Sidoarjo (beritajatim.com) – Racikan secangkir kopi umumnya ampas atau letek ada dibawah permukaan air panas yang diseduh, tapi tidak untuk racikan kopi dalam cangkir di Warung Mbok Mik. Minuman kopi yang disajikan ke penikmat kopi atau pembeli di pojokan Desa Jatikalang Kec. Prambon itu ampas kopinya mumbul ke atas dan juga sebagian turun kebawah.
Air kopi yang berada di tengah itu menjadikan cita rasa kopi Mbok Mik berbeda atau lain daripada yang lain, dan membuat pembelinya ketagihan.
Rasa kopi Warung Mbok Mik, dari dahulu kala sampai generasi ketiga saat ini, masih digandrungi Prambon dan lainnya. Pembelinya tak sedikit yang sengaja datang jauh-jauh dari luar Prambon karena ketagihan dengan rasa kopi kental Warung Mbok Mik.
Nuril Huda (30) putra pasangan Suwari dengan Sukarti (anak perempuan Mbok Mik), mensyukuri masih bisa meneruskan Warung Mbok Mik, yang masih menjadi jujukan banyak orang. Mulai dari kakek-kakek, anak muda atau remaja.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kopi”]
Ia mengaku, hampir setiap hari tidak ada sepinya orang membeli kopi. Kalau pagi, kalangan pekerja banyak yang minum di tempat, dan tak sedikit pula yang membungkus. “Ramainya pembeli, saat pagi hari, sore hari dan habis maghrib. Motor bisa berjumlah ratusan. Ada yang datang bawa motor sendiri dan banyak juga boncengan,” katanya Senin (23/1/2023).
Cucu Mbok Mik itu menceritakan, setiap harinya, kopi yang dihabiskan dalam melayani pembeli kopi sekitar 25 kilogram. Jika pagi hari juga ada tambahan sajian makanan jenis polo pendem. Seperti pohong, ubi-ubian, tales dan lainnya. “Tidak sampai siang, makanan polo pendem sudah habis,” imbuhnya.
Karena banyak pembeli, sambung dia, tempat yang dijadikan duduk maupun cangkruk, juga semakian meluas. Jika dulu hanya warung dan depan sekitar warung yang ditempati, kini ada 3 rumah yang dijadikan tempat untuk melayani konsumen yang buka sesudah subuh sampai tutup pukul 24.00 WIB tersebut.
“Selain dalam warung beserta terasnya rumah saya juga dibuka untuk duduk pembeli. Sebelah utara itu rumah Laili kakak kandung saya dan sisi utaranya lagi rumah Paman Njoto kakaknya ibu. Dan banyak juga yang duduk memilih pinggir sepanjang kali depan warung,” jelas Nuril.
Belakangan, masih menurut Nuril, jumlah gula yang dihabiskan menurun dari 30 kilogram setiap hari. Karena pelanggan kalangan muda sekarang cenderung suka kopi pahit seharga Rp 4 ribu, atau dengan gula sedikit, maupun kopi susu tanpa gula seharga Rp 5 ribu.
“Alhamdulillah setiap hari, pelanggan masih setia dan semakin bertambah. Para orang tua yang mau ke sawah, masih mampir untuk minum kopi, para pekerja banyak yang sistem bungkus, dan kalangan muda yang betah cangkruk, juga sering bawa teman lainnya belum pernah datang ke Warung Mbok Mik sampai jadi pelanggan setia,” imbuhnya dengan bersyukur.
Nuril bersama keluarga juga tak henti-hentinya mensyukuri larisnya warung neneknya. Menikmati secangkir kopi Mbok Mik masih terus menjadi bagian dari gaya hidup.
Kendati saat ini, kedai kopi semakin menjamur, pelanggan tidak ada yang berpaling. Selain menjaga citarasa kopi yang proses buatnya tradisional dengan ditumbuk, pelayanan yang baik kepada semua pembeli, terus dijaganya tanpa ada batasan.
“Jika ada orang Prambon tidak tahu dan belum tahu rasa kopi khas Warung Mbok Mik, berarti orang tersebut ‘duline kurang adoh mas, (orang itu mainnya kurang jauh,” celetuk Agus salah satu pelanggan setia Warung Mbok Mik. (isa/kun)






