Surabaya (beritajatim.com) – Kasus leptospirosis memang belum ditemukan di Kota Surabaya. Meski begitu, Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Khusnul Khotimah tetap meminta Pemerintah Kota Surabaya dan warga untuk meningkatkan kewaspadaan penyakit yang telah merenggut nyawa di Jatim ini.
“Kita tentu bersyukur, karena di Surabaya belum ditemukan leptospirosis. Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, karena di Jatim telah ditemukan 249 kasus dan 9 meninggal per 5 Maret lalu. Tentu kita tidak ingin kecolongan. Kewaspadaan ini tentu harus ditingkatkan,” kata Khusnul, saat dikonfirmasi, Senin (13/3/2023).
Dengan tidak ditemukannya leptospirosis ini, Khusnul memberikan apresiasi kepada Pemkot Surabaya dalam hal ini dinas kesehatan, puskesmas dan para Kader Surabaya Hebat yang terus melakukan langkah sosialisasi dan antisipasi leptospirosis.
“Sosialisasi dengan melibatkan seluruh elemen itu penting. Pemkot harus menggandeng masyarakat agar turut serta menjaga lingkungan sehat, penguatan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Sosialisasi dan edukasi ini selain melalui medsos, juga melalui flyer atau pada forum-forum musyawarah kelurahan,” katanya.
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya ini menjelaskan, penyakit leptospirosis ini diakibatkan karena bakteri leptospira sp, yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Penularan paling sering terjadi melalui kencing tikus pada kondisi banjir, dimana menyebabkan adanya perubahan lingkungan.
“Warga harus lebih siaga karena menyangkut maraknya penyakit-penyakit yang ada kaitannya dengan banjir. Salah satunya penyakit leptospirosis berkaitan dengan tikus yang identik dengan lingkungan yang kotor,” ungkapnya.
Bagi orang yang terkena leptospirosis, kata Khusnul, akan mengalami demam 38,5 derajat, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot hingga kesulitan kesulitan berjalan, kemerahan pada selaput putih mata, kekuningan pada mata dan kulit.
[berita-terkait number=”4″ tag=”leptospirosis“]
Untuk mencegah leptospirosis, masyarakat bisa melakukan tindakan yang sederhana. Seperti menyimpan makanan dan minuman agar aman dari tikus. Kemudian cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah terkena air banjir, tanah becek atau lumpur. Lalu menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan 3M plus, memasang perangkat tikus, tutup luka dengan perban anti air dan bersihkan selalu luka.
“Jika mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat terpapar air banjir, tanah becek atau lumpur dalam dua minggu sebelum sakit, maka segera ke Puskesmas terdekat. Jangan sampai terlambat berobat karena bisa berakibat fatal,” tegasnya. [asg/but]
![DPRD Surabaya Minta Pemkot dan Warga Waspada Leptospirosis Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Khusnul Khotimah.[foto/ademasrio].](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/03/1C7D4828-91E8-4C8E-B0EB-41449017ACAC-1024x850.jpeg)





