Surabaya (beritajatim.com) – Temuan mikroplastik pada darah dan ketuban seorang perempuan di Gresik mendorong Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mendesak pemerintah untuk mendorong perlindungan generasi muda, khususnya Gen Z, dari ancaman bahaya mikroplastik. Desakan ini disampaikan seiring berlangsungnya perundingan International Negotiating Committee (INC) 5.2 di Jenewa, Swiss, yang membahas pengurangan produksi plastik dan pemantauan berkala keberadaan mikroplastik di lingkungan, seafood, dan tubuh manusia.
Kekhawatiran tersebut mencuat mengingat belum adanya titik temu dalam pembahasan Global Plastic Treaty. Rafika Aprilianti, alumni Biologi UIN Malang sekaligus aktivis ECOTON, menuliskan surat terbuka kepada kepala delegasi Indonesia di INC 5.2.
“Konsumsi mikroplastik meningkatkan risiko kanker, gangguan pernapasan, penyakit usus, serta infertilitas pada pria dan wanita. Mikroplastik juga diketahui memicu peradangan—yang merupakan kondisi awal dari kanker—dan kemungkinan mengganggu kerja antibiotik,” ujar Rafika, Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, satu-satunya solusi adalah mengurangi produksi plastik dan melakukan monitoring terhadap keberadaan mikroplastik di alam. Ia juga menekankan perlunya aturan global yang mengikat secara hukum terkait bahan kimia tambahan dalam pembuatan kemasan makanan berbahan plastik.
“Kita butuh aturan global yang mengikat secara hukum tentang bahan-bahan kimia tambahan dalam proses pembuatan produk packaging makanan dari plastik seperti BPA, Phtalat, dan PFAS yang mencemari lingkungan dan kesehatan manusia. Ketiga bahan ini harus dilarang dan dicantumkan dalam produk plastik agar masyarakat lebih waspada,” tegasnya. [beq]






