Malang (beritajatim.com) – Malam itu, Jumat (28/2/2025), suasana Balai Kota Malang berbeda dari biasanya. Lampu-lampu temaram menyinari halaman, sementara dentingan hadrah dan lantunan sholawat menggema di udara, menciptakan nuansa sakral yang membaur dengan semangat kebersamaan.
Di antara deretan pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) yang berbaris rapi, sosok yang ditunggu akhirnya tiba: Wahyu Hidayat, Wali Kota Malang yang baru saja dilantik.
Didampingi oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, Wahyu melangkah perlahan melewati gerbang Balai Kota. Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, berdiri di garis depan, siap menyambut dengan senyum yang mengembang.
Bagi Wahyu, ini bukan sekadar perayaan. Ini adalah awal dari perjalanan panjang membangun Kota Malang yang lebih baik.
“Menjadi hal yang berbahagia melihat penyambutan yang luar biasa ini,” kata Wahyu dengan nada tulus.
“Ini bukan hanya seremoni, tetapi juga bentuk penghormatan yang mengingatkan kita bahwa membangun kota ini adalah tanggung jawab bersama.” imbuh Wahyu.
Sejenak, matanya menyapu sekeliling. Sorot penuh harapan terlihat dari wajah para pegawai yang menyambutnya.
Ia paham, ekspektasi masyarakat tinggi. Namun, bagi Wahyu, tugas ini bukan soal dirinya semata, melainkan soal bagaimana seluruh elemen di Kota Malang dapat bersinergi.
Meski merasa terhormat dengan penyambutan ini, Wahyu mengakui awalnya ia tidak ingin ada acara semacam ini.
“Saya sebenarnya tidak ingin merepotkan,” ungkapnya, “tapi ternyata Pak Sekda sudah menyiapkan. Beliau berpesan bahwa Pemkot Malang harus menyambut lebih dulu sebelum masyarakat dan komunitas.”kata Wahyu
Kini, setelah melewati pelantikan di Jakarta dan retret di Akademi Militer Magelang, Wahyu siap menjalankan amanahnya. Dengan penuh keyakinan, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Kota Malang.
“Saatnya kita kembali bersatu membangun Kota Malang,”tegasnya. “Lima tahun ke depan adalah waktu bagi kita semua untuk berkolaborasi, bukan hanya pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.”pungkasnya.
Malam itu, di bawah langit Malang yang teduh, semangat baru terpatri di Balai Kota. Sebuah awal baru telah dimulai, dengan harapan dan kerja sama sebagai pijakan utama. (luc/ted)






