Ekbis

Pasar Ibu Kota Terganggu Karena PSBB, Peternak Ikan Kediri Mengeluh

Kediri (beritajatim.com) – Sekelompok warga di Desa Mojosari, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri menekuni usaha perikanan. Mereka membudidayakan ikan air tawar jenis hias dan konsumsi dengan pasar penjualan hingga menembus Ibu Kota Jakarta.

Para peternak tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan atau Pokdakan Cupangsari. Anggotanya sekitar 20 orang warga. Mereka memanfaatkan pekarangan kosong di sekitar rumah untuk usaha perikanan tersebut. Selain kolam permanen, warga juga menggunakan kolam semi permanen dari terpal.

Ketua Pokdakan Cupangsari Mahmud mengaku, usaha perikanan mengalami pasang surut. Maka untuk mensiasatinya, kelompok ini membudidayakan ikan dari dua jenis yakni ikan hias dan ikan konsumsi.

“Kalau dulu, produksi awal ikan cupang. Kemudian beralih menjadi ikan konsumsi. Sekarang ikan cupang lagi,” kata Mahmud.

Mahmud menjadi salah satu penggagas lahirnya Pokdakan Cupangsari. Pria yang telah menggeluti usaha perikanan selama puluhan tahun itu mengaku, awalnya kelompok ini hanya beranggotakan 10 orang. Lambat laun usaha tersebut berkembang. Bersamaan dengan itu, jumlah anggota kelompok bertambah menjadi 20 orang.

“Kelompok ini awalya 10 orang, lalu berkembang 20 orang. Kemudian saat ini disarankan oleh dinas 10 orang saja. Maka kita bentuk dua kelompok. Kini dalam proses pembentukan kelompok baru,” imbuh Mahmud.

Perkembangan usaha perikanan yang ditekuni oleh Pokdakan Cupangsari ini telah dilirik oleh pemerintah. Terbukti, mereka berhasil menerima bantuan hibah pakan dan benih. Menurut catatan Mahmud, setidaknya sudah ada dua kali menerima kucuran bantuan.

“Empat bulan lalu kita dapat hibah dari pemerintah bibit lele 30 ribu dan pakan 87 sak. Dan 3 tahun lalu kita dapat bibit cupang 300 ribu, ” imbuh Mahmud dengan rasa bangga. Tak heran apabila kelompok ini berkembang baik dari sisi jumlah anggota maupun produktifitas perikanan yang dihasilakan.

Mahmud mengaku, dari 5 buah kolam ikan yang dikelola, dapat menghasilakan 1 ton ikan patih selama kurun waktu budidaya 3-6 bulan. “Dua kolam sudah dikeluarkan (panen), sedangkan tiga kolam lainnya masih,” imbuhnya.

Sayangnya produktifitas yang dihasilkan, kata Mahmud, tak sebanding dengan harga pasar. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, ikan dihargai sangat murah. Padahal, disisi lain harga pakan terus mengalami penaikan.

“Ikan patin hanya dihargai Rp 13 ribu. Bahkan, milik saya sempat ditawar hanya 10 ribu saja. Kalau jenis ikan lele, masih bertahan walaupun tidak banyak. Sekarang ini yang jatuh hanya gurami. Tetapi kini mulai merangkak naik,” katanya.

Kebijakan PSBB yang diberlakukan oleh sejumlah daerah termasuk Jakarta pada masa pandemi Covid-19 menjadi faktor utama jatuhnya harga ikan di Kediri. Arus distribusi ikan tersendat. Padahal, Ibu Kota Jakarta menjadi salah satu pasar terbesar, selain kota-kota lain di Indonesia.

Akibat dari kebijakan PSBB tersebut, produksi ikan Kediri hanya dijual pada pasar lokal dengan harga yang relatif rendah. Peternak tidak dapat berbuat banyak dalam menentukan harga di tataran lokal. Bagi mereka, hasil panen harus segera diterima pasar, agar tidak jatuh pada kerugian yang lebih besar.

Mahmud berharap, pemerintah terus mendampingi peternak agar usaha perikanan di Kediri semakin jaya. Untuk kalangan pembudidaya ikan hias, mereka membutuhkan peningkatan kualitas SDM melalui berbagai pelatihan. Sedangkan untuk pembudidaya ikan konsumsi yang dibutuhkan adalah tambahan modal usaha melalui sistem perkreditan yang lunak agar tak jatuh pada rentenir. [nm/ted].



Apa Reaksi Anda?

Komentar