Jember (beritajatim.com) – Cendekiawan Yudi Latif memberikan kuliah umum tentang Pancasila di kampus Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, 19-20 Februari 2025. Ia menyarankan Pancasila diajarkan dosen kepada mahasiswa secara visual.
“Mahasiswa saat ini merupakan generasi visual. Berbagai peristiwa di dunia atau bahkan film-film dapat dijadikan bahan pembelajaran di kelas untuk memberikan gambaran yang lebih nyata bagi mereka,” kata Yudi, di hadapan para dosen para Unej pengampu Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU), di Aula Gedung Soedjarwo, Kamis (20/2/2025).
Yudi mencontohkan film-film Holywood yang menampilkan nilai-nilai bangsa Amerika. “Bahkan di Vietnam, Amerika kalah perang, tapi menang fi film,” katanya.
Mantan kepala pelaksana Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini menegaskan posisi Pancasila sebagai nilai titik temu dari seluruh ajaran agama, kearifan lokal, dan gagasan-gagasan humanisme internasional.
Nilai-nilai Pancasila mampu mempertemukan keberagaman dan menyatukannya dalam satu bingkai kebangsaan dan menjadi titik tumpu maupun titik tuju. Pancasila menjadi titik tuju arah bangsa Indonesia sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kedua.
Sebagai titik temu, lanjut Yudi, Pancasila dijadikan titik tumpu dasar dalam merumuskan ideologi, sehingga disebut sebagai norma dasar. “Pancasila bukan hanya pedoman normatif, tetapi juga menjadi arah yang jelas bagi perjalanan bangsa,” katanya.
Yudi menegaskan pentingnya konsistensi. “Apabila kita konsisten, kita akan mencapai harapan kemerdekaan kita,” kata penulis sejumlah buku tentang Pancasila ini.
Ada dua faktor yang harus dimanfaatkan untuk membangun rantai nilai pertumbuhan bangsa dalam mengaktualisasikan Pancasila, yakni faktor inherit dan human capital.
Faktor inherit adalah kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. “Indonesia telah dikaruniai kekayaan yang luar biasa sejak lahir. Mulai dari geografi, geologi, hayati, mineral, Indonesia punya semua, yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan bangsa,” kata Yudi.
Kekayaan alam ini ditopang posisi Indonesia yang menjadi pertemuan episentrum dunia. Menurut Yudi, lalu lintas perdagangannya memiliki pengaruh signifikan bagi dunia.
Sementara itu, faktor human capital terkait kualitas sumber daya manusia dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Di sini penanaman nilai-nilai kebangsaan di kalangan mahasiswa melalui paparan para dosen di dalam kelas memegang perang penting, sehingga generasi penerus tidak hanya unggul secara akademik tapi juga memiliki nasionalisme yang kuat.
Hari pertama, Rabu (19/2/2025) sore, Yudi memberikan kuliah umum bertema “Pancasila Titik Tumpu, Titik Temu, dan Titik Tuju Kita” yang dihadiri para mahasiswa. Hari berikutnya, Yudi memberikan kuliah umum bertema “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila di Perguruan Tinggi”. [wir]






