Situbondo (beritajatim.com) – Begitu menjabat menjadi bupati Situbondo, Jawa Timur, pada 20 Februari 2025, Yusuf Rio Wahyu Prayogo langsung memerintahkan pencairan gaji pegawai honorer non aparatur sipil negara (ASN).
“Aku sejak datang (memimpin) sudah bilang: tidak ada logikanya orang bekerja tidak dibayar. Baru datang aku minta kepada Sekda dan BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah) agar tidak menahan gaji honorer,” kata Rio, Sabtu (22/3/2025).
Rio juga memerintahkan anak buahnya untuk memastikan nominal gaji yang diterima tenaga honorer pendidikan dari Bosda (Bantuan Operasional Sekolah Daerah) dan upah tenaga honorer kesehatan yang diterima dari jasa pelayanan (japel) semanusiawi mungkin.
Rio prihatin saat mengetahui ada guru honorer yang sekian lama dibayar Rp 200 ribu setiap bulan dan tenaga kesehatan menerima upah Rp 400-500 ribu per bulan. “Kalah sama tukang saya, kuli, di rumah yang diupah Rp 90 ribu per hari,” katanya.
“Saya bilang ke semua jajaran. Saya tidak tidak mau lagi melihat ada guru honorer yang digaji di bawah Rp 500 ribu. Saya punya data 1.200 guru honorer itu masih digaji Rp 150 ribu, Rp 200 ribu, Rp 300 ribu,” kata Rio.
Rio menilai ini bentuk ketidakadilan. “Buat saya, itu tidak manusiawi dan tidak beradab,” katanya.
Rio juga minta agar urusan kelayakan gaji tenaga kesehatan bisa diselesaikan tahun ini juga. “(Kalau bilang) gak ada anggarannya, ayo kita buka-bukaan DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran). Kita buka bareng-bareng,” katanya.
“Ada (anggaran) kegiatan-kegiatan Bupati, hapus saja semuanya. Saya tidak butuh pencitraan. Saya tidak tega melihat ribuan orang menangis tiap bulan bertahun-tahun, bahkan ada yang 15 tahun. Tapi kita mengundang musik, kita bikin acara yang itu semuanya bisa kita tekan (anggarannya),” katanya.
Alhasil, selama Ramadan, Rio tidak banyak melakukan kegiatan. Hanya beberapa kali pertemuan dengan warga. “Tahun depan kalau memang sudah beres tuh semuanya, baru kita bikin acara-acara lagi,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Jember ini. [wir]







3 Komentar
Keluhan masyarakat kecil hanya satu. Erikan kemudahan dalam mengurus segala administrasi dan enakan infra struktur jalan. Itu sudah merupakan nilai baiknya bupati dari semua kebaikan yang ada.
Betul skali dan kami mohon juga jgn cm guru dan tenaga kesehatah yg diperjuangkan .. Pekerja honorer dari DAMKAR hrs jg diperhatikan krn mrk juga berjuang jinakkan api, ular, tawon dan binatang buas lainnya. Mon tak esapora bisa2 nyawa jd taruhan.
Honorer DAMKAR JUGA DIPERHATIKAN .. krn mrk bekerja dg sepenuh hati