Malang (beritajatim.com) – Penelitian yang dipimpin dosen Universitas Ma Chung menggagas terobosan pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) melalui konsep Diplomasi Rasa. Gagasan ini menyoroti kekayaan gastronomi Nusantara sebagai alat diplomasi budaya yang dinilai efektif untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia.
Ide tersebut menjadi topik utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Diplomasi Rasa dalam Pembelajaran BIPA yang digelar di Hotel Savana Malang, Sabtu (13/9/2025). Acara ini merupakan bagian dari luaran penelitian hibah BIMA dengan skema dosen pemula yang diketuai Yohanna Nirmalasari, S.Pd., M.Pd., bersama anggota tim, Lilis Lestari Wilujeng, S.S., M.Hum., dan mahasiswa Prodi Bahasa Mandarin Universitas Ma Chung.
Yohanna menjelaskan inspirasi penelitian berawal dari interaksi dengan pembelajar BIPA asal Austria. Mahasiswa tersebut mempertanyakan mengapa Indonesia tidak memanfaatkan kuliner sebagai diplomasi lunak seperti Korea atau Malaysia.
“Dia merasa rasa masakan Indonesia itu sangat unik dan berbeda dari Eropa. Rasa itulah yang mengikatnya untuk ingin kembali lagi ke Indonesia,” jelas Yohanna.
Menurutnya, banyak mahasiswa asing yang awalnya tidak tertarik dengan bahasa, justru jatuh cinta pada makanan Indonesia. “Mereka rela membayar mahal di warung Indonesia di Wina hanya untuk menikmati rasa yang mereka rindukan,” tambahnya.
Kesadaran ini mendorong lahirnya penelitian untuk memetakan bagaimana gastronomi dapat memperkaya bahan ajar BIPA. Ketua APBIPA Pusat, Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., menegaskan bahwa BIPA adalah bidang multidisiplin sehingga pariwisata gastronomi bisa menjadi materi otentik yang efektif.
“Proses integrasi ini bisa dilakukan di dalam kelas melalui materi visual dan naratif, maupun di luar kelas lewat kelas kunjungan yang melibatkan guru dan mitra bahasa lokal,” jelas Prof Gatut.

Sementara itu, Direktur Menara Bahasa, Dr. Wati Istanti, M.Pd., memaparkan langkah praktis mengubah teori gastronomi menjadi kurikulum BIPA yang terstruktur. Menurutnya, gastronomi bukan sekadar kuliner, tetapi juga mencakup seni, budaya, dan filosofi di balik hidangan.
“Prosesnya dimulai dari standardisasi BIPA, pemetaan kompetensi, penyusunan RPS yang lengkap, hingga pengembangan materi dan media ajar yang tematik dan menarik,” terang Wati.
FGD ini dihadiri sekitar 30 pengajar dan praktisi BIPA dari berbagai kampus di Malang, mulai Universitas Negeri Malang (UM), UNISMA, UIN, Universitas Brawijaya, IKIP Budi Utomo, UNMER, Polinema, hingga BINUS.
Nian, pengajar BIPA dari Insan Budi Utomo, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari interaksi dengan mahasiswa asing. “Awalnya kurang tertarik, tapi setelah kenal pemelajar dari negara lain, bisa saling berbagi budaya dan bahasa, rasanya sangat menyenangkan,” katanya.
Sebagai luaran konkret, penelitian ini menargetkan Peta Rasa Nusantara yang mendokumentasikan berbagai makanan potensial untuk dijadikan materi ajar BIPA.
“Harapan saya, hasil kegiatan ini tidak berhenti di sini. Semoga para pengajar lebih berani mengeksplorasi makanan khas daerah selain yang sudah populer, sehingga terciptalah ekosistem gastronomi pariwisata dalam pembelajaran BIPA,” tutup Yohanna. [dan/beq]






