Surabaya (beritajatim.com) – Makan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Namun, dalam ajaran Islam, umat Muslim harus makan makanan yang halal dan baik.
Meski begitu, terkadang timbul keraguan apakah makanan itu halal atau tidak ketika berada di luar negeri yang memiliki beragam kuliner tanpa diketahui kehalalannya. Apalagi, jika mengingat umat Muslim sangat minim dan beberapa makanan yang tidak halal juga kerap disajikan di negara tersebut.
Selain halal dan haram, ada hukum syubhat yaitu ketidakjelasan antara halal atau haramnya. Merujuk kepada hadis nabi shallallahu alaihi wasallam, jika seseorang mendapati makanan syubhat, maka lebih baik dijauhi.
مَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ… (رواه البخارى ومسلم)
“Barang siapa berada dalam perkara syubhat maka sama halnya ia berada dalam keharaman.” (HR al-Bukhari Muslim).
[berita-terkait number=”5″ tag=”doa”]
Lantas, bagaimana jika kita sudah terlanjur menyantap makanan syubhat di tempat asing?
Dikutip dari laman NU Online, Syekh Afdhaluddin al-Azhari menyarakankan berdoa setelah selesai makan yang belum bisa dipastikan kehalalannya, sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا الطَّعَامُ حَلَالًا فَوَسِّعْ عَلَى صَاحِبِهِ وَاجْزِهِ خَيْرًا وَإِنْ كَانَ حَرَامًا أَوْشُبْهَةً فَاغْفِرْلِيْ وَلَهُ وَأَرْضِ عَنِّيْ أَصْحَابَ التَّبِعَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
“Ya Allah jika makanan yang saya makan ini halal, maka luaskanlah rezekinya (orang yang memberi makan) dan balaslah dengan kebaikan. Dan jika makanan ini adalah haram atau syubhat maka ampunilah aku dan dia, dan jauhkanlah para penerima konsekuensi (atas dosanya sendiri) dariku kelak di hari kiamat dengan kasih sayang-Mu, wahai Allah yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Demikian juga Syekh Sya’rani, beliau menyarankan membaca doa:
اللَّهُمَّ احْمِنِيْ مِنَ الْأَكْلِ مِنْ هَذِهِ الطَّعَامِ الَّذِيْ دُعِيْتُ اِلَيْهِ فَاِنْ لَمْ تَحْمِنِيْ مِنْهُ فَلَا تَدَعْهُ يُقِيْمُ فِيْ بَطْنِيْ وَاِنْ جَعَلْتَهُ يُقِيْمُ فِيْ بَطْنِيْ فَاحْمِنِيْ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِى الَّتِيْ تَنْشَأُ مِنْهُ عَادَةً فَاِنْ لَمْ تَحْمِنِيْ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِي فَاقْبَلْ اِسْتِغْفَارِيْ وَارْضَ عَنِّيْ أَصْحَابَ التَّبِعَاتِ فَإِنْ لَمْ تَقْبَلْ اِسْتِغْفَارِيْ وَلَمْ تَرْضَهُمْ عَنِّيْ فَصَبِّرْنِيْ عَلَى الْعَذَابِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
“Ya Allah jagalah aku dari makanan ini. Jika engkau tidak menjagaku maka jangan tinggalkan makanan ini berada di perutku. Jika engkau jadikan makanan tetap berada dalam perutku maka jagalan aku dari kemaksiatan yang timbul karenanya. Jika engkau tidak menjagaku dari maksiat, maka terimalah tobatku, dan jauhkanlah para penerima konsekuensi (atas dosanya sendiri) dariku. Jika engkau tidak menerima tobatku dan menjauhkan mereka dariku, maka berikanlah aku kesabaran menghadapi siksa, wahai Allah yang Maha Penyayang di antara para penyayang” (Syekh Nawawi al-Bantani, Qami ath-Thughyan, Indonesia: Haramain, hal. 12).
Demikian dua contoh doa dari Syekh al-Azhar dan Syekh Sya’rani terkait makan makanan syubhat. (nap)






