Malang (beritajatim.com) – Dua guru besar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dikukuhkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd. berharap dengan bertambahnya profesor yang dimiliki UMM, akan berkorelasi terhadap pengembangan UMM yang tengah berakselerasi dalam program internasionalisasi.
Kedua Profesor yaitu Dwi Priyo Utomo pada bidang pendidikan matematika dan Profesor Rr Eko Susetyarini pada bidang biologi reproduksi. Fauzan menilai, kontribusi yang diberikan UMM harus semakin tinggi.
Dua orang guru besar itu menurutnya adalah pribadi yang punya etos tinggi dan kerja keras tak kenal lelah. Oleh sebab itu, dia mengapresiasi atas capaian tertinggi dalam bidang akademik yang telah diraih. “Ini jadi bukti jika keduanya sangat berdedikasi terkait keilmuan yang digeluti,” tuturnya saat menyampaikan pidato pengukuhan, Rabu (12/10/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”UMM”]
Pada pengukuhan itu, setiap guru besar menyampaikan orasi ilmiah. Susetyarini menjelaskan orasi bertema “Beluntas dan Antifertilitas Serta Implementasinya dalam Pembelajaran”. Dia menilai Indonesia adalah negara yang punya keanekaragaman tumbuhan dalam bentuk pohon, perdu, serta semak.
Salah satu tanaman bentuk perdu yaitu beluntas. Penelitiannya tentang beluntas sebagai antifertilitas bermula dari fakta jika selama ini antifertilitas pada pria belum banyak diterapkan. “Ada pun saat ini, antifertilitas pria yang tersedia hanya sterilisasi atau suntikan testosterone. Namun menurutnya, perlu adanya pengembangan obat tradisional antifertilitas pria secara oral atau diminum,” jelasnya saat menyampaikan orasi ilmiah.
Penelitian tersebut juga sudah lewat uji praklinis ke hewan coba tikus putih jantan yang menunjukan bahwa pemberian bubuk daun beluntas berkhasiat sebagai antifertilitas. “Hal itu juga ditunjukkan dari hasil screening DNA mitokondria spermatozoa,” katanya.
Priyo, guru besar pendidikan matematika menyampaikan orasi terkait “Mengembangkan Pemahaman Relasional Siswa: Mengutamakan Pengetahuan Konseptual atau Prosedural?”. Menurut dia, pemahaman relasional membantu siswa membangun skema untuk menghubungkan ilmu yang sudah mereka ketahui dengan pengetahuan yang baru. Pengembangan ide-ide dalam memecahkan soal matematika juga berangkat dari sana.
Pemahaman relasional, lanjutnya, berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan konseptual. Namun di lapangan terjadi perdebatan tentang mana yang harus diutamakan antara kedua pengetahuan tersebut. “Padahal, hakikatnya, hubungan antara pengetahuan konseptual dan prosedural bersifat bilateral,” paparnya.
Selain pengukuhan dua guru besar, UMM juga melakukan peluncuran lima Center of Excellence (CoE) FKIP. Hal tersebut dimulai dari CoE Konsultan Pendidikan dari Prodi PGSD, CoE Media dan Animasi Pendidikan Digital dari Prodi Pendidikan Matematika dan English for Hospitality dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. CoE Entrepreneur Perbukuan dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, serta CoE Sekolah Wisata Sejarah Digital dari Prodi PPKn. (dan/kun)






