Mencintai Persebaya membutuhkan ketabahan. Andai kesabaran diganjar pahala, maka semua Bonek bisa berharap: bahwa mencintai Persebaya kelak bisa mengantarkan mereka ke surga. Amin.
Tentu saja sepak bola tak ada urusan dengan surga dan neraka. Namun tingkat kesabaran para pendukung Persebaya menerima lima hasil pertandingan terakhir tim berjuluk Bajul Ijo sudah setara dengan kesabaran para sufi. Tidak adanya aksi kekerasan sebagai ekspresi kekecewaan sebagaimana ditunjukkan Bonek pada musim-musim sebelumnya, membuat orang mulai menduga: para Bonek tengah menjalankan laku ahimsa sebagaimana ditunjukkan Mahatma Gandhi.
Namun begitulah. Krisis musim ini adalah krisis terberat sejak 2017. Bukan saja karena repetisi hasil buruk berkali-kali, namun juga karena Persebaya seolah sudah pada titik tidak tahu hendak melakukan apa lagi. Lima pertandingan terakhir tanpa kemenangan, dan empat di antaranya berujung kekalahan.
Setelah mengalahkan Arema Malang 3-1 di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Persebaya bermain imbang 1-1 dengan Dewa United, dan kalah masing-masing dari Persib (2-3), Bali United (1-3), Persik (0-4), dan Barito Putra (0-2). Hanya mencetak 4 gol dan kebobolan 13 gol dalam lima pertandingan terakhir menunjukkan bahwa tak ada kabar baik dari semua lini Persebaya.
Pertandingan ke-18 menghadapi Barito Putra di Stadion Demang Lehman, Banjarmasin, Kamis (9/11/2023), sama kacaunya dengan pertandingan sebelumnya. Gol Barito yang dicetak Mike Ott pada menit 33 dan Renan Alves pada menit 80 membuat orang bertanya-tanya: bagaimana sebenarnya sesi latihan Persebaya selama ini. Para pemain seperti kehilangan akal mencari jalan untuk menjebol gawang Barito yang dijaga Ega Rizky.
Gol pertama Barito juga membuat Bonek geleng-geleng kepala sambil menggerutu: ngunu tok? Begitu saja? Betapa tidak, bola yang ditanduk Gustavo Tocantins dari sebuah duel di udara langsung jatuh di kaki Ott yang tak terkawal. Kadek Raditya kalah berduel, dan tak bisa mencegah Ott melepaskan tembakan ke sudut kanan gawang Ernando.
Garis pertahanan tinggi yang diterapkan Persebaya terbukti tak efektif, karena para pemain tak mampu menghadapi kecepatan pemain lawan. Beruntung, para pemain Barito tak cukup klinis dalam menyelesaikan serangan.
Gol kedua Barito diawali Bagas Kaffa yang berhasil melewati tiga pemain Persebaya. Operan bola dari Bagas diakhiri dengan tembakan mendatar Renan dari luar kotak penalti. Gol.
Sebelum pertandingan melawan Persebaya, catatan Barito dalam tujuh pertandingan terakhir sebenarnya sangat buruk. Mereka hanya mengemas lima hasil seri dan dua kekalahan. Sebagaimana Persebaya, Tim Seribu Sungai sedang paceklik.
Mereka beruntung menghadapi tim dengan performa yang sedang menurun tajam. Pemain-pemain baru Persebaya, Yan Victor, Waskito Chandra, Alfan Suaib tak banyak mendongkrak permainan Bajul Ijo. Tidak ada keajaiban bagi Persebaya. Kekalahan ini menempatkan Persebaya di posisi ke-12 dengan 22 poin. Semakin jauh dari posisi keempat yang menjadi posisi terakhir dalam klasemen untuk mengikuti babak play-off.
Uston Nawawi yang diangkat kembali menjadi caretaker pelatih menggantikan Gombau berjanji akan segera kembali ke jalur kemenangan. “Kami akan mengganti poin di laga-laga selanjutnya,” katanya.
Musim lalu, Persebaya mengalami hasil buruk dari lima pertandingan beruntun jelang berakhirnya kompetisi. Mereka menuai dua hasil seri dan tiga kekalahan. Namun saat itu pertandingan yang mereka jalani sudah tak menentukan. Juara susah digapai, degradasi ditiadakan. Kekalahan beruntun tak mengacaukan mental. Pertandingan terakhir melawan Dewa United berujung kemenangan 3-0.
Musim ini berbeda. Kekalahan harus ditangani dengan benar. Dalam pidato perayaan pensiunnya di Stadion Old Trafford pada 2013, pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, mengatakan dengan lantang: sejarah klub tidak hanya dibangun dengan deretan kemenangan brilian. “Even the defeats are all part of this great football club of ours,” katanya.
Menghadapi kekalahan adalah bagian dari strategi tim. Kekalahan bukan untuk dilupakan. Justru dari kekalahan, manusia belajar banyak. Rene Meulensteen, mantan asisten Ferguson, dalam pengantar buku Even the Defeats: How Sir Alex Ferguson Used Setbacks to Inspire Manchester United’s Greatest Triumphs karya John Silk, mengatakan, ada tiga fase menangani kekalahan.
Pertama, fase setelah pertandingan. Fergie akan berpidato barang tiga sampai lima menit. Tak lebih. Dia akan berkata kurang lebih: ‘Kita bermain bagus, kalian tidak mendapatkan hasil seharusnya’, atau ‘Ini tidak cukup, kalian harus tingkatkan’.
Fase kedua, adalah saat Fergie menenangkan dirinya. Jumpa pers adalah momentum untuk melindungi para pemain. “Dia akan menyalahkan pemain, media, atau menyalahkan suhu secangkir teh yang disajikan saat jeda permainan. Apapun dilakukannya untuk membela pemainnya,” kata jurnalis Henry Winter.
Bagi banyak fans tim lawan, kelakuan Ferguson jelas menyebalkan. Tapi itu sejatinya yang dilakukan pelatih-pelatih berkarakter, macam Jurgen Klopp. Ketika Liverpool kalah, Klopp sering melontarkan pernyataan-pernyataan ajaib. Satu pernyataan legendarisnya adalah soal perlunya pertandingan Liverpool melawan Tottenham Hotspur diulang, karena gol sah Luis Diaz dianulir oleh sistem VAR yang macet.
Setelah menghadapi media massa dalam sesi konferensi pers, Ferguson akan balik ke kamar ganti dan diam. Merenung. “Pemain dan staf bisa melihat sebuah kekalahan melukainya saat itu,” kata Meulensteen.
Fase ketiga adalah fase yang menarik. Dia akan mengundang pelatih tim lawan ke ruang kerjanya dan bercengkerama sembari menikmati wine. Mereka melupakan apa yang terjadi dalam pertandingan, dan saling melontarkan lelucon.
Namun yang terpenting dari semua itu, Ferguson selalu punya rencana jelas untuk bangkit kembali. Setelah kalah 1-5 dari Manchester City di Stadion Maine Road pada 1989, ia pulang dan tidur dengan bantal menutupi kepalanya. “Ini momen paling memalukan dalam karir saya,” katanya.
Tak cukup menutup kepala dengan bantal, Ferguson mempertanyakan banyak hal. “Apakah saya melakukan kesalahan? Saya yakin latihan selama ini baik-baik saja dan semuanya fit. Menganalisis seleksi tim, persiapan sebelum pertandingan dan taktik saya, tak ada kesalahan besar. Saya sudah bekerja keras agar kecemasan saya tak terjadi.”
John Silk menyebut: ‘What Ferguson did so brilliantly was pinpointing the mistakes rather than overreacting and trying to correct something that didn’t need to be fixed’. Alih-alih bersikap berlebihan dan mengoreksi sesuatu yang tak perlu dibenahi, ia lebih memilih untuk memilah kesalahan-kesalahan yang terjadi.
Pep Lijnders dalam buku Intensity: Inside The Luverpool FC menegaskan perlunya kemampuan mengidentifikasi penyebab kekalahan. “How can you play like this when you train like that? Something we did wasn’t right and we had to find out quickly,” tulisnya.
Mental tentu jadi kunci. Manajemen dan jajaran pelatih harus mereparasi mental pemain yang dihantam kekalahan. Harapan klise yang memang begitulah semestinya. Dan semua harus berawal dari sosok manajer dan pelatih. Seorang pelatih atau manajer sepatutnya meletakkan dirinya di depan saat gagal, dan berada di belakang saat berhasil.
Dari aspek pembenahan mental ini, Jurgen Klopp adalah sosok visioner dan motivator hebat. Kekalahan 0-1 dari Real Madrid di final Liga Champions 2022 memukul mental pemain Liverpool. Pelatih Jerman itu menjadi orang pertama yang mengambil tanggung jawab itu: “Kita akan kembali lagi. Saya berjanji kepada kalian”.
Menurut Lijnders, karakter pelatih menjadi karakter sebuah tim. “No written word, no spoken plea, can teach our team what they should be, nor all the books on the shelves, it’s what the coach is himself.”
Lijnders mengatakan, seorang pemain dibentuk lingkungan klubnya. Ketika seorang pemain tidak bisa tampil maksimal dan menunjukkan potensi terbaiknya, maka ada yang perlu dipertanyakan dan dikoreksi di klub tersebut. Pertanyaan ini yang kemudian dilontarkan terhadap Persebaya oleh Dianita Iuschinta, anggota Bonek Writers Forum yang juga praktisi psikologi.
“Sebenarnya ‘Ayang‘ ini punya sistem tidak sih di dalam? Maksudnya, jika memang ada sosok leader di dalam tim, tapi jika tidak dibantu dengan sistem yang solid, apakah leader itu akan sanggup? Sementara kelihatannya tim pelatih saat ini tidak menegakkan aturan yang bisa mendukung kebersamaan tim,” kata Dianita. Ia selalu menyebut Persebaya dengan panggilan kesayangan ‘Ayang’.
Dianita menyarankan manajemen berfokus memperbaiki kekompakan tim lebih dulu, dengan memberikan pemahaman kepada pemain, bahwa tindakan individu akan berkonsekuensi terhadap tim keseluruhan. “Sesegera mungkin hadirkan konselor atau psikolog, untuk membereskan masalah psikis setiap pemain,” kata perempuan asli Gresik ini.
Dan Dianita mungkin adalah sosok pendukung dengan kesabaran setingkat ahli tasawuf. Bukannya menghujani pemain dengan hujatan di media sosial, ia justru memprakarsai patungan untuk mengirimkan karangan bunga berisi rangkaian kalimat motivasi nan jenaka kepada Persebaya. Mereka menamakan diri Bonekmania Arus Postive Vibes, Bonek Bonita Wani Awayday Wedi Luwe, atau ‘Yang Mencintaimu dengan Ugal-ugalan’.
‘Dear Green Force, kalau aku disuruh menghujatmu saat kau terpuruk, aku mau ke kelurahan dulu minta surat keterangan tidak mampu’.
‘Nek wedi, ojo wani-wani! Nek wani, ojo wedi-wedi! Iki Persebaya, Satu Nyali! Wani!’
‘Sehancur apapun hati kami saat ini, tak pernah terlintas sedikit pun untuk pergi dari kalian. Bajol Ijoku, kami tunggu comebacknya di putaran kedua’.
Karangan bunga ini adalah ikhtiar Dianita dan kawan-kawan untuk menciptakan rasa nyaman kepada para pemain. “Dalam kondisi drop, tim pasti butuh perhatian, biar dropnya tidak berlarut-larut. Bagaimanapun karena sistem kompetisi begini, mereka harus cepat pulih meski sempat terbanting keras,” katanya.
Tan Malaka mengatakan, ‘terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk’ untuk menggambarkan beratnya sebuah perjuangan mencapai tujuan. Mungkin itu yang saat ini dialami Persebaya. Terbanting, terbanting, terbanting, dan melenting. Sebuah proses yang membutuhkan ketabahan, karena meminjam kata-kata Ferguson: bahkan kekalahan adalah bagian dari sejarah kebesaran sebuah klub sepak bola. Seperti Persebaya. [wir]
Catatan
Pertandingan melawan Barito Putra adalah pertandingan pekan ke-19, setelah pertandingan pekan ke-18 melawan Persis Solo di Surabaya dtunda karena bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia U17 di Gelora Bung Tomo. Pertandingan pekan ke-18 baru akan digelar pada 13 Desember 2023.






