Surabaya (beritajatim.com) – Ketidakpastian terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat terhadap Indonesia menuai tanggapan dari kalangan akademisi. Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya), Cynthia Yohanna Kartikasari, M.SE., menyatakan bahwa kondisi ini justru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor ke negara lain.
Sebelumnya, Amerika Serikat sempat menerapkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap sejumlah produk Indonesia. Namun, kebijakan tersebut ditangguhkan menjadi 10 persen untuk masa berlaku 90 hari. Meski bersifat sementara, kebijakan ini dinilai dapat memicu langkah strategis bagi pelaku ekspor nasional.
“Proporsi ekspor Indonesia ke AS sekitar 10 persen. Artinya, masih ada 90 persen peluang ekspor ke pasar lain yang bisa kita optimalkan,” ujar Cynthia, Selasa (15/4/2025).
Ia menambahkan, Indonesia perlu mempertimbangkan kerja sama ekspor dengan negara-negara di Asia Tenggara maupun Tiongkok sebagai alternatif pasar. Salah satu sektor yang berpotensi ditingkatkan menurutnya adalah komoditas unggulan seperti kopi dan Crude Palm Oil (CPO).
“Penopang utama ekspor kita memang masih di sawit. Namun kita bisa perkuat ekspor kita di bidang lain. Kopi Indonesia sudah dikenal kualitasnya di pasar internasional, begitu juga dengan produk-produk organik yang tengah naik daun di Eropa dan Jepang,” paparnya.
Lebih lanjut, Cynthia juga menilai Indonesia memiliki peluang untuk menggantikan posisi Tiongkok dalam rantai pasok ekspor ke Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia bisa memanfaatkan selisih tarif dengan mengimpor bahan baku dari Tiongkok, merakit produk di dalam negeri, dan mengekspornya kembali ke AS dengan label “Made in Indonesia”.
“Ini bisa menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan AS dengan biaya yang lebih kompetitif,” jelasnya.
Selain memperluas ekspor, Cynthia juga mengajak masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dalam negeri. “Konsumsilah produk lokal. Dengan begitu, uang akan berputar di dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tutupnya. [ipl/beq]






