Malang (beritajatim.com) – Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) bersama Universitas Brawijaya (UB) mengumumkan kolaborasi strategis untuk merevitalisasi ekonomi pedesaan secara masif. Program ini bertujuan menciptakan desa mandiri agar para pemuda tidak perlu lagi meninggalkan kampung halaman demi mencari pekerjaan di kota.
Kesepakatan ini diumumkan dalam Rapat Terbuka Senat Akademik dan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB di Gedung Widyaloka, Rabu (29/10/2025).
Menteri Koperasi dan UKM RI, Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si., menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk kembali ke sistem ekonomi konstitusi, yakni Ekonomi Pancasila. Dalam sistem tersebut, koperasi diharapkan menjadi instrumen perjuangan dan agen perubahan utama.
“Kami dari Kementerian Koperasi merasa tersanjung dan terhormat bisa mendapatkan dukungan luar biasa dari Universitas Brawijaya untuk sama-sama membangun desa melalui koperasi,” ujar Ferry Juliantono.
Ferry menjelaskan, program yang diusung bernama Koperasi Merah Putih, yang akan membangun ekosistem bisnis di desa guna mewujudkan desa mandiri. “Tujuannya agar uang yang berputar di desa bisa kembali ke desa. Kita akan membangun bisnis di desa melalui koperasi,” tegasnya.
Untuk mendukung program tersebut, Kemenkop tengah gencar membangun infrastruktur fisik seperti gudang dan gerai, serta melakukan inventarisasi tanah strategis dan pemanfaatan aset negara di wilayah pedesaan.
“Sekarang sudah berjalan di lebih dari seribu titik. Ini terus kita lakukan secara simultan karena kita ingin populasi desa menjadi modern,” tambah Ferry.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyambut antusias inisiatif tersebut. Menurutnya, gerakan Koperasi Merah Putih sangat strategis untuk membangun Indonesia dari akar ekonomi rakyat, mengingat sebagian besar populasi dan sumber daya alam berada di desa.
“Kalau ekonomi desa tumbuh, masyarakat—khususnya pemuda—tidak perlu keluar desa untuk mencari pekerjaan,” jelas Prof. Widodo.
Rektor UB menegaskan, kolaborasi ini merupakan bentuk nyata peran perguruan tinggi yang hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar menjadi menara gading.
UB berkomitmen mengerahkan seluruh sumber dayanya, termasuk 17 hingga 18 fakultas, untuk mendukung program Kemenkop ini. Universitas juga akan menjadikan gerakan ini sebagai “living laboratory” (laboratorium hidup) bagi mahasiswa dan dosen.
“Kita punya program Dosen Mengabdi dan Mahasiswa Membangun Desa. Keduanya bisa diarahkan untuk membantu koperasi yang ada di desa-desa. Artinya, kita akan bergotong-royong,” pungkas Prof. Widodo. [kun]






