Sumenep (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mengerahkan tim keamanan pangan profesional untuk memastikan seluruh takjil Ramadan 2026 yang dijual maupun dibagikan secara gratis sepenuhnya aman dikonsumsi. Langkah proaktif ini dilakukan guna melindungi warga dari risiko kontaminasi bakteri serta penyalahgunaan zat kimia berbahaya pada menu berbuka puasa di seluruh wilayah Sumenep.
Para petugas akan menyisir berbagai pusat takjil dengan membawa peralatan khusus untuk melakukan pengujian laboratorium lapangan secara acak.
“Kami punya tim keamanan pangan yang akan mengunjungi tempat-tempat penjualan takjil dan melakukan pengecekan kondisi makanan yang dijual,” kata Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg Ellya Fardasah, Selasa (24/2/2026).
Pemeriksaan dilakukan secara mendadak menyasar pusat-pusat keramaian yang menjadi titik kumpul para pedagang musiman setiap sore menjelang waktu berbuka. Ellya menegaskan bahwa tim di lapangan telah dibekali perangkat canggih untuk mendeteksi kualitas serta kandungan bahan makanan secara akurat.
Penggunaan teknologi portabel ini memungkinkan hasil pengecekan diketahui dalam waktu singkat demi menjamin keamanan para konsumen di bazar Ramadan.
“Tim kami dilengkapi dengan ‘sanitarian kit’ untuk memastikan kondisi makanan sehat dan aman dikonsumsi,” ujarnya.
Pengawasan ketat ini dipastikan menjangkau seluruh wilayah, mulai dari kawasan pusat kota hingga ke pelosok kecamatan di Kabupaten Sumenep. Hal tersebut dilakukan agar standar keamanan pangan merata di seluruh titik penjualan takjil tanpa terkecuali selama Bulan Suci.
Petugas kesehatan di tingkat akar rumput juga diberikan wewenang penuh untuk melakukan inspeksi mendadak di bazar-bazar lokal di setiap wilayah.
“Jadi nanti petugas kami di tingkat kecamatan atau Puskesmas-Puskesmas juga akan turun ke bazar-bazar takjil Ramadan untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan,” ungkapnya.
Selain menyasar lapak dagangan, tim keamanan pangan turut memantau kualitas takjil yang dibagikan secara cuma-cuma oleh komunitas maupun perorangan. Upaya ini dilakukan karena takjil gratis memiliki potensi risiko keamanan pangan yang sama dengan produk yang diperjualbelikan secara komersial.
Dinkes Sumenep mengimbau para donatur takjil untuk senantiasa berkomunikasi dengan otoritas kesehatan guna memastikan kualitas sajian yang diberikan kepada masyarakat.
“Tentu saja kami berharap agar pihak yang berencana membagikan takjil bisa berkoordinasi dengan Dinkes apabila ingin memastikan makanan yang dibagikan memenuhi standar keamanan pangan,” terangnya.
Selain aspek pemeriksaan teknis, para petugas juga mengemban misi edukasi bagi para pedagang mengenai pentingnya higiene dalam proses pengolahan makanan. Pedagang didorong untuk selalu memperhatikan kebersihan alat masak dan kemasan guna menjaga kepercayaan serta kesehatan para pembeli.
Proses pengolahan yang bersih menjadi kunci utama agar takjil yang dijajakan tidak menjadi sumber penyakit bagi konsumen akibat kontaminasi bakteri. “Ini juga penting dilakukan, memastikan kebersihan makanan yang dijual agar tidak terkontaminasi dan tetap higienis,” tandasnya. [tem/beq]






