Jember (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menduga cemaran bahan kimia pada sayur mentah yang menjadi bahan makanan dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG), menyebabkan keracunan di Sekolah Dasar Negeri 05, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, pada 25 September 2025.
Hasil analisis ini dijelaskan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Jember Rita Wahyuningsih, saar bertemu Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia Anis Hidayah, di kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Sabtu (4/10/2025).
“Pada pukul 09.00 WIB, 58 orang siswa menerima MBG, dan menurut keterangan guru, sejumlah siswa berteriak-teriak, jika makanannya terdapat belatung. Beberapa siswa yang telah makan makanan tersebut mengalami gejala sakit,” kata Rita.
Pukul 09.30, menurut Rita, pihak sekolah melaporkan kepada petugas MBG Lima orang siswa yang mengeluh dibawa ke Puskesmas Semboro.
Keesokan harinya, 26 September 2025, petugas Dinkes Jember mengunjungi SDN Sdomekar 05. “Berdasarkan keterangan dari guru, terdapat 16 siswa yang bergejala,” kata Rita.
Hari itu juga, petugas puskesmas dan lembaga lintas sektor mengunjungi dapur MBG di Semboro. Mereka mencari informasi lebih lanjut soal proses penyediaan makanan, termasuk mengecek tanggal kedaluwarsa makanan. “Untuk roti ini tidak ada informasi ED-nya (tanggal kedaluwarsa,red),” kata Rita.
Pemantauan terhadap kondisi siswa berlanjut hingga 27 September 2025. Dari sana diketahui, 27 orang siswa bergejala keracunan. Dengan demikian total ada 37 orang siswa mengalami gejala keracunan.
“Pada 27 September itu, didapatkan ada 11 siswa yang masih sakit dengan keluhan: tujuh orang anak nyeri perut, dua orang anak mengeluh pusing dan nyer perut, dan yang lainnya mual. Beberapa siswa yang tidak mengalami keluhan masih bisa mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa,” kata Rita.
Dinkes Jember kemudian menganalisis detail kronologi kejadian untuk mencari tahu akar persoalan tersebut.
“Ada keluhan mual, muntah, pusing, nyeri perut, diare dan demam. Kalau sesuai data itu, memang terjadi peningkatan jumlah keluhan pada 10 menit, dari jam 9:20 sampai jam 9:30. Itu yang mual keluhannya ada 17 orang, untuk yang muntah ada 12 orang, dan yang mengeluh nyeri perut ada 7 orang,” kata Rita.
“Sehingga yang paling banyak ditemukan adalah keluhan mual, pada 26 anak. Untuk nyeri perut itu ada 22 anak, dan yang muntah 15 orang, serta yang pusing ada 10 orang,” kata Rita. Tidak ditemukan laporan demam dan diare yang menonjol, sehingga menurut Rita, pola gejala tersebut mengarah pada keracunan akut saluran cerna.
Selanjutnya, petugas Dinkes membandingkan semua makanan yang dikonsumsi para siswa. “Jadi kita petakan satu persatu. Kami sudah kami menggunakan rumus rasio attack untuk menilai dengan perbandingan attack rate-nya,” kata Rita.
“Jadi di sini ada roti tawar, telur rebus goreng, selada, timun, mayones, saus sachet, keju parut, susu UHT, mendol tempe. Selada dan timun merupakan makanan yang paling kuat dikaitkan dengan dugaan keracunan, dengan mempertimbangkan kejadian yang cepat yaitu 10 sampai 15 menit (setelah mengonsumsi),” kata Rita.
“Dugaan penyebab paling mungkin adalah akibat paparan bahan kimia atau bisa diasumsikan ada residu pestisida atau deterjen, pada sayuran mentah,” tambah Rita.
Memastikan dugaan itu, Dinkes Jember mengambil sampel makanan dan mengirimkannya ke laboratorium di Surabaya. “Hasilnya belum kami peroleh. Untuk pengiriman sampel makanan ini, kami melakukan pemeriksaan untuk dua kategori yaitu mikrobiologi maupun kimia,” kata Rita.
Anis Hidayah hasil temuan di Jember bisa menjadi masukan konstruktif untuk pelaksanaan MBG ke depan. “Masalahnya ada di menu dan proses masaknya. Mungkin karena tadi ada pestisida dan deterjen,” katanya.
“Kalau deterjen itu kan kira-kira pada saat pencucian bahan makanan. Tapi kalau pestisida terkait dengan kualitas bahannya sebelum dimasak. Jadi, sejak kualitas bahan sampai proses masaknya, nampaknya memang ada persoalan,” katanya.
Anis memuji respons cepat Dinkes Jember. “Mudah-mudahan tidak ada kasus terus berikutnya setelah penanganan seperti ini,” katanya.
Anis meminta kepada Dinkes Jember untuk mengirimkan hasil uji laboratorium sampel makanan kepada Komnas HAM. Menurutnya, penanganan cepat terhadap kasus bisa menjadi standar Badan Gizi Nasional untuk meminimalkan kasus-kasus serupa.
“Enam ribu (orang korban dugaan keracunan massal MBG di seluruh Indonesia) itu kan cukup besar. Kalau kita bicara hak asasi, satu kasus saja harus dihitung,” katanya.
Menurut Anis, jumlah korban tidak bisa dikerangkai dalam persentase dari penerima MBG keseluruhan. “Sekecil apapun itu tetap masalah. Apalagi kalau nantinya Komnas HAM sudah selesai (menyelidiki), ini potensi pelanggaran HAM-nya apa saja,” katanya. [wir]






