Gresik (beritajatim.com) – Kelompok ibu rumah tangga di Desa Randu Agung, Kecamatan Kebomas, Gresik, menunjukkan kreativitas luar biasa. Emak-emak ini berhasil mengubah sampah organik menjadi bahan utama untuk produksi hair tonic (penyubur rambut).
Inovasi yang dihasilkan oleh ibu rumah tangga ini tidak hanya efektif dalam mengatasi permasalahan sampah organik, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan sekitar. Melalui metode ini, lingkungan tetap terjaga kebersihannya, sementara masyarakat di sekitar mendapatkan manfaat ekonomis tambahan.
Seorang ibu rumah tangga bernama Endang (46) dari Desa Randu Agung menjelaskan bahwa masalah limbah rumah tangga yang seringkali mengotori lingkungan akhirnya bisa diatasi. Tumpukan sampah, lalat, dan bau tidak sedap yang biasanya timbul akibat sampah rumah tangga sudah tidak lagi ditemui.
“Dengan rasa syukur, lingkungan menjadi lebih bersih. Warga juga semakin antusias dalam mengolah sampah organik, terutama sisa makanan seperti buah dan sayur untuk membuat eco enzyme,” ujarnya pada Selasa (15/8/2023).
Endang menambahkan bahwa selain manfaat tersebut, biaya belanja untuk kebutuhan rumah tangga juga semakin terkendali. Tidak perlu lagi membeli sabun cair, pembersih lantai, deterjen, insektisida, anti-ketombe, dan bahkan pupuk tanaman.
“Kami merasa bersyukur karena tidak hanya menciptakan kerukunan di antara warga, tapi juga membantu menjaga kebersihan lingkungan dan menghemat pengeluaran,” ungkap Endang.
BACA JUGA:
Petrokimia Gresik Resmi Teken Perpanjangan HoA Pasokan Gas Bumi dengan Krisenergy Ltd
Sementara itu, Ketua Yayasan Relawan Eco Enzym Indonesia (REEI) Gresik, Tatik Erawati, menyatakan bahwa pengelolaan sampah organik, khususnya sisa makanan, dapat secara efektif mengurangi pencemaran akibat limbah sampah serta mendorong terwujudnya konsep pemukiman Zero Waste (Bebas Sampah).
“Harapan kami adalah agar masyarakat bisa mandiri dalam mengolah sampah organik rumah tangga untuk menciptakan berbagai produk bermanfaat dan sekaligus meraih penghasilan tambahan,” ujarnya.
Tatik Erawati juga menjelaskan salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan membuat eco enzyme dari hasil fermentasi sampah organik atau sisa makanan rumah tangga seperti sayur dan buah. Cairan hasil fermentasi ini bisa dijadikan enzim untuk berbagai keperluan, seperti pembersih rumah, pupuk, dan pestisida alami.
“Keistimewaan eco enzyme begitu beragam, termasuk sebagai bahan dasar pembuatan sabun, antiseptik, pembersih buah dan sayur, penangkal serangga, dan bahkan hair tonic penyubur rambut,” tambahnya.
BACA JUGA:
Emak-emak Muda Gresik Kampanye Kebersihan Sungai Brantas
Tatik Erawati juga menjelaskan bahwa proses pembuatan eco enzyme sangatlah sederhana. Bahan-bahan yang dibutuhkan mudah ditemukan di rumah, seperti gula (tetes tebu), sisa sayur atau kulit buah, dan air dengan perbandingan tertentu. Proses fermentasi berlangsung sekitar tiga bulan, ditandai dengan perubahan posisi limbah yang turun ke bagian dasar dan aroma fermentasi yang khas. Setelah itu, eco enzyme disaring dan siap digunakan untuk berbagai keperluan.
Dengan membuat eco enzyme di rumah, kita bisa menghemat pengeluaran bulanan, terutama untuk pembelian sabun dan bahan pembersih lainnya seperti pembersih lantai, deterjen, insektisida, dan anti-ketombe.
“Tersedia kesempatan bagi warga yang ingin belajar mengolah sampah organik. Eco enzyme tidak hanya mengurangi pencemaran limbah, tetapi juga membantu mewujudkan pemukiman Zero Waste,” pungkasnya. [dny/beq]






