Mojokerto (beritajatim.com) – Siapa sangka, dari Tanah Kas Desa (TKD) seluas 3.000 m² di Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini bisa menyajikan wisata yang berbeda kepada masyarakat. Bekerja sama dengan BUMDes Balongwono Bina Karya Mandiri, Pemerintah Desa (Pemdes) Balongwono membuka Wisata Petik Melon.
Di awal bulan September 2024 ini, tanaman melon yang ditanam pada bulan Juli 2024 lalu sudah masuk masa panen. Pihak desa membuka event Wisata Petik Melon sejak tanggal 6 sampai 8 September 2024. Event musiman ini dibuka mulai pukul 07.00 WIB sampai 15.00 WIB. Dengan tiket masuk sebesar Rp2 ribu per orang, pengunjung bisa memetik melon sendiri.
Pengunjung dapat berkeliling memilih melon dengan jenis yang diinginkan dan bisa dipetik sendiri. Pada musim tanam tahun ketiga ini, ada dua jenis melon yang ditanam yakni Melon Amanda dan Melon Golden. Rasa buah melon yang manis, kadar air yang pas, dan tekstur buah yang lembut menjadi buruan pengunjung saat event Wisata Petik Melon dibuka.
Ketua BUMDes Balongwono, Herman mengatakan, dari lahan seluas 3.000 m², ada 2.300 tanaman melon yang ditanam. Rata-rata 1 tanaman melon dapat menghasilan 2 sampai 3 buah dengan berat di kisaran 2 kg. “Normalnya estimasi 3,5 sampai 5 ton sekali panen. Tahun ini, jenis Amanda dan Golden tapi untuk Golden sudah habis,” jelasnya, Minggu (8/9/2024).
Dua jenis tersebut dipilih karena rasa manis dan tahan hama. Jenis Amanda di pasaran masih berkisar Rp18 ribu per kg, namun di Wisata Petik Melon Balongwono dijual dengan harga Rp12 ribu per kg. Sementara melon jenis Golden, harga di pasaran mencapai Rp20 ribu per kg, di Wisata Petik Melon Balongwono dijual dengan harga Rp15 ribu per kg.
“Wisata Petik Melon di Balongwono sejak tahun 2021, untuk wisata petik kita buka selama tiga hari. Jika ada sisa dipanggilkan tenggulak. Untuk ukuran memang tidak besar karena masyarakat lebih senang yang segini, tidak terlalu besar. Alhamdulilah, cukup bagus karena melon pangsa pasarnya bagus dan peminatnya juga banyak,” ujarnya.
Pengunjung yang datang ke Wisata Petik Melon Balongwono tidak hanya dari desa sekitar, namun juga dari kecamatan sekitar. Terutama rombongan dari siswa sekolah karena selain pengunjung bisa merasakan sensasi petik melon sendiri juga ada edukasi yang diberikan kepada pengunjung.
“Mulai dari pembibitan sekitar 2,5 bulan. Yang di sebelah utara juga ada, baru berbuah ada 500 tanaman melon kisaran panen di pertengahan Oktober sehingga diharapkan berkelanjutan tidak buka setiap tahun saja. Yang di greenhouse sebelah barat masih proses pembibitan” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Balongwono, Puji Wahyu Ningsi menjelaskan, jika Wisata Petik Melon di Desa Balongwono berada di TKD seluas 3.000 m². “Awalnya desa ada program ketahanan pangan di tahun 2021, saat Covid-19. Dengan melihat potensi yang ada di desa dan di Desa Balongwono hanya ditanam padi, jagung dan palawija,” ungkapnya.
Masih kata Kades, Pemdes Balongwono mencoba menawarkan tanaman melon dan semangka kepada para petani. Tahun 2021, mencoba menanam tanaman melon dengan memberdayakan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Desa Balongwono. Karena saat itu, BUMDes Balongwono Bina Karya Mandiri belum berjalan.
“Ini merupakan tahun ketiga agrowisata melon berjalan di desa kami, tanaman melon ini hanya satu tahun sekali bukan berkelanjutan. Karena kita melihat musim, di tahun awal setelah panen langsung tanam tapi musim penghujan akhirnya kena banjir karena posisi tanah di sini rendah sehingga gagal. Tahun 2022, 2023 kita tanam kembali dan ini tahun ketiga,” katanya.
Di tahun 2024, Pemdes Balongwono menggandeng BUMDes Balongwono Bina Karya Mandiri. Kades menjelaskan, jika awal berdirinya Wisata Petik Melon di Desa Balongwono untuk mengedukasi masyarakat jika di Desa Balongwono tidak hanya bisa ditanam padi, jagung dan palawija namun juga tanaman melon.
“Akhirnya ini menjadi wisata di Desa Balongwono karena tidak hanya dari masyarakat sendiri yang datang tapi juga dari luar desa sehingga Balongwono punya icon. Balongwono di Kecamatan Trowulan tapi jauh dari situs sehingga bagaimana caranya kami Pemdes bisa menggali potensi desa kami untuk menarik wisatawan agar mengenal desa kami,” tuturnya.
Karena saat ini sudah bekerja sama dengan BUMDes Balongwono Bina Karya Mandiri sehingga pihaknya berharap penanaman melon bisa berkelanjutan sehingga Wisata Petik Melon tidak hanya dibuka setahun sekali. Potensi tersebut juga ditangkap sejumlah warga, ada dua warga yang juga menanam melon.
“Yang depan itu juga tanaman melon milik warga. Paling tidak mengedukasi ke warga, tidak hanya padi, jagung dana palawija tapi juga melon. Kita menggali potensi, kita coba semuanya. Kemarin di perikanan depan Balai Desa kita bikin keramba agar warga tidak membuang sampah sembarangan tapi gagal, hanya bertahan setahun,” urainya.
Pemdes Balongwono juga mendapatkan bantuan bibit kelengkeng sebanyak 2.000 bibit yang sudah ditanam di masing-masing rumah warga sehingga pihaknya berharap Desa Balongwono menjadi kampung buah. Sehingga tidak hanya fokus di Dusun Wateslor yang punya Wisata Petik Melon saja.
Sekedar diketahui Desa Balongwono merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Letak geografis desa dengan empat dusun ini berada di perbatasan dengan Kabupaten Jombang. Empat dusun di Desa Balongwono yakni Dusun Balongwono, Wates Lor, Keweden dan Kembang kuning. [tin/aje]
![Desa Balongwono di Mojokerto Ini Tawarkan Sensasi Wisata Petik Melon Salah satu pengunjung di Wisata Petik Melon Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2024/09/VideoCapture_20240908-124608_IbDA6Q7o65-1024x576.jpeg)







