Sidoarjo (beritajatim.com) — Membina ketahanan rumah tangga bukan hal yang sepele. Mempertahankan rumah tangga bukan tidak selalu cukup dengan menjamin stabilitas perekonomian keluarga. Hal yang palig penting justru adalah membentuk kesadaran untkuk mempertahankan komitmen dan menjaga kualitas komunikasi di dalam keluarga. Demikian disampaikan dosen Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo), Zaki Nur Fahmawati.
“Pasangan harus memiliki visi yang sama tentang rumah tangga mereka dan memiliki strategi yang tepat untuk mencapai tujuan mereka. Salah satu hal yang sering kali menghambat ini adalah kurangnya kemampuan suami dan istri dalam memahami budaya dan tradisi,” kata Zaki Nur Fahmawati, di Sidoarjo, Minggu (7/5).
Masalah utama yang menjadi pemicu konflik adalah permasalahan ekonomi. Mengutip Jawa Pos, angka gugatan perceraian di Sidoarjo mencapai lebih dari 4.000 dalam kurung waktu satu tahun, pada 2022 lalu. Alasan gugatan terbanyak diajukan dengan alasan ekonomi. Sisanya diajukan dengan alasan-alasan lain, seperti KDRT, perselingkuhan, san sebagainya.
Akan tetapi, kadang ego pasangan mungkin memicu perselisihan karena kurangnya pemahaman tentang system budaya. Sejauh ini, kami mencoba untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat agar mereka memiliki kemampuan lebih dalam memahami permasalah yang terkait budaya.
https://beritajatim.com/ekbis/tokoh-ekonomi-umsida-rekomendasikan-pengembangan-suryamart/
Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah program pengabdian kepada masyaratkat (PKM) yang dilakukan dengan menggandeng komunitas New Sidoarjo Baby Wearers (NDBW) di Sarirogo, Sidoarjo, pada Minggu (12/3) lalu.
“Sebagai komunitas yang lebiih cederung pada system patrilinear, kebanyakan pasangan menerapkan bahwa tugas laki-laki adalah mencari uang, sementara perempuan di rumah. Padahal, prinsip seperti ini perlu disesuaikan lagi dengan kondisi keluarga masing-masing,” tambah anggota pengabdi, Niko F. [but]






