Sidoarjo (beritajatim.com) – Suasana di Kampung Edukasi Sampah (KES), Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, tampak berbeda pagi ini. Di tengah peringatan Hari Pahlawan, semangat perjuangan tak lagi diwujudkan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menjaga bumi dari timbunan sampah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, memilih momentum bersejarah ini untuk belajar langsung ke Kampung Edukasi Sampah, sebuah kawasan yang telah menjadi contoh nyata gerakan lingkungan berbasis masyarakat. Kunjungan ini dipimpin oleh Sekretaris DLH Paser, Ruslya Aswina, SP, bersama Plt. Kabid PPKLH, Akhmad Jazuli, ST, serta jajaran teknis lainnya.
“Jika dahulu pahlawan berjuang di medan perang, maka kini pahlawan lahir dari mereka yang memilah sampah, mengolah limbah, dan menjaga bumi demi masa depan generasi mendatang,” ujar Ruslya Aswina saat menyapa warga KES.
Rombongan disambut hangat oleh penggagas Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, beserta para pegiat lingkungan. Mereka diajak berkeliling menyaksikan langsung bagaimana warga menerapkan prinsip zero waste dalam keseharian. Sampah dapur diolah menjadi pupuk organik, plastik dan kardus disetor ke Bank Sampah Telulikur, sementara air limbah rumah tangga dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman melalui IPAL komunal.
Menurut Akhmad Jazuli, kunjungan ini bukan sekadar studi teknis, melainkan perjalanan reflektif tentang bagaimana masyarakat bisa menjadi motor perubahan.
“Kami belajar bahwa kesadaran kolektif adalah kunci. Sistem di sini sederhana, tapi kuat karena dijalankan dengan gotong royong dan konsistensi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semangat kepahlawanan di era modern harus diwujudkan dalam upaya menyelamatkan lingkungan. “Gerakan menjaga bumi harus lintas sektor: pemerintah, sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha. Ini bukan sekadar program, tapi gerakan moral,” tegas Jazuli.
Edi Priyanto, yang menjadi penggerak utama lahirnya Kampung Edukasi Sampah, mengatakan bahwa kepahlawanan masa kini lahir dari tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. “Melihat membuat kita percaya, mencoba membuat kita berubah, dan konsisten membuat peradaban. Itulah semangat kami di sini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan perubahan tidak bergantung pada fasilitas, tetapi pada kemauan masyarakat untuk bergerak bersama. “Kami terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar. Karena meniru kebaikan adalah langkah awal dari perubahan,” tambah Edi.
Selama kunjungan, DLH Kabupaten Paser mendapatkan banyak inspirasi tentang bagaimana membangun kesadaran lingkungan melalui edukasi, keteladanan, dan partisipasi warga.
“Yang kami pelajari bukan hanya teknis pengelolaan sampah, tapi juga semangatnya, semangat kebersamaan dan cinta lingkungan,” kata Ruslya Aswina menutup kunjungan.
DLH Kabupaten Paser berkomitmen membawa semangat ini ke daerahnya, menumbuhkan lebih banyak “pahlawan lingkungan” di Tanah Grogot dan seluruh Kalimantan Timur. Karena di era modern ini, kepahlawanan tidak lagi diukur dari medan perang, melainkan dari seberapa besar kita menjaga bumi tempat kita berpijak.[rea]






