Ponorogo (beritajatim.com) – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan (Dispertahankan) Kabupaten Ponorogo tengah mencari solusi kelangkaan obat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Saat ini permintaan akan obat tersebut meninggi di Ponorogo.
“Obat memang ada kelangkaan,” ujar Kepala Dispertahankan Ponorogo, Masun, Rabu (8/6/2022).
Meski begitu, ada kabar yang melegakan. Salah satu vendor obat untuk penanganan PMK mau membantu dalam menyediakan stok dengan catatan penambahan kasus sapi terkena PMK tidak masif.
“Kalau kita ingin mengendalikan persediaan obat, kasus PMK juga harus tidak masif. Sebab, jika banyak yang terjangkit stok obat yang diberikan penyedia bisa habis dalam waktu seminggu,” ungkapnya.
Saat ini, Dispertahankan Ponorogo fokus pada penanganan kasus PMK yang menjangkiti sapi-sapi perah di Kecamatan Pudak. Sebab, jika dipersentase, kasus PMK di Pudak mencapai 60 persen lebih.
Dia menyebut pengobatan sapi yang terjangkit PMK ini gratis dibiayai oleh Pemerintah.
“Obat yang kita keluarkan gratis, bantuan dari Pemerintah,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ponorogo”]
Untuk diketahui, banyaknya kasus PMK di Ponorogo membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mengambil kebijakan. Yakni penutupan Pasar hewan Jetis. Penutupan ini dilakukan untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku ( PMK), supaya tidak meluas di Kabupaten Ponorogo. Pasalnya, hingga saat ini tercatat ada ratusan kasus PMK yang sudah ada di 10 kecamatan.
Penutupan pasar hewan Jetis ini, sudah berdasarkan dari rekomendasi pejabat otoritas veteriner (oto-vet). Dari hasil kajian dari pejabat inilah, untuk pencegahan penyakit PMK lebih meluas, direkomendasikan ditutup. Bapak Bupati, kata Masun juga setuju penutupan ini. Hal itu dilakukan supaya tidak gaduh sampai hari raya tiba.
“Sudah kami konsultasikan ke Bapak Bupati, juga menyetujui. Biar tidak gaduh, dan menghindari penyebaran PMK yang lebih meluas,” ungkap Masun. (end/beq)






