Ponorogo (beritajatim.com) – Durian adalah rajanya buah. Meski kulitnya berduri tajam serta bau yang menyengat namun digemari banyak orang meski ada sebagian yang tak kuat mencium baunya.
Bagi yang pernah memakannya, tidak berlebihan jika menasbihkan durian adalah rajanya buah. Di Kabupaten Ponorogo, ada wilayah yang menjadi sentra penghasil buah durian terbesar di Bumi Reog.
Lokasi tepatnya di Kecamatan Ngebel. Letak geografisnya yang berada di lereng Gunung Wilis, kawasan subur untuk beragam jenis tanaman, khususnya durian.
Bahkan di Kecamatan Ngebel juga dibudidayakan varietas unggul lokal dengan nama Durian Kanjeng. Varietas Durian Kanjeng ini sudah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian pada tahun 2012 lalu.
“Durian Kanjeng ini merupakan varietas buah lokal asli Ngebel. Varietas ini juga sudah kita daftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian pada 2012 lalu,’’ kata Ketua Kelompok Tani Karang Asri Desa Ngrogung Kecamatan Ngebel, Bambang Subagyo, Kamis (16/02/2023).
Tak tanggung-tanggung, untuk membudidayakan Durian Kanjeng, kelompok tani Karang Asri sampai membuat perkebunan tersentral khusus. Luas lahannya mencapai 15 hektar.
Seiring berjalannya waktu, kebun itu dikembangkan untuk pariwisata. Sehingga kelompok tani Karang Asri membranding tempatnya itu dengan nama Kampung Wisata Durian.
Pengamatan beritajatim.com, di tempat tersebut pengunjung bisa menikmati durian segar yang baru saja jatuh dari pohonnya. Durian bisa dinikmati pada saung-saung yang telah disediakan tepat di tengah kebun.
Dipadu dengan pemandangan alam yang asri, pengunjung bisa puas menyantap durian varietas asli Ngebel.
“Saung-saung ini ya dibuat supaya pengunjung yang berada di Kampung Wisata Durian merasa nyaman dalam menyantap buah durian. Mereka juga dapat bonus pemandangan alam yang masih asri khas pegunungan,’’ katanya.
Budidaya Durian Kanjeng ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Yang terpenting, kata Bambang, di lahan yang akan ditanami itu ketersedian airnya cukup. Dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun perawatan mulai tanam hingga pohon Durian Kanjeng berbuah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”durian”]
Tentu diperlukan ketelatenan dan kesabaran dalam proses perawatan. Mulai dari pembenihan, penanaman dan pemeliharaannya hingga pohon durian berbuah.
Pemupukan dan pengairan harus rutin. Ini agar hasil yang didapat bisa maksimal.

Durian Kanjeng pernah dinobatkan sebagai juara 1 lomba durian se-Jawa Timur. Dengan prestasi tersebut, para petani Durian Kanjeng di Ngebel mendapatkan bantuan pembenihan Rp150 juta dari Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian.
‘’Durian Kanjeng ini juga pernah juara 1 dalam kontes buah durian se-Jawa Timur. Dengan prestasi tersebut, kita juga mendapatkan bantuan pembenihan dari Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian,’’ katanya.
Durian Kanjeng asli Ngebel ini mempunyai kekhasan tersendiri dari segi bentuk buah dan cita rasa. Daging buah Durian Kanjeng ini berwarna kuning dengan tekstur tebal, keset, tanpa serat.
Rasa dagingnya cukup manis legit, dengan sensasi pahit di akhir. Keunggulannya, daging buah Durian Kanjeng tidak lengket.
‘’Durian Kanjeng ini mempunyai cita rasa yang khas yang membedakan dengan buah durian dari daerah-daerah lain. Rasanya itu manis legit, namun ada sedikit rasa pahitnya,’’ ungkap mantan kepala Desa Ngrogung tersebut.
Untuk pohon Durian Kanjeng yang sudah besar, Bambang mengklaim setiap tahunnya bisa berbuah sekitar maksimal 500 buah. Dengan berat durian per biji rata-rata di kisaran 2,5 hingga 3 kilogram.
Dengan produksi buah yang sebanyak itu, petani durian di Kecamatan Ngebel bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp25 juta per pohon saat musim panen.
‘’Satu pohon yang sudah besar itu, kalau normal produksi buahnya bisa mencapai ratusan buah. Dengan keuntungan bisa puluhan juta,’’ katanya.
Dari kekhasan Durian Kanjeng ini, warga di Kecamatan Ngebel sudah mulai membudidayakannya. Namun, dalam pertumbuhannya, merawat Durian Kanjeng juga berarti tidak mengalami kendala.
Penyakit pun juga bisa menyerang pohon durian ini. Untuk tanaman durian, yang bahaya ialah jika terserang kanker batang. Ada warna bercak hitam dan basah di batang.
Kalau itu tidak segera diatasi, maka batang akan mati. Sebab saat di permukaan mungkin bercaknya masih 10 centimeter, namun jika batang itu dikelupas, di dalam bercak itu bisa sudah menyebar sekitar 50 centimeter.
‘’Makanya untuk menangani penyakit itu, maka batang itu kita kupas, kita kasih obat dan ditutup dengan kapas. Itu paling bahaya,’’ katanya.
Sementara untuk buah ancamannya adalah lalat buah. Biasanya lalat buah itu bertelur di kulit dan jadi ulat.
Nah, kalau dibiarkan ulat, tersebut bisa memakan buahnya itu. Untuk mencegahnya, petani harus menyemprotkan insektisida satu per satu.
‘’Kalau pohonnya sudah besar, ya harus dipanjat. Obat insektisida itu dimasukkan dalam alat penyemprotan burung yang kecil itu. Kan itu bisa mencapai 4 meter,’’ katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”durian”]
Kendala lainnya yang paling menyesakkan adalah gagal panen. Biasanya kegagalan panen ini dipengaruhi oleh cuaca. Sangat kecil kegagalan yang disebabkan oleh pengabaian perawatan. Menurut Bambang, jika pohon itu dipupuk maksimal 2 tahun saja, buahnya masih bisa stabil. Dengan catatan, pupuk yang digunakan untuk bisa bertahan selama 2 tahun adalah pupuk kompos.
‘’Ya kalau pemupukan 2 tahun sekali itu, kalau pupuknya kompos ya masih bisa berbuahnya stabil,’’ katanya.
Dalam tiga tahun terakhir produksi durian di Kecamatan Ngebel saat panen raya seperti ini menurun drastis. Bambang memperkirakan jika penurunan produksi saat panen raya hingga mencapai 70 persen. Hal itu lantaran tingginya curah hujan yang turun di Kecamatan Ngebel dan hampir setiap hari. Curah hujan itulah yang lambat laun merontokan bunga yang akan jadi durian.
‘’Jika selama tiga hari berturut-turut turun hujan, bunga itu pasti akan rontok. Itulah yang menjadikan gagal panen dan itu sudah terjadi tiga tahun terakhir. Produksinya tidak maksimal,’’ pungkasnya.[end/ted]






