Probolinggo (beritajatim.com) – Nama Dimas Kanjeng Taat Pribadi, tokoh kontroversial asal Probolinggo yang pernah menghebohkan Indonesia dengan klaim “menggandakan uang”, kembali mencuat ke publik wilayah Tapal Kuda.
Setelah lama mendekam di penjara, pemilik Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Gading Wetan Kecamatan Gading itu kini bebas bersyarat dan kembali menempati padepokannya — membuat publik terkejut sekaligus penasaran.
Kemunculannya beberapa waktu lalu sontak viral di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana pria yang sempat divonis dalam dua kasus besar, pembunuhan dan penggelapan, kini dapat beraktivitas lagi di padepokan.
Dimas Kanjeng menjadi sorotan nasional pada tahun 2016–2017. Ribuan orang dari berbagai daerah datang kepadanya, percaya pada klaim kemampuan menggandakan uang. Namun, di balik itu, dua pengikutnya — Ismail dan Abdul Ghani — ditemukan tewas, yang kemudian menyeret sang guru spiritual ke meja hijau.
Penangkapannya kala itu berlangsung dramatis. Polisi harus mengerahkan pasukan Brimob lengkap dengan kendaraan taktis Baracuda untuk mengamankan pengepungan di padepokan yang dikenal tertutup itu.
Kini, setelah sembilan tahun menjalani hukuman, Dimas Kanjeng dinyatakan memenuhi syarat bebas bersyarat sejak April 2025. Ia kembali ke padepokan lamanya, meski masih berada dalam pengawasan hukum.
Humas Pengadilan Negeri Kraksaan, Nanang Adi Wijaya, menjelaskan bahwa Dimas Kanjeng menjalani empat kali persidangan pada 2017 — dua di PN Kraksaan dan dua di PN Surabaya — masing-masing untuk perkara pembunuhan dan penggelapan.
“Proses hukumnya telah selesai dan vonisnya sudah berkekuatan hukum tetap,” ungkap Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo, Taufiq Eka Purwanto, Rabu (5/11/2025).
Ia menegaskan, Dimas Kanjeng masih wajib lapor setiap dua pekan sekali sebagai bagian dari kontrol pasca-bebas bersyarat.
Namun kebebasannya langsung menarik perhatian. Padepokan Dimas Kanjeng kembali ramai didatangi pengikut lama dan simpatisan baru.
Bahkan, mereka sempat menggelar perayaan Hari Kemerdekaan RI di kompleks padepokan pada Agustus lalu, dengan suasana meriah layaknya tak pernah ada sejarah kelam di sana.
Kembalinya Dimas Kanjeng memunculkan dua sisi reaksi publik: sebagian penasaran dengan “kembalinya sang guru spiritual”, sementara lainnya khawatir praktik lama bisa berulang.
Satu hal pasti — fenomena Dimas Kanjeng belum sepenuhnya berakhir. Ia mungkin tak lagi di balik jeruji, tapi kisahnya masih terus bergema di tengah masyarakat. (ada/ted)






