Magetan (beritajatim.com) – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan angkat bicara soal petani padi dan jagung yang mengeluh gagal panen akibat irigasi diputus. DPUR Magetan memastikan tidak memberi kompensasi kepada petani yang gagal panen.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) Yuli Karyawan Iswahjudi mengungkapkan jika sebelum melakukan rehab irigasi dari Dam Bondot, pihaknya sudah melakukan sosialisasi pada petani di lima desa di Kecamatan Lembeyan. Adalah Desa Nguri, Pupus, Kedungpanji, Tunggur, dan Tapen. Sosialisasi dilakukan pada 30 Mei 2022 lalu.
“Kami sudah sosialisasikan. Saat itu kami dan petani sepakat agar saat irigasi tengah diperbaiki, maka petani harus menanam tanaman yang tak butuh banyak air. Bahkan, sebagian petani ada pula yang rela tak menggarap lahan selama ada perbaikan irigasi. Tujuannya agar menghindari kemungkinan gagal panen,” kata Yuli, Jumat (12/8/2022).
Dia mengungkapkan jika tak mungkin menunda proyek perbaikan itu. Lantaran, tahun ini anggaran yang bersumber dan dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp1,5 miliar itu turun. Pihaknya memanfaatkan anggaran itu untuk merehab saluran irigasi yang tertutup longsor. Jika longsor dibiarkan maka akan lebih merugikan petani.
“Saluran irigasi dam Bondot ini digunakan untuk 990 hektar lahan petani. Tidak semuanya hanya menggantungkan dari aliran irigasi, ada pula yang sudah mandiri baik menggunakan sumur galian milik pemerintah atau sumur milik perorangan,” kata Yuli.
[berita-terkait number=”4″ tag=”petani-magetan”]
Dikonfirmasi terkait harapan petani yang bisa dapat kompensasi, dia mempersilakan beritajatim.com untuk mengonfirmasi ke Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP). Karena, untuk aktivitas pertanian yang mungkin ada asuransi jadi ranah dinas yang dipimpin oleh Uswatul Chasanah itu.
“Kalau dari kami jelas tidak ada, karena kami sudah sosialisasi. Sudah sepakat dengan petani agar tak menanam tanaman yang butuh banyak air agar menghindari konflik semacam ini. Karena merehab saluran irigasi ada kemungkinan terburuk yakni dengan menutup total irigasi. Sudah ada berita acaranya juga,” pungkas Yuli. [fiq/but]






