Pamekasan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, mengimbau sekaligus mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terhadap penyakit Demam Berdarah dengue (DBD) yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.
Sebab penyakit berupa virus yang dibawa nyamuk dan biasa terjadi di daerah tropis dan subtropis, seperti di Indonesia. Terbilang sangat berbahaya dan memiliki resiko besar bagi orang yang terserang penyakit parah, tidak hanya bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak.
Terhitung sejak awal Januari 2022, terdapat sekitar 43 kasus pasien menderita penyakit DBD di kabupaten Pamekasan. Bahkan 3 (tiga) pasien di antaranya meninggal dunia akibat penyakit dengan gejala demam, raut, serta nyeri otot dan sendi.
“Sejak awal Januari 2022 hingga saat ini, di Pamekasan sudah tercatat 43 pasien kasus DBD, tiga orang pasien meninggal dunia,” kata Kepala Dinkes Pamekasan, dr Saifuddin melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Hidayat, Jum’at (21/1/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”dinkes-pamekasan”]
Lebih lanjut disampaikan jika kasus DBD biasa meningkat seiring musim penghujan yang melanda wilayah setempat. “Kasus DBD ini setiap tahun mesti ada dan bersifat musiman, sehingga dari itu masyarakat harus selalu waspada,” ungkapnya.
“Selama ini kami juga intens memberikan penyuluhan terkait pemberantasan sarang nyamuk, salah satunya dengan sosialisasi pencegahan dengan cara 3M, menguras dan menutup penampung air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” jelasnya.
Tidak hanya itu, gejala DBD menjangkit anak-anak bisa diketahui melalui suhu panas tubuh lebih dari 38 derajat celsius, serta kurangnya nafsu makan. “Jadi jika itu terjadi dan tidak turun sekalipun sudah diberi obat selama dua hingga tiga hari, sebaiknya segera dibawa ke tenaga kesehatan, baik Puskesmas ataupun Rumah Sakit,” pungkasnya. [pin/ted]






