Pamekasan (beritajatim.com) – Salah satu peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur, Dr Abdul Wahab Ahmad menilai banyak orang menjalani proses dengan menggantungkan kebahagiaan pada hasil.
Padahal dengan situasi tersebut dapat berakibat pada keputusasaan, bahkan tidak jarang justru berhenti berproses ketika target gagal tercapai. Tidak menutup kemungkinan juga bisa lupa jika kegagalan dan kesulitan sebagai bagian dari proses yang harus dilalui untuk menggapai sukses.
Hal tersebut disampaikan saat membedah tema ‘Enjoying the Process’ pada pembukaan ajang tahunan bertajuk international multi event Pekan Ngaji 8 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Rabu (4/1/2023) malam.
“Ada yang bertanya mana yang lebih diutamakan antara proses dan pencapaian, saya jawab tegas bahwa dalam sudut pandang agama, proses lebih penting sebab yang dituntut dari manusia (sebagai beban taklifi) adalah proses, bukan pencapaian,” kata Dr Abdul Wahab Ahmad.
Bahkan saat bedah tema di kompleks Pesantren Bata-Bata Putri, dosen IAIN Jember tersebut juga menyampaikan sejumlah contoh dan bukti konkret tentang sebuah proses maupun capaian.
“Beberapa bukti tentang ini di antaranya, seorang pelaku maksiat yang bertaubat lalu mati tanpa belum melakukan kebaikan apa pun tetap dianggap mati dalam keadaan baik. Alasannya ia telah berproses menuju jalan kebaikan,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pekan-ngaji”]
Contoh lain dengan mengutip hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; siapa yang berpindah dari tempatnya untuk belajar suatu pengetahuan, maka dosanya diampuni sebelum ia melangkah. “Sekalipun ilmunya belum didapat, ia sudah mendapatkan keutamaan karena sudah berproses,” jelasnya.
“Demikian juga dengan seorang kepala rumah tangga tidak tercela, karena tidak berhasil menjadi kaya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi ia bisa tercela apabila tidak berproses dengan cara bekerja secara patut,” sambung Dr Abdul Wahab.
Ibrah lainnya bagi seorang murid menjadi tidak tercela karena tidak menjadi juara kelas, tapi justru menjadi tercela jika tidak mau berproses dengan cara belajar. “Jadi ia juga tidak tercela karena tidak menjadi ilmuwan terkenal, yang tercela hanya bila ia berhenti berproses mencari ilmu,” imbuhnya.
Hal yang sama juga berlaku bagi seorang petani yang hanya diharuskan menanam tanamannya dengan baik, tentunya di musim yang tepat dan berusaha menanggulangi hama serta gangguan lain bagi pertaniannya. “Tetapi urusan hasil panen, itu di luar bagian yang dituntut darinya. Bahkan bila gagal panen, ia pun tidak dapat disalahkan,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pekan-ngaji”]
“Pada dasarnya banyak lagi contoh lain seputar keutamaan dari sebuah proses, tetapi kadar ini sudah cukup membuktikan bahwa proseslah yang dinilai dalam sudut pandang agama. Adapun hasil atau pencapaian, itu adalah urusan takdir tergantung rezeki masing-masing,” tegasnya.
Hanya saja masih banyak orang yang justru tidak menghargai proses, dan hanya melihat capaian semata. Bahkan tidak jarang, seorang yang belum sukses cenderung diremehkan, tidak dihargai dan diacuhkan. Sebaliknya, jika sukses baru didekati dan dihargai.
“Hal ini menjadi contoh dari jenis penghargaan yang sangat terlambat, sebab bagian yang menjadi ranah usaha manusia justru dilupakan, padahal pada ranah proses inilah seorang manusia harusnya dinilai. Adapun soal hasil, maka itu urusan takdir,” bebernya.
Di sisi lain, banyak yang berproses dan terlalu menggantungkan kebahagiaannya pada hasil. Akibatnya dia berputus asa dan berhenti ketika target yang dicapai gagal. Seolah ia lupa bahwa kegagalan dan kesulitan adalah bagian dari proses yang harus dilalui untuk kesuksesan. “Sebab itu, enjoy the process and never quit!,” Pungkasnya. [pin]






