Jakarta (beritajatim.com) – Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul “From Economy of Occupation to Economy of Genocide” menyoroti keterlibatan sejumlah korporasi internasional dalam mendukung sistem penjajahan Israel di Palestina. Salah satu nama yang muncul adalah Veolia, perusahaan asal Prancis yang kini hadir di Indonesia melalui kerja sama dengan Danone-AQUA dalam pembangunan pabrik daur ulang.
Menurut laporan tersebut, Veolia bukan hanya sekadar berbisnis di Israel, melainkan juga membangun infrastruktur yang memperkuat pendudukan Israel di Palestina. Contohnya, perusahaan ini menggarap proyek Jerusalem Light Rail, jalur kereta yang menghubungkan pemukiman ilegal Israel, serta mengoperasikan bus khusus untuk pemukim di Tepi Barat. Infrastruktur itu dipandang melanggar hukum internasional karena memperkuat sistem pemisahan antara warga Yahudi dan non-Yahudi.
Meski pada 2015 Veolia keluar dari Israel setelah merugi besar akibat kampanye boikot global, jejak keterlibatannya tidak hilang begitu saja. Hingga kini, infrastruktur yang mereka bangun tetap digunakan untuk mendukung sistem penjajahan, sementara perusahaan tersebut tidak pernah mengakui kesalahan atau memberikan kompensasi kepada masyarakat Palestina yang terdampak.
Selain keterlibatan Veolia, catatan lain datang dari Danone. Perusahaan multinasional asal Prancis ini telah lama berhubungan dengan bisnis di Israel. Sejak 1969, Danone bekerja sama dengan Strauss Group, salah satu produsen makanan terbesar di Israel, bahkan sempat memiliki saham di perusahaan tersebut.
Kerja sama Veolia dan Danone di Indonesia, khususnya lewat proyek ramah lingkungan seperti pabrik daur ulang, dipandang sebagian pihak sebagai upaya menutupi rekam jejak kontroversial keduanya.
Dr. Mohamad Mujibur Rohman, pengamat ekonomi syariah dari UIN Jakarta, menilai konsumen perlu mencermati hal ini.
“Uang yang kita keluarkan untuk produk seperti ini bukan sekadar keuntungan bisnis, tapi juga bisa berarti dukungan tidak langsung terhadap penjajahan Israel di Palestina. Jadi ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal keadilan dan kemanusiaan,” ujarnya. [beq]






