Gresik (beritajatim.com) – Masih langkanya minyak goreng (Migor) di pasaran membuat Sutino (59) pengusaha kerupuk asal Desa Putat Lor, Kecamatan Menganti, Gresik memutar otak demi bertahan hidup agar tetap berproduksi.
Lelaki yang sudah 30 tahun menggeluti usaha kerupuk tersebut, terpaksa mengurangi ukuran krupuk menjadi lebih kecil. Langkah ini diambil karena dirinya pontang-panting mencari minyak goreng sampai keluar kota demi kelangsungan hidup usahanya.
Sebab, baru kali ini susah payah mencari minyak goreng yang mengalami kelangkaan. “Saya memiliki puluhan pekerja lah kalau sampai berhenti tidak berproduksi. Mereka kerja apa,” ujar Sutiono, Minggu (27/2/2022).
Dirinya menceritakan, baru kali ini minyak goreng susah dibeli karena langka. Bahkan, agar usahanya tetap berproduksi, kerupuk yang diproduksinya dicampur dengan tepung tapioka yang harganya turut naik.
“Biasanya saat berproduksi menghabiskan minyak goreng 180 kilogram dengan harga Rp 12 ribu per liter. Sekarang harga minyak goreng Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu per liternya. Dikalikan saja berapa setiap harinya. Ini belum ditambah langkanya minyak goreng di pasaran,” paparnya.
Langkanya minyak goreng kata dia, juga diikuti bahan baku pembuatan krupuk. Tepung tapioka yang biasanya Rp 500 ribu persak kini malah naik menjadi Rp 900 ribu per saknya. Untuk menyiasati hal ini, Sutino mencari tepung tapioka dari Kediri dan Jawa Tengah.
[berita-terkait number=”5″ tag=”minyak-goreng”]
Namun, usahanya masih tetap rugi. Meski sudah mengurangi ukuran kerupuk menjadi lebih kecil. “Kondisi yang saya alami masih lebih baik. Pasalnya, produsen kerupuk rumahan di Menganti sudah ada yang gulung tikar karena tak mampu berproduksi,” akunya.
Menghadapi situasi yang serba sulit ini, Sutino berharap pemerintah membantu para pengusaha kerupuk seperti dirinya. Utamanya bisa lebih mudah mendapatkan minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu perliter yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau tetap sulit yang tinggal menghitung hari saja. Tapi kalau bisa jangan sampai satu persatu usaha krupuk mengalami gulung tikar,” pungkas Sutino. [dny/suf]






