Surabaya (beritajatim.com) – Prof Joni Wahyuhadi dikukuhkan menjadi Guru Besar Unair Bidang Ilmu Glioma Molecular and Surgery. Dalam orasinya, ia membeberkan soal glioma alias tumor otak.
Prof Joni mengatakan, bahwa masyarakat perlu mengetahui kondisi gawat darurat pada penderita tumor otak, sebab bisa menjadi petaka bagi penderita jika penanganannya tidak tepat atau adequad.
Kata dia, tumor otak berdasar asal sel tumor dibagi menjadi dua yaitu tumor otak primer dan sekunder. Tumor otak primer di mana sel tumor berasal dari sel-sel yang membentuk otak dan yang ada di rongga kepala.
Sementara sel tumor berasal dari luar rongga kepala. Tumor otak sekunder sering disebut tumor otak metastase. Ia mengungkapkan, setiap tahunnya ada 20.500 diagnosis baru, dan 12.500 kematian akibat tumor otak di Amerika.
Sedangkan kasus glioblastoma di Kota Surabaya, khususnya di RSUD Dr Soetomo pada tahun 2002 sampai 2004 ditemukan sebanyak 405 tumor otak, 29 penderita adalah Glioblastoma Multiforme (GBM).
“Dari tahun 2013 hingga 2023 tercatat 580 kasus glioma, baik yang dilakukan operatif maupun non-operatif,” ungkap guru besar Fakultas Kedokteran Unair ke-128 tersebut, ditulis Jumat (28/7/2023).
Ia menambahkan, kegawatan pada penderita tumor otak sampai saat ini masih menjadi masalah besar, utamanya di Indonesia. Salah satunya pelayanan kesehatan yang belum merata keberadaan dan kemampuannya.
Munculnya gejala dan tanda tidak selalu lengkap. Menurut Prof Joni, adanya salah satu atau dua dari gejala, sudah seharusnya penderita memeriksakan diri pada dokter yang bertanggung jawab pada penyakit tersebut.
“Saat ini tindakan diagnostik untuk mendeteksi kegawatan ini yang terbaik adalah pemeriksaan CT scan kepala. Sehingga dokter bisa cepat memberikan bantuan sesuai dengan penyebabnya,” katanya.
Ia melanjutkan, bahwa penanganan operasi yang terencana dan gawat darurat dengan dukungan alat modern seperti mikroskop operasi, neuronavigasi, stereotaksis dan lainnya serta kehandalan SDM dalam suatu tim yang kompeten dan solid makin memberikan harapan penyelamatan pasien tumor otak.
“Manajemen tumor otak sudah sangat berkembang, khususnya di RSUD Dr Soetomo. Namun, pemahaman tentang tumor otak terutama kegawatannya menjadi sesuatu keniscayaan bagi masyarakat untuk bersama meningkatkan angka harapan hidup dan meminimalkan kecacatan akibat tumor otak,” pungkasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA:
Guru Besar Unair Minta Ada Batasan Penggunaan Gadget






