Lamongan (beritajatim.com) – Harga Daging sapi yang terus mengalami kenaikan dalam tahun ini, membuat pedagang bakso di Kabupaten Lamongan menghadapi dilema.
Kenaikan harga daging di Lamongan berlangsung secara bertahap. Sejak Januari lalu, terhitung sudah terjadi 5 kali kenaikan. Mulai dari harga Rp 110 ribu per kilogram pada januari, dan saat ini menyentuh Rp30 ribu per kilogram.
“Kemarin itu pas hari raya itu, eh pas sesudah hari raya kemarin (harga daging) kan Rp125 ribu, terus naik lagi jadi Rp130. Ya, sampai kemarin itu Rp130,” kata Khoirul, pemilik Bakso Unggulan Cak Suin, di depan SMP Negeri 1 Lamongan, saat ditemui, Rabu (15/7/2026).
Menurut Khoirul, kenaikan harga daging sapi yang terus terjadi, berdampak besar terhadap penjual makanan yang menggunakan bahan baku daging sapi, khususnya penjual bakso seperti dirinya.
Situasi tersebut membuat Khoirul dilanda dilema, antara menaikkan harga bakso atau tidak, yang sama-sama memiliki risiko terhadap keberlangsungan usahanya.
Jika tidak menaikkan harga bakso, kata Khoirul, tingginya harga daging sapi akan membuat pemasukan tidak sebanding dengan pengeluaran. Sebab, bahan baku lain seperti tepung juga naik. Belum lagi harus membayar upah pekerja.
Sedangkan jika menaikkan harga bakso, persoalan lain juga akan muncul. Khoirul khawatir ketika harga bakso dinaikkan, pelanggan akan berkurang, karena merasa sudah tidak terjangkau.
“Otomatis pedagang-pedagang, terutama kayak warung-warung gini juga bingung. Mau naikkan harga jual juga takut gitu lho, takut apa ya, takit pelanggan-pelanggan keberatan gitu lho. Tapi kalau gak dinaikkan juga bingung ngatur keuangannya, gitu lho mas,” tuturnya.
Meski dirasa berat dengan tingginya harga daging sapi, namun untuk sementara waktu, Khoirul lebih memiih untuk tetap bertahan tanpa menaikkan harga baksonya.
“Ya mau gimana lagi. Kita orang kecil nggak bisa apa-apa mas Untuk sementara ini ya bertahan dulu,” ucapnya.
Sementara disinggung mengenai liburnya para pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kecamatan Lamongan, Khoirul mengaku sudah mengantisipasi dengan mengamankan stok daging untuk 3 hari ke depan.
“Tapi gak tahu kalau besok itu. Habis libur tiga hari itu gak tahu, jadi berapa (harga daging) juga gak tahu. Nunggu konfirmasi dari pihak penjual daging aja. Kita-kita ini pedagang ya manut aja mas. Namanya juga orang kecil. Harapannya pedagang-pedagang semua ini ya, kalau bisa itu harganya itu jangan sampai terlalu tinggi gitu lho,” kata Khoirul.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Shofiah Nurhayati, memperkirakan salah satu penyebab tingginya harga daging sapi, masih berkaitan dengan tingginya kebutuhan sapi saat Hari Raya Iduladha.
“Sepertinya ini anomali setelah Iduladha, banyak kandang yang belum terisi,” kata Shofiah. (fak/ian)






