Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin anda pernah menemui orang-ornag jenis seperti ini. Mereka yang merasa sebagai pusat dari dunia. Merasa bahwa dunia seluruhnya berputar di sekeliling mereka. Orang-orang ini disebut mengalami delusi keagungan. Merasa bahwa mereka adalah orang spesial dan berbeda dari orang lain.
Ciri yang mudah dikenali dari orang yang mengalami delusi ini adalah sering sombong dan sesumbar. Mereka suka sekali menceritakan prestasi dan pencapaiannya ketika bertemu dengan teman, tetangga, bahkan orang yang baru dikenal.
Seperti dilansir dari Boldsky, Kamis (7/10/2021) delusi keagungan dapat membuat penderitanya memiliki kelainan mental seperti gangguan bipolar, demensia atau skizofrenia. Melansir dari salah satu sumber, sebuah studi tahun 2006 menemukan fakta bahwa orang yang sombong dan tinggi hati lebih cenderung mengalami delusi keagungan.
Gejala delusi keagungan juga membuat pasiennya percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak nyata. Melansir WebMD, Beberapa peneliti percaya bahwa delusi keagungan terjadi pada mereka yang mengalami peristiwa traumatis di masa kanak-kanak. Hal ini akhirnya mengembangkan pandangan yang berlebihan tentang diri mereka sendiri sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Faktor penyebab
Selain traumatis di masa kanak-kanak beberapa faktor yang menyebabkan delusi keagungan yakni depresi kronis, gangguan stres pasca-trauma, halusinasi pendengaran, kepribadian narsistik, gangguan demensia dan delirium. Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang menyebabkan gejala ini bisa terjadi yakni, pengaruh obat-obatan terlarang seperti kokain dan ganja, kurangnya hubungan sosial ketidakseimbangan neurotransmiter otak, serta adanya cedera otak.
Gejala
Seseorang dengan delusi keagungan mungkin terlihat normal. Tetapi jika delusi mereka cukup parah, mungkin ia bisa menjadi terobsesi hingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Biasanya, delusi tersebut muncul dari salah tafsir atau melebih-lebihkan perasaan dan pengalaman nyata. Misalnya, mereka mungkin menganggap tatapan polos orang asing sebagai ancaman.
Kasus ini juga bisa menyebabkan penderitanya halusinasi. Keadaan ini membuat mereka bisa melihat, mendengar, atau merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Mereka yang menderita delusi keagungan biasanya merasa jengkel atau sedih ketika orang menolak untuk menerima delusi mereka.
Orang-orang dengan delusi keagungan juga biasanya kesulitan dalam menjalin pertemanan atau hubungan karena delusi berlebihan mereka. Selain itu mereka juga memaksa atau melakukan upaya terus-menerus untuk membuat orang percaya pada delusi palsu mereka. [rsf/tur]






