Situbondo (beritajatim.com) – Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo membuktikan ancamannya untuk memburu penimbun bahan bakar minyak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timut, sepulang dari Jakarta, Rabu (30/7/2025) sore.
Inspeksi dadakan dilakukan Rio bersama Wakil Kepala Kepolisian Resor Situbondo Komisaris Indah Citra Fitriani di SPBU 54.683.06 di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Antrean panjang terjadi di SPBU tersebut.
Sebelumnya melalui video yang tersebar di media sosial, Rio mengingatkan warga dengan bahasa Madura agar tidak menimbun BBM. Dengan gaya kocak, dia menyebut dirinya Ultraman, karakter tokoh pahlawan super dalam animasi Jepang.
“Yak Ultraman moliya. Sengak penimbun-penimbun bensin se ajuel larang bensin, sengak ye,” katanya dalam bahasa Madura, yang artinya ‘Ini Ultraman pulang. Awas penimbun-penimbun bensin yang menjual bensin dengan harga mahal, awas ya’.
Saat datang ke SPBU di Kalianget, Rio tidak tahu jika penimbun beraksi. Dia segera bergegas ke salah satu warung yang tak jauh dari SPBU, setelah salah satu warga melaporkan adanya aktivitas penimbunan BBM di sana.
“Mana, mana,” sergahnya.
Suasana pun berubah tegang saat Rio mengetahui adanya beberapa orang yang lari dari warung tersebut. “Mara, jhek buru be’en!” teriak Rio dalam bahasa Madura, yang artinya kurang lebih ‘hei, jangan lari kamu’.
Di sana, Rio menemukan 26 jerigen berisi BBM jenis Pertalite dan dua sepeda motor yang diduga digunakan untuk aksi penimbunan. “Pasti ngambil dari sini (SPBU) nih. Masih banyak ini isinya. Pasti orangnya ada di sini. Udah, bawa saja motornya,” katanya, berang.
Rio kemudian mendatangi petugas SPBU dan meminta agar tak melayani pembelian BBM dengan jerigen. “Kalau ada yang mengimbal (menimbun) tangkap saja, tidak apa-apa,” katanya dalam bahasa Madura, disambut tepuk tangan dan teriakan dukungan dari sejumlah pengantre.
Bupati Rio memerintahkan agar SPBU tersebut dikenakan sanksi karena melayani pembelian BBM dalam jumlah besar yang memicu kelangkaan. “Ini sanksi ini!” katanya.
Di tengah kemarahan itu, ada salah satu warga yang meminta selfie alias swafoto. Respons Bupati Rio dalam bahasa Madura membuat warga tertawa dan ketegangan agak mencair. “Ambu, jek a foto, engkok gik ngamok kade’,” katanya, yang artinya ‘sudah, jangan difoto, saya marah dulu’.
“Bener, Pak. Ngamok geluh, Pak,” sahut warga lainnya, yang artinya ‘betul, Pak, marah dulu saja, Pak’.
Tawa kembali pecah, saat Rio melihat seorang pria pengantre yang membawa tangki penyemprot hama warna biru. Rio mengira itu jerigen untuk mengisi BBM. “Tangki, Pak,” kata pria tersebut. Rio pun ikut tertawa. [wir]






