Ringkasan Berita:
- Jumlah jemaah haji perempuan Indonesia mendominasi hingga mencapai 113.186 orang atau sekitar 56 persen.
- Musyrif Dini dari Muslimat NU dan Aisyiyah mengintensifkan edukasi manasik langsung ke tiap hotel pemondokan.
- Jemaah perempuan diimbau membatasi aktivitas fisik demi menjaga stamina menjelang puncak wukuf di Arafah.
- Pendampingan khusus menyasar kelompok jemaah wanita lanjut usia, risiko tinggi, dan penyandang disabilitas.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengoptimalkan peran Musyrif Dini perempuan guna mengawal pelaksanaan ibadah 113.186 jemaah haji wanita yang mendominasi sekitar 56 persen dari total kuota nasional tahun 2026.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan jemaah memahami fikih haji perempuan secara syar’i sekaligus menjaga kesiapan mental dan fisik mereka menjelang fase kritis di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Berdasarkan data terbaru dari dashboard haji Kemenhaj RI, jumlah jemaah perempuan tahun ini mencapai 113.186 orang, jauh melampaui jumlah jemaah laki-laki yang tercatat sebanyak 89.446 orang.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, tingginya proporsi jemaah wanita ini membuat kehadiran intervensi pembimbing ibadah dari unsur organisasi perempuan seperti Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Aisyiyah menjadi garda terdepan di tiap sektor pemondokan, termasuk bagi kloter-kloter padat asal Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Musyrif Dini dari Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU, Lilik Nur Kholidah Badrus Sholeh (Liliek Noer Chalida), menegaskan bahwa timnya bergerak masif melakukan visitasi harian.
Pembembalan difokuskan agar jemaah wanita siap secara lahiriah, batiniah, serta mandiri secara psikologis tanpa harus bergantung penuh pada pendamping keluarga.
“Kami diberi tugas untuk menjadi Musyrif Diny Haji 2026 adalah untuk memberikan pendampingan kepada jemaah haji khususnya perempuan,” ucap Liliek saat memberikan keterangan resmi di Bir Ali, Madinah.
Edukasi langsung di hotel-hotel difungsikan untuk memitigasi keraguan fikih yang sering mengganggu kekhusyukan jemaah perempuan, seperti manajemen siklus menstruasi saat ritual ibadah.
“Kami hadir bersama-sama elemen-elemen organisasi perempuan untuk memberikan pendampingan kepada jemaah haji perempuan dan secara keseluruhan,” kata Liliek.
“Sehingga pemahaman dan apa saja yang diperlakukan di dalam haji itu bisa sah sesuai dengan aturan dan ajaran syariat Islam,” sambungnya.
Fokus Stamina Fisik Menjelang Fase Kritis Armuzna
Selain pemahaman rukun dan wajib haji, tantangan nyata di lapangan adalah paparan suhu panas ekstrem Makkah yang saat ini berfluktuasi hingga mencapai 43 derajat Celsius dengan kelembapan rendah.
Musyrif Dini dari PP Aisyiyah, Rohimi Zam Zam, mengingatkan jemaah perempuan untuk mulai mengerem aktivitas fisik luar ruang atau ibadah sunnah berulang menjelang pendorongan ke Arafah pada 25 Mei mendatang.
“Jaga fisik kita sampai pada titik puncaknya di wukuf. Ini penting agar seluruh rangkaian ibadah bisa dijalankan dengan baik,” ujar Rohimi menerangkan pentingnya menabung energi demi kelancaran puncak haji.
Rohimi menambahkan, perhatian khusus saat ini diarahkan kepada jemaah perempuan yang masuk kategori berisiko tinggi (risti), lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Pendampingan tidak lagi sekadar tekstual ibadah, melainkan penguatan mental untuk mencegah terjadinya disorientasi akut akibat dehidrasi dan kelelahan kronis.
“Perlu menjaga stamina, istirahat cukup, agar bisa mencapai puncak ibadah dengan baik. Di Arafah, kita benar-benar fokus menghadap Allah,” ungkap Rohimi.
Integrasi pengawasan ini diharapkan mampu merealisasikan komitmen “Haji Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas” yang dicanangkan Kemenhaj secara penuh di lapangan. [ian/MCH/suf]






