Makkah (beritajatim.com) – Muhammad Fajrul Falah (18), jemaah haji muda asal Pontianak yang tergabung dalam embarkasi Batam (BTH), mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pada Jumat (8/5/2026) untuk menunaikan ibadah haji menggantikan almarhum ayahnya yang wafat sebelum sempat menginjakkan kaki di Baitullah. Mengenakan kain ihram yang putih bersih, pemuda ini membawa beban rindu dan amanah besar yang seharusnya ditunaikan sang ayah pada musim haji tahun lalu.
Di antara riuh rendah langkah jemaah di Terminal Kedatangan, Fajrul berdiri dengan tatapan mata yang tenang namun menyimpan kedalaman rasa. Baginya, keberangkatan ini bukanlah rencana yang ia susun sejak kecil, melainkan sebuah kejutan takdir yang datang melalui surat pelimpahan porsi. Ayahnya, yang telah lama mendamba untuk bersujud di depan Kakbah, dipanggil pulang oleh Sang Khalik tepat sebelum impian itu membumi.
“Mungkin ngiranya saya daftar sejak kecil, padahal saya gantikan almarhum ayah yang harusnya dijadwalkan tahun lalu,” ungkap Fajrul dengan nada bicara yang rendah hati.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, menyaksikan bagaimana pemuda ini tetap tegar meski harus menempuh perjalanan suci ini tanpa sosok pelindung di sampingnya.
Pelimpahan porsi ini sebenarnya sempat ditawarkan kepada kakak perempuan Fajrul. Namun, karena sang kakak merasa belum siap secara mental maupun batin untuk mengemban perjalanan spiritual yang maha berat ini, tongkat estafet ibadah itu pun jatuh ke tangan Fajrul. Tak ada keraguan di wajahnya; ia menerima panggilan itu sebagai bentuk bakti terakhir yang bisa ia berikan kepada lelaki yang telah membesarkannya.
Di tanah para nabi nanti, Fajrul telah menyiapkan ruang khusus dalam setiap sujudnya untuk sang ayah. Ia berjanji akan melangitkan doa agar almarhum ayahnya mendapatkan tempat terbaik dan mulia di sisi Allah Swt. Baginya, tawaf dan sai yang akan ia jalani adalah persembahan cinta yang ia kirimkan langsung dari pusat semesta, Makkah Almukarromah.
Namun, Fajrul juga membawa mimpinya sendiri di dalam tas rangselnya. Sebagai mahasiswa semester dua Fakultas Kedokteran di Universitas Maritim Raja Ali Haji, ia membawa harapan besar agar pendidikannya di dunia medis diberi kelancaran.
Di depan Kakbah nanti, ia ingin menepis stigma bahwa menempuh studi kedokteran harus selalu memakan waktu yang sangat lama. Ia memohon kemudahan agar gelar dokter itu segera ia raih demi bisa mengabdi pada kemanusiaan.
Sebelum bergerak menuju hotel bersama rombongan, pemuda asal Pontianak ini menyempatkan diri memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan haji tahun ini.
Baginya, perjalanan dari tanah air hingga menapakkan kaki di bumi Arab terasa sangat bersahabat berkat peran aktif para petugas Kemenhaj RI yang sigap melayani.
“Sejak dari pontianak pelayanan cukup baik dan ramah. Instruksi jelas, jika ada salah dikoreksi, dan tidak membuat para jemaah merasa tidak enak. Alhamdulillah pelayanannya bagus,” tutup Fajrul.
Langkahnya kini kian mantap, melintasi gerbang bandara untuk menjemput takdir yang telah digariskan, menjadi pelayan doa bagi ayahnya sekaligus menjemput masa depan sebagai dokter yang mabrur. [ian/MCH]






