Surabaya (beritajatim.com) — Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Achmad Nurdjayanto mendukung rencana percepatan pembangunan jalur Surabaya Regional Railways Line (SRRL) tahap I rute Surabaya Gubeng–Sidoarjo dan jalur ganda Wonokromo–Sepanjang yang konstruksinya akan dimulai pada 2027.
Namun, lanjutnya, proyek ini perlu diimbangi kesiapan infrastruktur kota agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Achmad meminta Pemkot Surabaya tidak hanya menunggu proyek ini berjalan, tetapi mulai aktif menyiapkan sarana penunjang seperti akses ke stasiun, park and ride, serta integrasi transportasi lokal.
“Jangan sampai proyek nasional ini selesai, tapi fasilitas pendukung di Surabaya ketinggalan. Akses ke stasiun, angkutan pengumpan, parkir yang memadai, semua harus disiapkan dari sekarang,” tegas Achmad, Senin (7/7/2025).
Ketua Panitia Khusus (Pansus) RPJMD 2025-2030 Surabaya ini juga menegaskan pentingnya konektivitas antar moda transportasi dalam dokumen perencanaan pembangunan kota lima tahunan tersebut.
“Melalui RPJMD ini, kami dorong agar ada keterhubungan nyata antara moda transportasi utama seperti SRRL dengan layanan angkutan pengumpan atau feeder Wirawiri, khususnya ke kawasan-kawasan permukiman,” tegas Achmad.
Menurut dia, keterjangkauan akses warga ke stasiun harus menjadi perhatian utama agar manfaat proyek SRRL tidak hanya dirasakan sebagian kecil masyarakat, melainkan seluruh lapisan.
“Semoga ke depan, titik-titik feeder Wirawiri bisa diperbanyak dan ketepatan waktunya lebih terjamin, sehingga warga dari perkampungan atau area permukiman lebih mudah mencapai stasiun,” imbuh politisi Golkar tersebut.
Achmad berharap, sinergi perencanaan transportasi ini benar-benar dituangkan dalam RPJMD 2025-2030 agar pembangunan infrastruktur kota berjalan seiring dengan kebutuhan mobilitas masyarakat.
Selain itu, Achmad juga menyebutkan pentingnya transparansi dalam proses pembebasan lahan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), dan pengawasan penggunaan anggaran. DPRD, menurut dia, siap mengawal agar tidak terjadi penyimpangan dalam proyek ini.
“Kami di Komisi C akan mengawal proses teknis maupun anggaran. Jangan sampai proyek besar ini justru menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat,” tegasnya.
Achmad berharap, percepatan proyek SRRL oleh pemerintah pusat dapat menjadi momentum mendorong Surabaya semakin siap sebagai kota metropolitan bertransportasi massal modern. Namun semua itu harus dibarengi kerja di level daerah.
“Jangan hanya bangga proyek nasional masuk, tapi daerahnya pasif. Pemkot Surabaya harus proaktif agar manfaat SRRL benar-benar dirasakan warga,” pungkasnya.[asg/aje]






