Mimika (beritajatim.com) – Suhu udara di guest house tempat kami menginap di Tembagapura mencapai 24 derajat celsius. Kami bersiap-siap melakukan perjalanan ke Grasberg tempat eksplorasi pertambangan tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di ketinggian 4.300 meter diatas permukaan laut (mdpl) yang fenomenal itu.
Perjalanan ke Grasberg memakan waktu sekitar 2 jam menggunakan bus cuti, atau bus kerinduan bagi pekerja proyek pertambangan.
Dengan oksigen yang tipis, setiap pengunjung disarankan mengenakan jaket, sarung tangan dan sal. Sensasinya menuju ke Grasberg pengunjung menggunakan bus cuti warna oranye anti peluru dengan membutuhkan waktu 45 menit, lalu disambung dengan trem gantung selama 10 menit.
Sebelum ke Grasberg, petugas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) Puja Asaputri selaku Safety Practioner memberikan pengarahan mengenai kondisi di Grasberg. Perempuan lincah itu, dengan detail menjelaskan bagaimana kondisi alam di atas bukit Grasberg.
“Bila merasa pening atau sesak nafas segera memberi kode. Petugas kami akan mendampingi lalu memberikan pengobatan medis di klinik kesehatan,” ujarnya, Rabu (11/06/2023).
Tidak gampang mengunjungi area Grasberg. Setiap pengunjung harus mengikuti prosedur yang berlaku untuk keamanan, dan keselamatan di lokasi tambang yang memiliki kedalaman 1.000 meter serta diatas ketinggian 4.300 mdpl.
Pertama harus menjalani tes kesehatan dulu. Sebelum naik keatas tubuh harus benar-benar fit. Pasalnya, di area tambang Grasberg oksigennya sangat tipis. Bisa dibayangkan bila tidak fit kita bisa tersengal-sengal bernafas karena tipisnya oksigen diatas sana.
Kedua, wajib menggunakan alat keselamatan yang standar yaitu helm, sepatu boot, rompi, dan kaos tangan. Setelah semua perlengkapan dikenakan, kami naik bus ke area penambangan untuk selanjutnya menggunakan kereta gantung yang tingkat kemiringannya hingga 45 derajat.
“Merinding juga naik kereta gantung diatas ketinggian 3.200 mdpl,” ujar Raditya Firmansyah jurnalis asal Gresik.
Seperti diketahui, eksplorasi tambang di Grasberg stop beroperasi sejak tahun 2020. Ini karena bukan tidak ada lagi mineral yang ditambang. Tapi lebih mementingkan dari sisi safety. Reklamasi pun dilakukan dengan melakukan penghijauan penyelamatan lingkungan.
“Jika sudah tidak beroperasi kami memfokuskan pada penghijauan. Langkah ini diambil supaya tidak terjadi longsor. Kami juga mengontrol aliran bekas tambang ke bawah supaya tidak ada lagi kandungan yang terbawa,” ujar Egi Oktavian karyawan PTFI.
Sebelum operasionalnya ditutup. Pertambangan Grasberg pernah menghasilkan 1 juta ton ore (biji besi) perhari pada tahun 2018. Jumlah tersebut tergolong tertinggi dibanding eksplorasi sebelumnya.
Usai menempuh perjalanan selama 10 menit dengan kereta gantung. Kami berjalan kaki ke lokasi penambangan Grasberg menyaksikan proses penambangan biji besi (ore) yang lokasinya berada 3.200 mdpl di bawah tanah. Dari area tambang ini bisa digali 50 ribu ton ore untuk menghasilkan tembaga.
Dari jumlah itu, 60% hasil tambangnya diekspor dalam bentuk mentah. Sisanya, 40% diproses di smelter Freeport Indonesia di Gresik. Saat ini PTFI merupakan industri tambang terbesar. Hasil tambang dari Papua itu diekspor ke berbagai negara.
Sesuai menyaksikan proses produksi penambangan yang dijaga ketat oleh polisi bersenjata, kami menyempatkan diri mampir sholat di masjid terdalam di Indonesia. Yakni Masjid Baabul Munawar yang berdiri sejak tahun 2015. Masjid yang bisa menampung 300 jamaah itu. dikhususkan bagi pekerja tambang yang hendak menjalankan ibadah sholat meski sedang melakukan eksplorasi
Selain berdiri masjid juga ada Gereja Oikumene Soteria yang bangunannya bersebelahan. Ini bukti kebhinekaan karyawan PTFI di area tambang tidak ada kendala. Meski berasal dari suku dan agama yang berbeda.
Setelah berkeliling selama 2 jam lebih di area underground Grasberg. Seperti biasa kami turun ke guest house di Tembagapura dengan menggunakan bus anti peluru. Jalan berkelok dengan turunan yang tajam membuat kepala sedikit pusing, dan terasa mual. Namun, mendekati tempat geust house rasa lelah itu hilang. Pengalaman berharga mendaki ke Grasberg bagi penulis sangat sensasional meski harus melalui jalan yang sedikit ekstrim. [dny/kun]
BACA JUGA: Blusukan Melihat Freeport Papua dan Sensasi Naik Bus Anti Peluru






