Mojokerto (beritajatim.com) – Di tengah tingginya biaya operasional dan persaingan ketat di jalanan, seorang driver online di Kota Mojokerto memilih jalan berbeda untuk bertahan. Sutaryoko (49), warga Pengreman Gang 3, Kecamatan Kranggan, sukses menekan pengeluaran harian dengan memodifikasi mobilnya menggunakan bahan bakar LPG.
Langkah yang awalnya terinspirasi dari video YouTube dan komunitas media sosial itu kini menjadi solusi nyata bagi ekonomi keluarganya. Yoko, sapaan akrabnya, mengaku beralih ke bahan bakar gas demi efisiensi.
“Karena saya driver online, pakai BBG (Bahan Bakar LPG) supaya lebih irit. Awalnya lihat dari internet. Tapi setelah dijalani, ternyata manfaatnya luar biasa,” ungkapnya, Senin (20/4/2026).
Sebelum menggunakan LPG, Yoko harus mengeluarkan sekitar Rp150 ribu per hari untuk membeli BBM jenis Pertalite. Kini, ia hanya membutuhkan sekitar Rp40 ribu untuk dua tabung LPG.
Penghematan ini membuat beban operasionalnya turun drastis, bahkan mendekati tiga kali lipat lebih hemat. Dampaknya, penghasilan yang sebelumnya habis untuk bahan bakar kini bisa dialokasikan untuk kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan dua anaknya.
Meski beralih bahan bakar, performa kendaraan tetap terjaga. Dalam sehari, Yoko masih mampu menempuh jarak 120 hingga 150 kilometer, baik untuk perjalanan dalam kota maupun luar kota.
Untuk perjalanan jarak jauh seperti ke Semarang, ia hanya menghabiskan sekitar Rp80 ribu atau empat tabung LPG. Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan sekitar Rp200 ribu jika menggunakan BBM.
“Selisihnya itu yang sangat terasa. Dulu buat bensin saja sudah berat, sekarang bisa lebih banyak yang disimpan. Isu harga BBM naik, tidak pengaruh. Mesin terasa lebih ringan, oli juga lebih jernih. Tidak hitam seperti kalau kita pakai BBM. Selama enam bulan ini, saya pakai BBG belum pernah masuk bengkel,” ujarnya.
Namun, Yoko menegaskan bahwa penggunaan LPG membutuhkan kedisiplinan tinggi dalam aspek keamanan. Ia selalu memastikan kondisi tabung dalam keadaan baik, mengecek seal karet, serta memastikan tidak ada kebocoran sebelum digunakan.
“Harus teliti. Jangan sampai lengah. Setiap ganti tabung, pasti saya cek dulu, saya goyang-goyang apa ada kebocoran. Iya saya juga tetap menggunakan BBM sebagai cadangan, dengan sistem saklar otomatis yang memungkinkan perpindahan bahan bakar tanpa harus menghentikan kendaraan,” jelasnya.
Kisah Sutaryoko menjadi gambaran bagaimana inovasi sederhana mampu menjawab tantangan ekonomi. Dari pengalaman di jalanan, ia menemukan solusi yang tak hanya menghemat biaya, tetapi juga membuka peluang bagi driver lain untuk lebih efisien dalam bekerja.
Di tengah dinamika ekonomi dan fluktuasi harga energi, langkah adaptif seperti ini menunjukkan bahwa kreativitas dan keberanian mencoba hal baru bisa menjadi kunci bertahan sekaligus berkembang. [tin/beq]






