Blitar (beritajatim.com) – Aksi unjuk rasa atau demo penolakan Undang-undang (UU) TNI di berbagai wilayah seperti Surabaya dan Malang diwarnai kericuhan. Namun hal itu tidak terjadi di Blitar. Ratusan mahasiswa yang menggelar aksi demo penolakan UU TNI justru duduk bareng dengan DPRD hingga polisi.
Tak ada lempar-lemparan batu, tidak ada gas air mata. Aksi unjuk rasa yang digelar di Depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar pun berjalan damai hingga selesai.
Meski di awal sempat ada saling dorong antara polisi dan mahasiswa, namun aksi itu tidak membesar. Para mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) , Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Blitar itu memilih membuka ruang dialog dengan Pimpinan DPRD dan aparat kepolisian.

“Sebenarnya berbicara soal gerakan yang diberikan mahasiswa itu adalah esensinya adalah suara kita bisa terakomodir dengan baik aspirasi kita terakomodir dengan baik, tapi hal ini akan berbeda ketika dewan tidak berlaku kooperatif dengan teman-teman, tapi temen-temen jurnalis juga melihat sendiri teman-teman sudah berusaha merangsek ke dalam karena memang dewan belum bisa keluar sehingga kita terpaksa harus masuk bagaimana kita bisa menyampaikan aspirasi,” kata Ketua DPC GMNI Blitar Vita Nerizza Permai, Senin (24/03/2025).
Ratusan mahasiswa ini pun meminta agar DPRD Kabupaten Blitar untuk menandatangani draft berisi desakan agar pemerintah mau mengeluarkan Perpu untuk membatalkan UU TNI yang telah disahkan. Draft ini pun akan dikawal oleh para mahasiswa hingga tersampaikan ke DPR-RI.
“Untuk perjuangan kita masih belum berhasil karena kita harus sama-sama mengawal kaitannya tentang draft yang harus kita kirim kepada Senayan bahwa tuntutan kami memang harus sampai di DPR-RI sehingga suara-suara bisa didengar bukan hanya di daerah tetapi juga di Nasional,” tegasnya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, M Rifa’i yang menemui mahasiswa pun tidak mempermasalahkan soal aksi ini. Rifa’i pun menegaskan bahwa DPRD Kabupaten Blitar tidak anti kritik dan akan menyalurkan aspirasi dari para mahasiswa ini.
“Dan saya sepakat dengan aksinya teman teman ini, artinya ini kan itu keinginan kita juga untuk menegakkan supremasi hukum kalau aksi itu yang selalu kita siap dan saya rasa teman-teman dewan pun saya pikir juga tidak jadi persoalan,” ungkap Rifa’i. (owi/but)






