RINGKASAN BERITA:
- Jemaah haji mandiri Kloter SUB 77 Sumenep sukses menyelesaikan umrah wajib tanpa pendampingan KBIHU swasta.
- Ketua rombongan memitigasi kendala bahasa lansia lewat pembuatan video panduan praktis berbahasa Madura-Indonesia.
- Petugas kloter menerapkan pendekatan moral dengan memosisikan para ketua rombongan sebagai “kiai” bagi kelompoknya.
- Strategi formasi “pagar betis” diterapkan demi menjaga keselamatan jemaah lansia saat tawaf di tengah kepadatan Makkah.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji mandiri asal Sumenep, Madura, yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SUB 77 sukses membuktikan bahwa pelaksanaan ibadah haji tanpa bimbingan swasta (KBIHU) dapat berjalan aman dan tertib melalui penguatan manasik pemerintah serta gotong royong antar jemaah. Kelompok yang didominasi lansia ini berhasil menyelesaikan rangkaian umrah wajib di Makkah berkat inovasi komunikasi lokal dan pendampingan melekat dari petugas kloter.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kekompakan jemaah asal ujung timur Pulau Madura ini menjadi inspirasi di tengah tantangan cuaca panas ekstrem Makkah yang mencapai 43 derajat Celsius. Di wilayah Ar-Rawdah, Makkah, para jemaah mandiri ini meretas keterbatasan teknologi dan jarak sosiologis melalui kepemimpinan anak muda yang solutif.
Moh Kamil, pemuda berusia belum genap 30 tahun, memikul tanggung jawab besar sebagai ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri di kloter tersebut. “Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” katanya di Makkah.
Inovasi Video Berbahasa Madura untuk Lansia
Sebelum berangkat, Kamil memperkuat bekal manasik dengan kembali belajar pada guru-gurunya di pesantren lewat pengajian dan madrasah diniyah di kampungnya. Namun, tantangan terbesar muncul di lapangan karena perbedaan kemampuan para jemaah dalam menerima informasi, terutama lansia yang gagap teknologi dan kesulitan memahami instruksi tertulis.
Untuk menjembatani kendala tersebut, Kamil memproduksi video-video instruksional pendek dengan panduan bahasa campuran Indonesia dan Madura. Isinya sangat praktis: cara mengoperasikan lift hotel, mempersiapkan koper cadangan, mengenali jalur bus shalawat, hingga tata cara penggunaan fasilitas hotel di Arab Saudi.
“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya. Langkah kreatif ini terbukti efektif membuat para lansia paham situasi dengan cepat tanpa kepanikan. “Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” ucapnya.
Suwaris merasa pelayanan dan proteksi petugas di lapangan sangat cair dan fleksibel tanpa sekat aturan tambahan yang kaku. “Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya. “Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.

Mentalitas Gotong Royong dan Pendekatan “Kiai”
Soliditas emosional rombongan mandiri ini juga diakui oleh E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang dosen asal Sumenep yang berangkat menggantikan almarhum ayahnya. Guna melatih stamina sebelum menghadapi puncak Armuzna, Nurhayati konsisten berlatih fisik secara mandiri di kampung halaman. “Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Kemandirian tidak membuat jemaah berjalan sendiri-sendiri, Nurhayati justru aktif membantu mengurus administrasi dokumen perjalanan rekannya yang kesulitan membaca teks digital pada malam hari. “Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya. “Kalau ada perbedaan pendapat bisa cepat diselesaikan karena sudah merasa (seperti) keluarga,” lanjutnya.
“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi. Ketika para ketua rombongan merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai pemandu spiritual, mereka menjadi jauh lebih serius dalam belajar dan mengayomi anggotanya.
Formasi “Pagar Betis” Saat Umrah Wajib
Implementasi nyata dari strategi kepemimpinan kolektif ini teruji nyata saat pelaksanaan umrah wajib di Masjidil Haram yang super padat. Demi melindungi keselamatan jemaah perempuan dan lansia agar tidak terlempar dari arus tawaf, Kamil menginstruksikan jemaah laki-laki yang berfisik kuat untuk membuat barisan pelindung di sisi luar.
“Yang laki-laki jadi pagar supaya jamaah perempuan tidak terpisah,” kata Kamil. Rombongan berjalan lambat, saling memegang bahu, dan menepi bersama untuk meminum air zamzam jika ada lansia yang mulai kelelahan di jalur sa’i.
“Yang muda ingin cepat, yang lansia jalannya pelan. Jadi harus saling memahami,” tutur Kamil. Manajemen empati ini terbukti sukses membawa seluruh rombongan menyelesaikan rukun umrah secara utuh, bahkan ketika petugas kloter harus mengambil alih pendampingan menggunakan golf cart bagi jemaah yang drop.
“Kalau sendiri mungkin lebih cepat. Tapi kami ingin selesai bersama-sama,” katanya. Komitmen untuk saling menunggu ini menjadi modal utama Kloter SUB 77 dalam menjaga kesehatan fisik jemaah agar tetap bugar sebelum pendorongan menuju wukuf Arafah pada 26 Mei nanti.
Asnawi mengakui fluktuasi karakter jemaah di lapangan tetap dinamis, namun komunikasi persuasif terbukti mampu meredam ego sektoral. “Yang penting jemaah merasa dihargai dan tidak ditinggalkan,” katanya. [ian/MCH]








