuka unit baru yaitu sablon, mereka juga bisa membuat kaos oblong,” jelasnya.
Dengan modal awal Rp500 ribu pada 1995, kini Tiara Handicraft memiliki omzet Rp 25-30 juta per bulan. Selama hampir 27 tahun, Titik memberdayakan kelompok difabel. Di mata Titik, para difabel ini punya kelebihan tersendiri.
“Ketika masih mempekerjakan karyawan normal, saya harus turun tangan untuk memberitahu mereka satu per satu. Sedangkan karyawan difabel ternyata lebih mandiri. Mereka yang sudah bisa langsung mengajari temannya yang belum bisa, sampai akhirnya bisa. Itu yang membuat saya tidak terlibat lagi dalam hal mengajari teknik-teknik produksi,” jelasnya.
Dengan bantuan karyawan difabel itulah, Tiara Handicraft kini mendunia. Saat ini, Tiara Handicraft sudah melahirkan 800 orang lebih alumni dan sebagian dari mereka sudah ada yang membuka usaha sendiri. Ya, berkat pelatihan dan pengalaman selama bekerja bersama Titik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”UMKM”]
“Memang ada yang tipikal pengusaha, ada tipikal pekerja dan ada tipikal pengikut. Tidak semuanya menjadi pengusaha. Paling tidak, kami sudah membuka wawasan bahwa mereka bisa melatih dirinya sendiri, memiliki kesempatan yang sama, tahu kemampuannya dan bisa menawarkan hasil kerajinannya ke orang lain,” tuturnya.
***
Pandemi Covid-19 turut memberi dampak pada usaha Titik. Dalam kondisi mulai pulih saat ini, ada dua negara bagian Amerika Serikat yang masih bertahan menjadi tujuan ekspor produk UMKM Tiara Handicraft. Tas-tas itu kini ‘pelesiran’ ke Virginia dan Connecticut.
“Mereka pesannya per session atau event. Mereka di sana juga pedagang dan memiliki toko. Setiap session mereka menjual produk-produk baru. Produk Tiara Handicraft selalu mengikuti perkembangan, hingga miliki market dan kualitas tersendiri. Omzetnya memang tidak banyak, tapi tetap bertahan di kondisi pandemi Covid-19,” tegasnya.
Penerima Lencana Jer Besuki Mawa Bea pada Oktober 2021 dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini punya prinsip, bahwa hidup harus bisa memberi manfaat bagi orang lain. Prinsip itulah yang dia terapkan dalam membangun Tiara Handicraft.
“Tiara Handicraft ini dari bukan sesuatu, yang saya mulai dari satu hobi mengisi waktu luang hingga menjadi industri, dan bisa diterima keluarga, suami dan anak-anak saya, itu hal yang besar, bukan dari segi bisnisnya. Melainkan, apa yang saya lakukan itu membuat orang di sekitar saya senang, apalagi bagi teman-teman disabilitas. Harus bermanfaat hidup ini bagi orang lain,” jelasnya.
Kini, Titik lebih sering berperan sebagai pengawasa. Usahanya kini sudah dikelola anak pertamanya. Dia pun mengaku, Covid-19 menimbulkan penurunan omzet. Bahkan akibat pandemi, Tiara Handicraft hanya mempekerjakan 10 orang difabel.
“Memang ada penurunan omzet saat pandemi Covid-19. Saat ini kami masih mempekerjakan sekitar 10 orang penyandang disabilitas. Ada yang dikerjakan di rumahnya sendiri dan workshop di sini. Kami juga melakukan digital marketing, dengan menjual di beberapa market place seperti Shopee dan Tokopedia. Ada juga melalui situs belanja online milik Pemkot Surabaya atau e-Peken,” tuturnya.
Titik berharap kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya agar memperluas kesempatan serta akses bagi para penyandang disabilitas untuk berkiprah. Dia menilai, mereka punya hak yang sama untuk berusaha.
“Setelah saya menerima penghargaan lencana Jer Basuki Mawa Beya tahun 2021, ada perhatian dari Bu Gubernur Khofifah untuk meningkatkan kemampuan digital computer kita. Kami dapat bantuan alat komputer untuk bordir. Kami sedang mengajari teman-teman untuk mengoperasikan bordir komputer tersebut. Kami percaya kemampuan mereka para difabel,” ujarnya.
***
Ahmadi Lulusan Tiara Handicraft
Ketua DPR RI, Puan Maharani sangat mengapresiasi tas produksi penyandang disabilitas saat berkunjung ke Pasar Tambahrejo Surabaya pada awal Maret 2022.
Saat di Pasar Tambahrejo, Puan berkeliling dari satu sudut pasar ke sudut lainnya. Saat akan bergeser, Puan dihampiri Ahmadi, seorang perajin tas. “Ini tas kreasi kami, Bu,” ujar Ahmadi, yang merupakan penyandang disabilitas kepada Puan Maharani.
Puan langsung berhenti dan menyimak dengan penuh seksama penjelasan penyandang disabilitas tersebut. Ahmadi berasal dari kelompok Tiara Handicraft, sebuah gerakan pemberdayaan untuk para penyandang disabilitas dan anak-anak putus sekolah.
Ahmadi menyodorkan sejumlah tas hasil kreasinya. Bermotif batik, tas karya Ahmadi memiliki beragam jenis dan ukuran serta pilihan warnanya pun beragam.
Puan tampak takjub dengan karya para penyandang disabilitas tersebut. Semangat pantang menyerah pada keadaan membuat Puan kagum. “Bagus-bagus semuanya,” kata cucu Proklamator RI dan Presiden Pertama Ir Soekarno (Bung Karno) ini.
Senyum Ahmadi terpancar dari wajahnya, meski tertutup masker. Ia bahagia karyanya diapresiasi perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR tersebut.
Ahmadi berniat menghadiahkan tas tersebut kepada Puan, namun Puan ingin membelinya. Puan lalu menyerahkan sejumlah uang untuk memborong empat tas karya para penyandang disabilitas tersebut.
“Keren-keren tasnya. Semangat terus berkarya ya Pak,” kata Puan kepada Ahmadi.
Ahmadi sendiri adalah alumni dari Tiara Handicraft, yang gencar memberdayakan penyandang disabilitas. Tiara Handicraft dirintis sejak 1995 dengan mendaur ulang botol-botol bekas. Pada 1997, Tiara Handicraft mulai mengembangkan produksi tas dan suvenir berbahan dasar kain.
“Sejak saat itu, Tiara fokus memberdayakan penyandang disabilitas. Sampai saat ini kami sudah memberdayakan, melatih hingga mandiri lebih dari 800 orang penyandang disabilitas,” ujar Titik Winarti, pimpinan Tiara Handicraft setelah bertemu Puan Maharani.
Ahmadi sendiri bergabung di Tiara Handicraft sejak 2005. Ia memulai semuanya dari nol. Ahmadi menggunakan mesin jahit hasil modifikasi, menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya. “Yang paling susah adalah adaptasi mesin jahit,” kata Ahmadi bercerita.
Di tengah keterbatasan, Ahmadi pantang menyerah. Tak hanya belajar teknik menjahit serta produksi tas, Ahmadi juga mempelajari berbagai aspek manajemen usaha. “Saya ingin mandiri, jadi pengusaha,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemprov-jatim”]
Ia kemudian mempelajari soal manajemen, marketting, tren desain, sampai humas. Semua aspek itu dinilai Ahmadi bisa menunjang usahanya. Setelah dirasa cukup mampu, Ahmadi lantas mendirikan ‘Kanta Craft’. “Sejak tahun 2013, saya berwirausaha mandiri,” katanya.
Berbagai jenis dan ukuran tas telah dia kerjakan. “Tak semuanya langsung bagus. Kadang-kadang desain muncul dari kesalahan. Saya berpikir keras agar bahan yang salah dijahit tidak terbuang, sehingga tetap bisa diselesaikan dan dipasarkan,” kata Ahmadi.
Soal pilihan nama, yaitu ‘Kanta’, ternyata memiliki arti lensa. Tentu saja diiringi harapan agar karya-karya ini bisa menjadi sarana untuk melihat betapa sebenarnya para penyandang disabilitas tidak mau berpangku tangan dan terus bekerja tanpa lelah dalam memperbaiki kehidupan.
“Saya senang dan bersyukur bisa bertemu Ibu Puan Maharani. Bangga sekali tas bikinan kami diapresiasi beliau, dan nantinya semoga beliau berkenan memakai,” pungkas Ahmadi bangga.
Gubernur Khofifah Dapat Penghargaan
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mendapat Penghargaan Jasa Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kategori Pejabat Negara dari Kementerian Koperasi dan UKM RI.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki kepada Khofifah Indar Parawansa yang diwakili Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur, Andromeda Qomariah, dalam acara puncak Hari UMKM Nasional Tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM di Pelataran Cihampelas Walk Bandung, pertengahan bulan lalu.
Tanda jasa itu merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Khofifah dianggap berperan aktif dalam mensukseskan pembinaan dan pengembangan Koperasi dan UKM di Jawa Timur.
Atas penghargaan ini, Khofifah menyampaikan terima kasihnya. Secara khusus ia bahkan mendedikasikan penghargaan ini untuk seluruh pelaku gerakan koperasi dan UMKM di Jatim.
“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi hadiah di Hari UMKM Nasional bagi para pelaku UMKM dan koperasi serta seluruh pihak yang telah bahu membahu dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM di Jawa Timur. Saya sampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen dan dedikasi semua pihak,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Lebih lanjut ia menegaskan, penghargaan ini tidak dapat dicapai tanpa dukungan semua pihak. Menurutnya, hexahelix collaboration antara pemerintah, dunia bisnis, komunitas, perguruan tinggi, media, dan sektor keuangan adalah kunci dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM Jawa Timur.
Selain Khofifah, penerima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Jawa Timur yaitu Nur Arifin Bupati Kabupaten Trenggalek, Pantjaningsih Sri Redjeki Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang, serta Subianto Ketua Umum KUD Subur Kabupaten Kediri. Ini menjadi bukti bahwa sinergi dan kolaborasi telah dilakukan dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM di Jawa Timur.
Lebih lanjut, upaya aktif Khofifah dan sinergi berbagai pihak itu terbukti meningkatkan kontribusi koperasi dan UMKM terhadap ekonomi Jawa Timur. Pada tahun 2021, Koperasi UMKM Jatim memberikan kontribusi sebesar 57,81 persen terhadap PDRB Jatim, setara dengan Rp1.418,94 triliun.
Capaian tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kondisi di tahun 2020 yang mencapai Rp1.361,39 triliun dengan kontribusi sebesar 57,25 persen dengan jumlah koperasi aktif saat ini sebanyak 22.970 unit. Hal ini menandakan bahwa koperasi dan UMKM menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur.
“Dalam mendukung pemberdayaan koperasi UMKM, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjalankan berbagai program dengan pendekatan lima aspek pemberdayaan, yaitu penguatan kelembagaan dan SDM, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pembiayaan serta pemasaran,” tegasnya.
Untuk akselerasi pemasaran produk dan mendorong digitalisasi koperasi UMKM, ditegaskan Khofifah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menggandeng sejumlah platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Gojek, dan Grab. Bahkan, sudah ada Kampus UMKM Shopee Ekspor yang ada di UPT Pelatihan Koperasi dan UKM yang bertempat di Malang.
“Semoga penghargaan ini dapat semakin menyemangati kita bersama, Koperasi dan UMKM di Jawa Timur untuk bisa terus maju berkembang dan sejahtera masyarakatnya,” tukasnya.
UMKM Jatim Siap Ikuti G20 di Bali
Ketua Dekranasda Jatim, Arumi Bachsin Dardak mengatakan, para pelaku UMKM di Jatim siap mengikuti presidensi G20 Oktober mendatang di Bali.
Pesan itu disampaikan saat dirinya menjadi pembicara bertema ‘Global Economic Development Strategi Towards G20 In Indonesia’ bagi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus Surabaya, Kamis (8/9/2022).
Arumi mengatakan, presidensi G20 menjadi ajang yang sangat penting bagi pelaku UMKM. Mereka bisa memperkenalkan sekaligus ajang promosi berbagai macam produk yang akan dijual kepada peserta G20. “Event dunia yang dihadiri tamu-tamu luar negeri. Ini merupakan kesempatan mereka untuk mempromosikan produknya,” kata Arumi.
Menurut dia, perkembangan pelaku UMKM di Jatim berjalan cukup baik. Apalagi, penyumbang PDRB Provinsi Jatim sebanyak 60 persen berasal dari UMKM. Hal ini semakin meyakinkan dirinya bahwa pelaku UMKM di Jatim bisa berkontribusi dan meningkatkan kualitas produknya.
“Saya berharap pelaku UMKM mempersiapkan diri mengikuti presidensi G20 Oktober mendatang. Acara tersebut juga menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan produk-produknya,” tuturnya.
Sejauh ini, lanjut Arumi, Pemprov Jatim sudah memberikan wadah pendampingan dan pelatihan bagi 9,7 juta pelaku UMKM di Jatim. Mereka diberi pelatihan dan pendampingan melalui kerja sama Dekranasda Jatim dan beberapa lembaga pelatihan milik Pemprov Jatim.
“Kemudian ada Millenial Job Center (MJC) yang tersebar di lima Bakorwil yang kerja sama dengan universitas dan talent anak SMA. Bagi pelaku UMKM, mereka dibimbing cara membuat logo, brand market, packaging sampai pada business plan untuk UMKM,” jelasnya.
Meski dinilai berkembang, Arumi tetap mengingatkan pelaku UMKM dalam mempersiapkan diri mengikuti presidensi G20 adalah stok barang yang mencukupi dan melek teknologi.
“Penting untuk memperhatikan kedua poin tersebut. Pertama, menyoal stok barang. Ketika permintaan buyer cukup besar namun stok barang menipis, akan menurunkan kepercayaan pembeli. Banyak buyer beli, tapi ketersediaan tidak ada. Hal ini harus diperhatikan,” katanya.
Kedua, standarisasi kualitas produk yang dijual. Arumi menekankan agar pelaku UMKM benar-benar menyiapkan standarisasi kualitas barang yang baik. Sehingga, meminimalisir kekecewaan pembeli. Sebab, kata Arumi, tanggung jawab setiap brand akan mempengaruhi brand lainnya. “Memori itu menjadi benchmark untuk UMKM lainnya. Satu dengan yang lain punya satu tanggung jawab,” tandasnya.
Selain membahas peluang pelaku UMKM di ajang G20, Arumi juga berbagi ilmu kepada mahasiswa maupun mahasiswi yang memiliki passion untuk menjadi pelaku UMKM.
Dia menjelaskan, bahwa cukup banyak problem atau kendala yang dialami pelaku UMKM pemula yang hendak mempromosikan produk-produknya. Hal yang paling banyak dikeluhkan adalah modal.
Bagi Arumi, orang bisnis atau orang yang ingin membuka usaha memang dibutuhkan modal. Namun, zaman sudah semakin maju. Perkembangan teknologi juga semakin pesat. Kondisi jual beli berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalian yang merasa minder karena kurang modal, manfaatkan media sosial. Di situ kalian bermain untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk,” ujarnya.
Arumi juga mengakui, bahwa memiliki modal lebih memang akan memudahkan. Namun, dengan minimnya uang dan modal, bukan berarti menyerah untuk memulai usaha. Bahkan, mereka yang sebagian besar masih berusia muda, cenderung terlalu keras dengan passion serta cara pandang dalam memulai bisnis.
Baginya, hal itu tidak baik karena akan menjebak mereka kemudian timbul ego, karena tidak bisa melihat segmen atau kebutuhan pasar. “Dalam setiap usaha pasti ada jatuh bangunnya. Lakukan, kemudian analisis. Bekerja dengan cinta dan passion saja nggak cukup, tapi juga perlu melihat realitas,” tegasnya.
Lebih lanjut, Arumi mengatakan bahwa pelaku usaha muda harus memiliki target, konsep dan sasaran yang jelas sebelum memulai bisnis di sektor makanan, minuman, fashion dan lainnya.
“Penting sekali untuk melihat hal-hal tersebut dan juga lakukan riset terlebih dahulu agar kalian bisa mengetahui segmen pasar yang hendak dituju,” tuturnya.
UMKM Perlu Standarisasi Mutu dan Sertifikasi Halal
Sementara itu, Komisi B DPRD Jatim yang membidangi perekonomian mendorong UMKM di Jatim segera memenuhi standarisasi mutu. Selain itu, juga perlu mengurus sertifikasi halal. Ini karena akan ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 2024. Komisi B berharap pemerintah provinsi dan kabupaten/kota melakukan sosialisasi yang masif kepada pelaku UMKM di daerah.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Mahdi ketika dikonfirmasi beritajatim.com, Kamis (22/9/2022). Seperti diketahui, sebagai provinsi besar, Jatim juga tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terbanyak di Indonesia. Saat ini ada sekitar 9,7 juta pelaku UMKM di Jawa Timur.
“Sosialisasi menjadi yang utama untuk memberi pencerahan kepada pelaku UMKM tentang pentingnya standarisasi mutu dan sertifikasi halal. Saya berharap dana desa bisa digunakan untuk sosialisasi kepada pelaku UMKM yang ada di desa-desa. Biasanya UMKM yang bekerja sama dengan perusahaan, diminta dua hal itu. Yakni, sertifikasi halal dan standarisasi mutu,” kata Mahdi.
Mahdi juga berharap ada bantuan modal dari pemerintah untuk UMKM di Jatim. “Sekarang mereka para pelaku UMKM ini lagi bangkit usai pandemi Covid-19 melandai. Mereka perlu sentuhan dari pemerintah, terutama soal modal. Selama pandemi kemarin dua tahun lebih, mereka tidak bisa beraktivitas dan penghasilan tidak ada. Mau pinjam modal ke bank lagi juga nggak bisa, karena masih punya tanggungan. Ini harus segera dicarikan solusi,” tegas wakil rakyat dari PPP ini.
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Agus Dono Wibawanto juga menyoroti regulasi sertifikasi halal yang harus dimiliki oleh pelaku UMKM di tahun 2024. Kewajiban itu berlaku, terutama pada pelaku UMKM di sektor makanan minuman (mamin) dan kosmetik.
Karena itu, anggota Fraksi Partai Demokrat itu mendorong agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ada di setiap kabupaten/kota di Jatim. Dengan begitu, pelaku UMKM tak perlu datang ke Surabaya untuk mengurus sertifikasi halal.
“Saya sejak dulu mengimbau agar BPOM tidak hanya ada di ibukota provinsi, tapi juga ada di ibukota kabupaten/kota atau pemda tingkat dua. Paling tidak, ada perwakilan di tingkat Bakorwil. Ini untuk mempermudah pelaku UMKM,” ujar Agus.
Agus juga telah turun ke lapangan dan menemukan beberapa fakta. Para pelaku UMKM ini membutuhkan modal kerja dan akses pemasaran dari pemerintah. “Saya selama 12 tahun telah bergelut bersama UMKM. Jadi, saya tahu betul apa yang diinginkan mereka. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan UMKM ini. Oleh karena itu, saya membentuk Gerakan Koperasi UMKM di Malang Raya, dapil saya. Para UMKM ini harus membentuk koperasi, jika ingin mendapatkan KUR dan dana bergulir dari pemerintah. Ini karena UMKM kan perorangan, mereka harus bersatu membentuk koperasi agar kuat permodalannya,” tukasnya.
Indonesia, khususnya Jatim dan Surabaya butuh orang seperti Titik Winarti-Titik Winarti lain. Titik mampu membuka lapangan pekerjaan. Lebih-lebih Titik mampu memberdayakan kawan-kawan penyandang disabilitas untuk menjalankan pekerjaan sebagai pelaku UMKM dan membesarkan Tiara Handicraft.
Hebatnya lagi, Titik mampu ‘mengkaderisasi’ sekitar 800 orang kaum difabel yang menjadi alumni dan sebagian membuka usaha sendiri. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Semoga kita semua bisa bermanfaat bagi orang lain. (tok/beq)

















