Surabaya (beritajatim.com) – Demo di balai kota Surabaya diwarnai bentrok antara polisi dan mahasiswa, Kamis (31/08/2023) sore. Sejumlah mahasiswa dipukuli oleh polisi usai merusak kawat berduri dan merangsek masuk ke Balai Kota Surabaya.
Pantauan beritajatim.com, bentrok antara polisi dan mahasiswa bermula ketika massa aksi merusak kawat berduri dengan cara ditutupi banner kemudian diinjak. Petugas kepolisian sudah menghimbau agar mahasiswa tidak meneruskan aksinya merusak barikade pemisah. Namun, imbauan petugas tidak dihiraukan.
Alhasil aksi saling dorong sempat terjadi. Tampak dua mahasiswa memaksa menerobos barisan polisi. Sejumlah petugas kepolisian lantas melakukan pemukulan kepada dua mahasiswa yang merangsek masuk. Mahasiswa itu lantas dibawa oleh petugas kepolisian menuju ke arah gedung.
Dihubungi beritajatim.com, Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Haryoko Widhi menjelaskan pihaknya telah melakukan upaya himbauan. Namun, mahasiswa tetap memasak masuk untuk menemui Eri Cahyadi.
“Karena massa merusak kabel kawat berduri dan merangsek masuk. Selain itu Balai Kota kan objek vital tidak semuanya bisa masuk,” ujar Haryoko.
Haryoko mengatakan bahwa petugas kepolisian sempat mengamankan tiga orang dari massa aksi PMII. Namun polisi telah memulangkan ketiganya bersama dengan bubarnya massa aksi.
“Sudah dipulangkan semua mas,” kata Haryoko.
Baca Juga: Arogan ke PMII, Kapolres Tuban Mutasi Kanit Jatanras
Sementar itu, Muhammad Husaini, Ketua Umum PMII Surabaya mengatakan kepada awak media seharusnya Walikota Eri Cahyadi mengkonfirmasi kepada mereka jika memang tidak bisa menemui massa aksi. Hal ini membuat kecewa massa aksi yang membawa sejumlah tuntutan.
“Seandainya bapak Eri Cahyadi tidak mau menemui kita itu konfirmasi kita biar kami bisa menunda kan begitu. Biar ada dialog terbuka,” ujar Muhammad Husaini di lokasi.
Dalam aksinya, Muhammad Husaini membawa beberapa tuntutan aksi. Salah satunya, mencopot kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) karena dianggap telah gagal mengolah sampah dari hulu ke hilir dengan optimal.
“Kita minta Bapak Eri Cahyadi untuk mengevaluasi mencopot DLH (karena) tidak tanggung jawab dalam optimalisasi sampah di Surabaya. Lalu Dirut PD Pasar Surya belum sosialisasi terkait amanat Perwali Nomor 16 tahun 2022 tentang pembatasan sampah plastik,” jelasnya.
Menurut mereka harus ada roadmap pengelolaan sampah dari hulu ke hilir bukan hanya pengangkutan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ia juga menyinggung Eri Cahyadi haris mengevaluasi kontrak kerjasama antara Pemkot Surabaya dan PT Sumber Organik.
Sementara itu, Koordinator aksi Eri Mahmudi mengatakan ada 6 orang yang diamankan. Ia mengancam akan melakukan aksi serupa dengan jumlah massa yang lebih banyak.
“Kita akan turun lagi. Diamankan di dalam 6 orang. Alasan polisi masa tidak bisa dikendalikan,” tutupnya. (ang/ted)






