Blitar (beritajatim.com) – Hubungan antara Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin dengan Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba belum benar-benar membaik. Sinergi yang harusnya terjalin antara kedua pemimpin tersebut nampaknya masih sulit terlaksana.
Terbaru, keretakan hubungan antara keduanya nampak dalam acara refleksi 1 tahun kepemimpinan Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin. Dalam acara itu kursi Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba, justru tampak kosong.
Absennya sang pendamping ini pun menjadi bola liar di tengah publik, memicu spekulasi kuat bahwa biduk pemerintahan Kota Blitar sedang tidak berjalan seirama atau “pecah kongsi” meski masa jabatan masih 1 tahun.
Kejutan muncul saat Elim Tyu Samba angkat bicara mengenai ketidakhadirannya. Alih-alih alasan sakit atau agenda luar kota, Elim secara gamblang mengaku dirinya sama sekali tidak mendapatkan undangan resmi maupun informasi verbal mengenai acara besar tersebut.
Ironisnya, lokasi acara refleksi itu berada sangat dekat dengan rumah dinas Wakil Wali Kota. Elim mengaku mengetahui adanya keramaian tersebut hanya karena suaranya terdengar hingga ke kediamannya.
“Sebetulnya kami tidak mendapatkan informasi dan tidak menerima undangan, bukan tidak hadir. Saya mengetahui acara ini hanya karena lokasinya yang berdekatan dengan rumah dinas,” ungkap Elim dengan nada tenang namun sarat makna, usai ziarah di Makam Bung Karno bersama petinggi Partai Nasdem, Jumat (6/3/2026).
Saat dikonfirmasi mengenai kondisi hubungannya dengan Wali Kota yang akrab disapa Mas Ibin tersebut, Elim memilih jawaban diplomatis yang justru melempar bola panas kembali ke pihak penyelenggara (protokol/sekretariat daerah).
“Hubungan kami baik-baik saja. Saya rasa ini bisa ditanyakan kepada pihak yang menyelenggarakan acara, mengapa saya tidak diundang,” cetus Elim.
Kritik tajam tersirat muncul saat Elim dimintai tanggapan soal pencapaian satu tahun pemerintahan. Di saat Wali Kota memaparkan tumpukan penghargaan sebagai bukti pondasi kuat pembangunan, Elim justru memberikan catatan kaki yang kontras.
Ia tak segan mengakui adanya tantangan besar, bahkan penurunan kinerja pada beberapa sektor krusial, termasuk penanganan isu stunting.
“Beberapa prestasi mungkin mengalami penurunan, dan ini adalah tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Masyarakat harus terus berperan aktif dalam pengawasan pemerintah,” tegasnya. (owi/ted)






