Sampang (beritajatim.com) – Petani garam di Kabupaten Sampang mulai mengeluhkan harga garam yang anjlok. Maka dari itu mereka terpaksa menimbun stok garam.
Hingga memasuki pertengahan November 2023, petani garam yang ada di Kabupaten Sampang, terus memproduksi garam dan memanfaatkan musim kemarau panjang.
“Kita memanfaatkan musim kemarau ini untuk terus berproduksi garam,” ujar Mashudi, pemilik lahan garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Kabupaten Sampang, Minggu (12/11/2023).
Pria yang akrab disapa Hudi ini menjelaskan, meski saat ini harga garam turus anjlok karena garam melimpah. Ia tidak terpengaruh untuk menghentikan produksi garam. Sebab, targetnya bukan untuk dijual saat ini melainkan menunggu saat musim hujan tiba atau garam mulai langka.
BACA JUGA:Ponpes Baitul Quran Al Jahra Magetan Undang Wali Santri
“Kalau dipaksa dijual sekarang tentunya sangat murah, tetapi kalau kita jual saat garam langka pasti mahal,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, ia mulai menimbun garam dan membuat gudang seadanya. Supaya bisa menampung garam hingga saat garam mulai langka dan siap dijual.
“Saat ini kita produksi garam untuk ditimbun dan menunggu harga garam tinggi lalu kita jual,” ujarnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sukron pemilik lahan garam yang ada di Desa Disanah, Kecamatan Sreseh,Kabupaten Sampang. Menurutnya, petani harus bersabar dan jangan menjual garam saat garam melimpah.
“Kuncinya petani harus bersabar menunggu saat harga garam nanti tinggi,” pungkasnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya. Harga garam di tingkat petani dengan kemasan sak warna biru isi 50 Kg berkisar antara Rp 80 ribu. Padahal, pada awal musim kemarau kemarin harga garam dengan berat 50 Kg bisa mencapai Rp 300 ribu. (Sar/Aje)






