Jember (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengkritik ketidakjelasan konsep pengembangan pariwisata oleh pemerintah daerah setempat. Padahal pariwisata berpotensi menjadi mesin pendulang pendapatan.
Alfan Yusvi dari Fraksi PDI Perjuangan memaparkan fakta kecilnya kontribusi pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Jember. Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 2022 tercatat sebanyak 502.538 orang wisatawan nusantara dan 690 wisatawan mancanegara.
“Angka tersebut mengalami peningkatan, jika dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 400.444 orang. PAD dari sektor pariwisata tercatat meningkat dari 3,54 persen pada 2021 menjadi 5,33 persen tahun lalu. Kontribusi sektor pariwisata untuk PAD hanya lima persen,” kata Alfan.
Data ini membuat PDI Perjuangan menilai Pemkab Jember belum memiliki konsep yang jelas dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal. “Kami juga melihat, belum adanya keseriusan pemberdayaan sektor seni budaya tradisional, yang malah tampak terbiarkan,” kata Alfan.
Alfan menyebut sektor pariwisata masih terkesan hanya pengembangan opini belaka. “Tanpa diikuti dengan pemberdayaan yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai,” katanya.
Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat David Handoko Seto menekankan perlunya penyediaan infrastuktur dan fasilitas yang layak, serta promosi di berbagai lini termasuk media sosial untuk memperkenalkan potensi destinasi wisata lama dan baru.
“Standarisasi pengelolaan dan manajemen perlu dilakukan agar sektor pariwisata mampu menjadi daya tarik bagi penikmat wisata domestik ataupun internasional. Jika hal ini tidak disikapi serius, bukan tidak mungkin kita terus digerus oleh kabupaten-kabupaten sebelah yang terus melesat mendulang keuntungan dari sektor pariwisata,” kata David.
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa melalui juru bicara Sri Winarni menyarankan pembanguna infrastruktur untuk menopang pengembangan pariwisata. “Tanpa infrastruktur yang memadai, peluang bagi pertumbuhan sektor pariwisata dan perkembangan ekonomi lokal terbatas,” katanya.
PKB melihat minimnya investasi dalam pembangunan infrastruktur yang mendorong konektivitas antar wilayah di Jember menjadi masalah serius. “Konektivitas yang baik adalah fondasi penting untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Winarni.
Menurut Winarni, jika Pemerintah Kabupaten Jember ingin benar-benar mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, maka laporan keuangan harus memberikan gambaran yang jelas tentang investasi yang dilakukan dalam sektor ini.
“Promosi, pemeliharaan destinasi pariwisata, dan peningkatan infrastruktur pariwisata adalah elemen-elemen penting yang seharusnya tercermin dalam laporan tersebut. Termasuk dalam upaya mencapai ketahanan sosial dan ekonomi, perlunya fokus pada lingkungan hijau yang tak kalah penting,” kata Winarni.
PKB menilai, Kabupaten Jember memiliki potensi besar dalam pengembangan lingkungan yang berkelanjutan. “Laporan keuangan seharusnya mencerminkan alokasi dana untuk proyek-proyek lingkungan yang berkelanjutan di seluruh desa,” kata Winarni.
Namun David mengingatkan, pengembangan pariwisata tidak hanya dilakukan Pemkab Jember. “Namun harus melibatkan semua stakeholder termasuk perusahaan plat merah maupun swasta, untuk ikut peduli melalui CSR (dana tanggung jawab sosial perusahaan) yang mereka miliki. Tentunya menggunakan mekanisme yang tidak melanggar aturan,” katanya.
Namun di tengak kritik keras tersebut, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengapresiasi capaian Bupati Hendy Siswanto yang meraih Daerah Peduli Inovasi Ekonomi Kreatif dan Pariwisata dari Kompas TV. Hendy juga menerima penghargaan dari Kemendagri karena sukses memerahputihkan Jember selama Agustus kemarin.
Bupati Hendy Siswanto mengatakan, ada 44 kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang telah dibentuk di Jember. “Mereka kami dukung dengan pelatihan sadar wisata, sapta pesona dan go digitalisasi untuk mempromosikan masing- masing destinasi wisata yang dikelola,” katanya.
Tak cukup itu. Pemkab Jember juga memberikan bantuan sarana dan prasarana sebagai stimulus untuk pengembangan wisata. “Selain itu bersama Kemenetrian Pedidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, kami merencanakan dan menggagas program yang bertajuk Galang Gerak Budaya Tapal Kuda yang nantinya akan melibatkan tujuh kabupaten tapal kuda untuk menggali kembali potensi potensi tempat wisata,” kata Hendy.
Sebagai wujud keseriusan, Pemkab Jember mengalokasikan anggaran belanja sebesar Rp 15,18 miliar pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Jember juga telah melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana yang memadai di unit pelaksana teknis (UPT) wisata terpadu antara lain Patemon, Watu Ulo, Rembangan, dan Kebonagung. “Meskipun tidak dalam skala besar,” kata Hendy.
Ia setuju untuk meningkatkan iklim investasi dalam pembangunan infrastruktur dengan tujuan untuk meningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. [wir]






