Mojokerto (beritajatim.com) – Dari yang semula hanya 20 ekor kambing, kini Setia Kawan Farm yang berlokasi di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, menjelma menjadi salah satu peternakan modern dengan kapasitas hingga 1.200 ekor domba dan kambing. Sejak berdiri pada 2023, peternakan ini berkembang pesat berkat fokus pada pengembangan genetik unggul melalui pemeliharaan dan persilangan hewan ternak impor.
Jenis yang dikembangkan antara lain Domba Dorper Fullblood asal Afrika Selatan dan Kambing Boer asal Australia. Dorper dikenal bertubuh padat dan panjang dengan ciri khas bulu putih serta kepala hitam, sementara Boer memiliki tubuh besar, dada lebar, pertumbuhan cepat, serta kualitas daging yang baik. Kedua jenis ini dipilih karena keunggulannya dalam produktivitas, efisiensi ekonomi, serta daya adaptasi terhadap pakan lokal.
“Kenapa kami memilih domba Dorper dan kambing Boer? Karena keduanya punya kualitas genetik yang sangat bagus. Pertumbuhan mereka cepat, produktivitas tinggi, dan kualitas dagingnya premium, tanpa bau prengus yang biasanya dikeluhkan konsumen. Tujuan kami adalah memperbaiki kualitas genetik kambing dan domba lokal agar hasil ternak semakin maksimal,” jelas Penanggungjawab Pengelola Setia Kawan Farm, Fardan Setia Alamsyah, Rabu (19/8/2025).
Dari Mojokerto untuk Indonesia
Dalam pengembangannya, Setia Kawan Farm tidak hanya memelihara fullblood impor, tetapi juga melakukan persilangan dengan domba dan kambing lokal. Strategi ini dilakukan untuk menghasilkan bibit unggul yang lebih adaptif terhadap lingkungan Indonesia sekaligus menjaga produktivitas daging.
Hasil persilangan tersebut diminati banyak peternak dari berbagai daerah. Harga anakan persilangan dipatok Rp2 juta sampai Rp3 juta per ekor, sedangkan jenis fullblood bisa mencapai Rp20 juta sampai Rp25 juta per ekor. Dalam sebulan, farm ini mampu mendistribusikan antara 500 hingga 1.000 ekor ternak ke mitra-mitranya.
“Alhamdulillah, permintaan tidak hanya datang dari Mojokerto atau Jawa Timur, tetapi juga dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Lampung, Jawa Tengah hingga Bali. Banyak mitra yang mempercayakan pengembangan breeding maupun penggemukan kepada kami. Kalau sementara ini kita melayani market-market lokal,” tambahnya.
Menurutnya jika nanti ada permintaan ke luar negeri atau memang ada potensi maka pihaknya akan menyambut baik hal tersebut. Pihaknya juga membuka peluang kerjasama dengan pemerintah baik daerah, provinsi maupun pusat untuk bisa ekspor ke luar negeri. Namun, tegasnya, tujuan awal adalah membantu ketahanan pangan nasional.
“Kebutuhan akan domba dan kambing lokal melonjak menjelang momentum Hari Raya Idul Adha, ketika permintaan hewan ternak pedaging mencapai puncaknya. Di Setia Kawan Farm ini adalah sistem bermitra dengan semua peternak-peternak ataupun para BUMDes-BUMDes,” katanya.
Kandang Modern dan Sistem Breeding Terpadu
Setia Kawan Farm saat ini memiliki dua kandang utama, yaitu kandang fullblood berukuran 24 x 80 meter serta area persilangan seluas 5 hektare. Lahan seluas itu juga dimanfaatkan sebagai area hijauan pakan untuk menopang kebutuhan ternak. Populasi ternak yang ada didominasi 85 persen indukan betina dan 15 persen pejantan.
Untuk menjaga keberlangsungan populasi, farm ini menerapkan sistem breeding yang ketat. Anakan baru dilepas ke mitra minimal pada usia 4 sampai 5 bulan, ketika sudah lepas sapih (proses pemhentian pemberian air susu induk). Dengan sistem ini, kualitas bibit tetap terjaga dan memberikan hasil maksimal bagi mitra peternak.
Selain menjual bibit dan ternak pedaging, Setia Kawan Farm juga melayani kebutuhan pakan melalui produksi konsentrat sendiri. unsur-unsur dari konsentrat tersebut juga berasal dari bahan-bahan pertanian sehingga tujuan akhir program ketahanan pangan tersebut bisa saling berkolaborasi.
Semua dari sumber bahan pakan tersebut dikelola sendiri dan diukur dengan standarisasi nilai-nilai nutrisi yang memang diperlukan dan dibutuhkan oleh ternak. Konsentrat tersebut diracik dari bahan pertanian lokal dengan kadar protein kasar sekitar 18 persen, sehingga lebih efisien dari sisi harga sekaligus mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
“Kami memang tidak hanya fokus pada ternaknya saja, tapi juga menyediakan konsentrat pakan. Semua bahan berasal dari hasil pertanian lokal. Jadi, program ini bukan hanya soal peternakan, tapi juga bagian dari ketahanan pangan yang melibatkan sektor pertanian. Dengan begitu, ada kolaborasi dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Kontribusi pada Program Ketahanan Pangan
Fardan menegaskan, keberadaan Setia Kawan Farm juga sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam program ketahanan pangan. Dengan sistem kemitraan bersama peternak lokal maupun badan usaha milik desa (BUMDes), farm ini berupaya memastikan bahwa hasil ternaknya tidak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi dapat tersebar ke masyarakat luas.
“Visi kami adalah mendukung pemerintah, mulai dari tingkat daerah hingga pusat, agar program ketahanan pangan bisa benar-benar terwujud. Kami siap menjalin kolaborasi, baik untuk kebutuhan lokal, regional, hingga ke depan bila ada peluang ekspor,” katanya.
Dengan kualitas genetik unggul, sistem breeding terkontrol, serta dukungan pakan mandiri, Setia Kawan Farm menargetkan dapat menjadi percontohan peternakan modern di Indonesia. Selain visi utama membantu program pemerintah dalam ketahanan pangan dalam bidang peternakan kambing dan domba.
“Kami siap membuka diri jika ada masyarakat, mahasiswa, atau calon mitra yang ingin berkunjung, belajar, bahkan bermitra. Harapan kami, Setia Kawan Farm bisa menjadi model bagaimana peternakan modern berkontribusi nyata dalam ketahanan pangan nasional,” paparnya. [tin/ian]






