Surabaya (beritajatim.com) – Malam satu Suro atau malam satu Muharram 1447 H tahun ini bertepatan dengan Kamis malam Jumat Kliwon, 27 Juni 2025. Bagi masyarakat Jawa, malam ini dikenal sebagai malam keramat untuk melakukan ruwatan atau pembersihan batin dan benda pusaka. Sementara itu, umat Islam memperingatinya dengan memperbanyak doa dan amalan spiritual.
Dilansir dari kitab Maslakul Akhyar, terdapat sejumlah amalan dan doa yang dianjurkan untuk dibaca dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriyah.
Doa Akhir Tahun Hijriyah
Dibaca sebelum masuk waktu Magrib pada hari terakhir bulan Dzulhijjah:
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ، وَلَمْ تَرْضَهُ وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلُمْتَ عَنِّي بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي، وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرْأَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِي، وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَقَرَّبْتُ بِهِ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّي، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ
Bacaan Latin: Allahumma ma ‘amiltu min ‘amalin fi hadzihis sanati ma nahaitani ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fiha ‘alayya bi fadhlika ba’da qudratika ‘ala ‘uqubati, wa da’autan min bailat taubat ala ma’shiyatik. Fa inni asttagfiruka, faghfirli wa ma ‘amiltu fiha mibma tardha, wa wa’attani ‘alaihits tsawaba, fa’as’aluka an tataqabbala minni wa la taqtha’ raja’i minka ya karim.
Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang sedangkan aku belum sempat bertaubat. Perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu, sementara Engkau sebenarnya mampu untuk menyiksaku, dan perbuatan yang Kau perintahkan untuk bertobat, sementara aku menerjangnya yang berarti aku telah durhaka pada-Mu. Karena itu, aku memohon ampun pada-Mu. Ampunilah aku.”
Doa Awal Tahun Hijriyah
Dibaca setelah salat Magrib pada malam satu Muharram sebanyak tiga kali:
اللّٰهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْكَرِيْمِ الْمُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Bacaan Latin: Allahumma antal abadiyyul qadimul awwal. Wa ‘ala fadhlikal ‘azhimi wa karimi judikal mu’awwal. Hadza fihi minas syaithani wa auliyah’ih, wal ‘aunu ‘ala hadzhihin nafsil ammarati bis su’l, wal isytighala bima yuqarribuni ilaika zulfa, ya dzal ikralim.
Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujuk iblis dan para walinya di tahun ini.”
Amalan-amalan Sunnah di Malam Satu Suro
Beberapa amalan yang dianjurkan pada malam ini antara lain:
- Istigfar sebanyak 100x
- Shalawat sebanyak 100x
- Ya Rohman Ya Rohim 111x
- Tasbih 63x
- Laillaha illa anta subhannaka inni kuntu minaddolimin 63x
- Laillaha illa anta ya hayyu ya qoyyum 114x
- Hasbunallah wa ni’mal wakil 100x
- Hauqolah (laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim) 100x
- Laa ilaaha illallah 100x
- Ya Allah Ya Kabir Ya Latif ya Khobir ya Sami’ ya Basir 100x
- Solawat Nariyah 3x
- Al fatihah 3x
- Membaca Al-Qur’an
- Salat malam (tahajud, hajat, taubat)
Puasa Tasu’a dan Asyura
Dua hari penting dalam bulan Muharram adalah tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura), yang disunnahkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW menyebut bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
Niat puasa Tasu’a (9 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ تَاسُوعَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Tasu’a lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tasu’a esok hari karena Allah SWT.”
Niat puasa Asyura (10 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Asyura lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Malam satu Suro merupakan momen penting yang sarat makna spiritual. Selain menjadi warisan budaya kejawen, malam ini juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan refleksi, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. [ian]






