Malang (beritajatim.com) – Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bahrul Ulum S.Pd., M.Pd., mendorong peningkatan literasi tingkat sekolah dasar dengan metode inovatif. Metode yang digunakan bernama Phonics Song dan Large Movable Alphabet (LMA) Montessori Apparatus.
Bahrul Ulum menerapkan metodenya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gading Kulon 2 Kabupaten Malang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian masyarakat dengan judul ‘Pendampingan Literasi Dasar menggunakan Phonics Song dan Large Movable Alphabet (LMA) Montessori Apparatus’.
Dosen PGSD UMM ini menjelaskan pendekatan inovatif yang diterapkan salah satunya dengan Phonics Song. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membantu anak memahami hubungan antara bunyi dan huruf.
“Selain itu ada pendekatan LMA Montessori Apparatus untuk memberi pengalaman belajar menyenangkan dan interaktif. Pendekatan ini menjadi komponen penting dalam kegiatan yang dirancang untuk membantu anak memahami struktur kata dan merangsang kreativitas mengekspresikan ide,” ungkap Ulum.
Dengan metode yang digunakannya, Ulum menjelaskan, siswa dapat merasa gembira belajar sembari membangun pondasi yang kuat dalam literasi. Caranya dengan bermain dan merangkai huruf-huruf yang besar dan dapat dipindahkan.
“LMA merupakan perangkat media belajar yang merupakan baku dari dari Montessori. Montessori adalah metode pendidikan yang dikhususkan untuk anak-anak. Metode ini dikenalkan oleh Dr Maria Montessori pada tahun 1900,” ungkap pria yang akrab disapa Ulum ini.
Metode montessori membebaskan anak untuk memilih hal hendak dipelajari. Hal itu sesuai dengan tujuan dari metode montessori agar anak mampu mengoptimalkan potensinya.
Metode montessori meyakini bahwa setiap anak punya kelebihan dan bakatnya sendiri. Selain itu, metode menekankan pada kebebasan untuk mengeksplorasi dan menanamkan kemandirian.
Pembelajaran dalam Montessori ini sudah tersusun berdasarkan berdasarkan rentan usia anak. Montessori memiliki kurikulum yang baku atau media yang baku dan disebut Apparatus.
“Dalam Montessori ini, yang diajarkan adalah literasi. Pembelajaran dimulai dari menulis dahulu baru membaca. Dalam menulis ini terdapat beberapa aparatus, seperti Sniped Inside, Word Sense, Sense Paper Letter dan lainnya,” ungkap Ulum.
Sememtara itu, pada membaca dikenalkan dulu Phonic Song. Jadi tentang Phonetic, selama ini pembelajaran dilakukan kurang sesuai. Siswa tidak diajarkan tentang Phonetic, padahal ini merupakan untuk menyamakan semua pembacaan orang di Indonesia. “Setelah penguasaan Phonic ini siswa telah memahami kemudian menggunakan LMA untuk mengenalkan membaca huruf.
Phonics Song kita gunakan sebagai metode pembelajaran yang mengintegrasikan musik dan irama untuk membantu siswa paham hubungan antara bunyi dan huruf,” katanya.
Melalui lagu-lagu yang menyenangkan, anak-anak diajak untuk aktif berpartisipasi dan merespons setiap bunyi yang terdengar. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat proses pembelajaran, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Lebih lanjut dijelaskan, bahwa perangkat yang digunakan cukup sederhana dan berbahan dasar kayu. Perangkat ini sebenarnya dari Montessori terdapat standar baku. Tetapi tidak semua dapat membeli perangkat tersebut lantaran keterbatasan penjualan. Selain itu, Montessori yang sesuai standar cukuplah mahal.
“Cat nya harus khusus, kemudian kayunya dioven dan lainnya. Pokoknya khusus bahannya. Adapun alatnya mahal. Makanya kalau sekolah Montessori masuk ada biaya material per tahun. Sebab kalau ada yang rusak harus ganti,” jelasnya.
Dalam implementasinya, terdapat sebuah media kain yang itu ada line pembatas. Hal ini bertujuan untuk melatih anak mengontrol emosi. Cara pembelajarannya berbeda juga dengan menggunakan media yang biasa.
Media pembelajaran diletakkan dan kemudian anak akan berinteraksi dengan perangkat. Anak dapat merasakan langsung pengalaman terhadap perangkat tersebut. Dalam Montessori ini juga terdapat istilah auto education, sehingga siswa juga mandiri untuk belajar sendiri. Seluruh indra pada anak digunakan untuk belajar
“Dalam alat ini ada perangkat yang warna merah dan biru. Warna biru ini adalah huruf vokal, lainnya non vokal. Itu ada tahapannya juga. Pertama penggunaan tiga kata kemudian lebih. Ada lagi tahapan diftong, pertemuan dua huruf vokal,” lanjut Ulum.
Para Guru menunjukkan respon positif terhadap kegiatan ini. Mereka terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar yang berbeda ini. “Guru-guru juga memberikan tanggapan positif, mengakui bahwa metode inovatif ini dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mengajar literasi dasar,” jelasnya.
Pendampingan literasi dasar dengan menggunakan Phonics Song dan Large Movable Alphabet (LMA) Montessori Apparatus di SDN Gading Kulon 2 Kabupaten Malang pada tanggal 1 Desember 2023 berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi guru.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam memperkaya metode pembelajaran bagi para siswa. Pendampingan literasi dasar merupakan langkah penting dalam membentuk dasar pengetahuan dan kemampuan membaca siswa sejak dini.
Metode inovatif ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi sekolah-dasar. Terlebih di SDN Gading kulon 2 dan menjadi inspirasi bagi pengembangan pembelajaran yang lebih bervariasi di masa depan. (dan/kun)






