Surabaya (beritajatim.com) – Di bawah langit senja Stadion Gelora Bung Tomo, Jumat malam itu, pertandingan perdana Persebaya Surabaya diwarnai kejutan yang tak tertulis di lembar jadwal resmi.
Di antara lautan hijau Bonek, nyanyian beraksen khas Yogyakarta terdengar jelas. Suporter PSIM Yogyakarta hadir, meski regulasi melarang pendukung tim tamu masuk stadion.
Bagi banyak orang, ini adalah pemandangan yang tak biasa—bahkan berani—mengingat sejarah hubungan kedua kelompok suporter yang sarat emosi.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, memilih menanggapi dengan tenang, menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
“Kehadiran suporter PSIM itu menjadi ranah Komdis PSSI. Tapi ada sisi positifnya juga: meskipun tim tamu menang, tidak ada kericuhan. Suporter tuan rumah tetap sportif,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025)
Menurut Ferry, atmosfer GBT tetap kondusif. Kekalahan Bruno Moreira dan kawan-kawan dari Laskar Mataram tidak memicu ketegangan. Bonek, yang dikenal vokal dan penuh energi, menerima hasil itu dengan lapang dada. Sebaliknya, suporter PSIM justru mempertegas identitas mereka dengan chant-chant khas Jogja yang bergema di tribun.
Rivalitas yang Pernah Membara
Hubungan Bonek dan suporter PSIM, Brajamusti maupun The Maident, pernah diwarnai tensi tinggi pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an.
Apalagi dulu pernah ada seorang Bonek yg meninggal di Stadion Mandala Krida akibat berdesak-desakanan, namun hubungan PSIM Fans dengan Bonek tetap berjalan baik.
Rivalitas itu tak lepas dari faktor kedekatan geografis dan sejarah persaingan klub Jawa Timur–DIY dalam kompetisi nasional.
Pertemuan kedua tim kerap dianggap laga “penuh gengsi”, di mana tensi antarpendukung kadang memanas di dalam maupun luar stadion.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran suasana. Upaya perdamaian, komunikasi antarkoordinator suporter, dan kesadaran bahwa sepak bola adalah ruang persatuan, mulai membentuk hubungan yang lebih bersahabat.
Momen di GBT ini, di mana dua kelompok suporter bisa berbagi tribun tanpa insiden, menjadi bukti nyata perubahan itu.
“Larangan itu tetap ada, dan ini menjadi catatan kami. Tapi soal sanksi, itu ada di Komdis untuk menindaklanjuti,” pungkas Ferry.
Insiden di GBT bukan sekadar pelanggaran regulasi. Ia menjadi cermin bagaimana gairah sepak bola Indonesia, dengan sejarah rivalitas dan persahabatan yang rumit, kerap menembus batas-batas aturan formal—kadang dengan risiko, kadang dengan pesan perdamaian. (ted)






